Tasawuf dan Sejarahnya

  1. Pengertian Tasawuf

Tasawuf berasal dari bahasa arab yaitu ( صَا في) yang berarti suci. Orang-orang sufi adalah orang yang menyucikan dirinya dari hal-hal yang bersifat keduniawian dan mereka lakukan melalui latihan yang berat dan lama. Mereka adalah orang yang disucikan.

Menurut Ma’ruf al-Kurhi, tasawuf adalah berpegang pada apa yang hakiki dan menjauhi sifat tamak terhadap apa yang ada pada manusia.

Abu Ya’qub al-Susi menjelaskan bahwa sufi adalah orang yang tidak merasa sukar dengan hal-hal yang terjadi pada dirinya dan tidak mengikuti keinginan hawa nafsu.

Kemudian definisi tasawuf berkembang yang dikemukakan oleh Dzu al-Nun al-Mishri tasawuf adalah usaha mengalahkan segalanya untuk memilih Allah, sehingga Allah pun akan memilih seorang sufi dan mengalahkan segala sesuatu. Dari definisi ini pembahasan tasawuf mulai memasuki wilayah cinta illahi yang dikenal dengan mahabbat. Orang sufi adalah orang yang mencintai Allah Swt. sampai mengalahkan segalanya.

 

 

  1. Sejarah Perkembangan Tasawuf
  2. Pada Zaman Nabi

Kegiatan tasawuf itu sudah dilakukan Nabi dari sebelum Nabi di angkat menjadi Rasul, kegiatan tasawuf Nabi yang telah dilakukan Nabi pada zaman dulu secara berulang-ulang yaitu pergi ke Gua Hiro. Tujuan Nabi pergi ke Gua Hiro yang paling utama yaitu mengasingkan diri dari Kota Mekah karena di Kota Mekah banyak orang yang menyembah berhala, selain itu Nabi juga mempunyai tujuan lain yaitu merenungkan diri untuk mencari kebenaran dan melakukan banyak berpuasa dan beribadah sehingga jiwanya menjadi suci.

Pola kehidupan Rasul dan sahabatnya itu tidak bertumpu pada nilai material dan nilai yang bersifat duniawi, contohnya mencari kekayaan dunia. Pola kehidupan Rasul dan sahabatnya itu bertumpu pada nilai ibadah, contohnya mencari keridhoan Allah Swt. Akhlak mereka demikian tinggi, patuh, dan taat kepada Allah Swt. Pola hidup Nabi dan sahabatnya yang terpuji adalah sebagai berikut :

  1. Tidak mementingkan keduniaan.
  2. Menerima apa adanya.
  3. Senantiasa menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
  4. Tetap beribadah.
  5. Sangat cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, melebihi rasa cinta kepada dirinya dan makhluk lain.
  6. Mengabdikan diri kepada Allah.

Sikap hidup Rasul dan sahabatnya itu diikuti oleh kaum sufi dan menjadi sikap hidup orang-orang sufi. Hakikat tasawuf itu mencari jalan untuk memperoleh kesempurnaan hidup rohani. Untuk memperoleh itu tidak mudah, semua itu membutuhkan proses, kadang proses itu cukup lama.

Seseorang tidak bisa memahami tasawuf kecuali sesudah roh dan jiwanya menjadi kuat, karna dengan kuatnya maka seseorang dapat melepaskan dirinya dari kemegahan duniawi. Dari ketidakpuasan merasakan nikmatnya keindahan duniawi menuju dunia gaib itu ibarat kekaguman seorang anak kecil tentang benda-benda yang terdapat pada alam sekelilingnya. Semua yang dilihan pada awalnya itu hebat, tetapi karena seiring berjalannya perkembangan jiwanya meningkat, maka apa yang tadinya dilihatnya hebat menjadi kecil dan remeh. Maka mereka meninggalkan benda yang semula dilihatnya hebat dan kemudian menjadi dirlihatnya remeh itu, dan kemudian mereka mencari benda-benda yang baru, yang dapat menjadikannya puas.

Cara hidup Nabi di Gua Hiro itu merupakan gambarn lengkap bagi kehidupan sufi. Renungan Nabi di Gua Hiro membawa untuk merasakan kebesaran dan keagungan Allah, di tempat yang sunyi sepi itu juga Nabi menjauhkan ingatan dari semua makhluk, hanya saatu yang di ingatnya yakni Allah Swt.

Sesudah menjadi Rasul, Rasulullah meneruskan pendekatan diri kepada Allah dengan berdzikir, istighfar, sholat tahajud sampai jauh malam. Dan memperkuat batinnya dengan menjalani hidup kerohanian.

 

  1. Zaman Sesudah Nabi

Setelah Nabi Muhammad wafat, kepemimpinannya diteruskan oleh para sahabatnya yaitu Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Meskipun mereka menjadi pemimpin tapi mereka tetap hidup sederhana tidak mencerminkan hidup berkemewahan, tidak seperti seorang raja pada umumnya.

Contoh yang pertama dari Abu Bakar yang hidup secara  sederhana, beliau hanya hidup dengan sehelai kain. Pandangan hidup beliau bahwa sifat dermawan itu merupakan buah dari taqwa, kekayaan itu merupakan buah dari keyakinan, dan martabat itu didapat sebagai buah dari tawadhu. Kemudian dari Umar bin Khatab yang memiliki jiwa bersih dan kesucian rohani yang tinggi, meskipun beliau mempunyai pangkat yang tinggi menjadi seorang khalifah tapi tidak mengurangi nilai kehidupan rohaninya tapi beliau malah semakin meningkatkan kerohaniannya. Kemudian Usman bin Affan, beliau adalah seorang khalifah yang mempunyai banyak harta tetapi beliau ttetap hidup secara sederhana. Harta beliau digunakan untuk membantu yang lemah dan untuk memperjuangkan pengembangan agama islam. Beliau juga terkenal sebagai orang yang senantiasa membaca dan menelaah Al-quran. yang terakhir khalifah Ali bin Abi Thalib tidak kurang ketinggian kehidupan rohaniny. Dalam melaksanakan tugasnya beliau tidak peduli bahwa pakaian yang digunakan itu robek, lalu beliau sendiri yang menembel baju itu.

 

 

 

sumber

Hidayat, nur.2013.akhlak tasawuf.Yogyakarta. Ombak(anggota IKAPI).

Rusli, Ris’an. 2013.tasawuf dan tarekat.Jakarta. RajaGrafindo persada.

 

Nama : Kholifatul Rohmah

Kelas : C

Prodi : Ekonomi Syariah

NPM :1702040042

 

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *