MUQAMAT DAN AHWAL

 

 

Muqamat jamak dari kata “maqam” yang berarti tahap-tahap perjalanan atau bisa di bilang sebagai “stasiun” dimana pada saat dalam perjalanan kereta api di mulai dari start kemudian sampai finish sebagai tujuan akhir kehidupan manusia (Allah). Dapat dikatakan pula pengertian muqamat (tingkatan) adalah tingkatan seorang hamba dihadapan-Nya, dalam hal ibadah dan latihan-latihan jiwa yang dilakukanya.

 

Sedangkan ahwal (keadaan) bentuk jamak dari “hal” yang artinya keadaan mental yang dialami oleh para sufi  sela-sela perjalanan spiritualnya. Ahwal diperoleh secara spontan dan berlangsung sebentar dan diperoleh tidak berdasarkan usaha yang dilakukan dengan perjuangan keras. Adanya muqamat dan ahwal ini diduga muncul pada abad ke 1 hijriyah dan tepatnya di diperkenalkan oleh Ali bin Abi Thalib.

 

Muqamat dibagi menjadi tiga versi yaitu Al-Kalabadzi, Al-Qusyairi dan Al-Ghazali.

Dalam hal ini penulis mengambil versi dari Al- Ghazali, dimana nama lengkapnya adalah Hamid Muhammad al- Ghazali, Beliau merupakan pengarang buku yang terkenal Ihya Ulum al-Din. Beliau lahir di Thus. Dalam versi ini muqamat dibagi menjadi tujuh yang meliputi:

  • Tobat (Al-Taubah) adalah penyesalan, manusia menyesali perbuatan dosa yang dilakukan pada masa lalunya dimana tujuan-nya untuk kembali ke asal penciptaan. Tobat ini dilakukan dengan perubahan menjadi lebih baik dibanding dengan saat itu. Dalam aquran pun dijelaskan tentang bagaimana Alloh mencintai manusia yang bertaubat dan mensucikan diri (QS. Al-Baqarah: 222)
  • Sabar (Al- Shabr) adalah ketabahan dan ketegaran yang dimiliki oleh seseorang dalam menjalani beban yang menimpanya dan dapat pula diartikan suatu sifat mawas diri yang harus dimiliki oleh setiap individu. Dijelaskan pula dalam Al-Quran bahwa Alloh menyuruh hamba untuk selalu sabar dalam menjalani kehidupannya (QS. Al- Baqarah: 153)
  • Kefakiran (Al- Faqr) adalah ketersediaan apa yang dibutuhkan oleh seseorang atau sesuatu baik itu harta atau kekayaan untuk memenuhi kehidupannya.
  • Zuhud (Al- Zuhd) adalah meninggalkan sementara kepentingan dunia untuk menjalan perintah Alloh atau memenuhi kebutuhan akhirat kelak. Tidak ada perbedaan antara kemiskinan dan kekayaan, kemuliaan dan kehinaan, pujian dan celaan karena berhubungan dengan Alloh.
  • Tawakal (Al- Tawakkul) adalah menyerahkan urusan hanya kepada Alloh SWT dalam menghadapi dan menunggu hasil suatu pekejaan. Dalam hal ini tercantum dalam QS. At- Thalaq: 3
  • Cinta Ilahi (Al- Mahabbah) adalah orang yang mencintai Alloh dalam setiap jalan hidupnya. Dalam hal ini Alloh lah yang paling berhak dicintai karena berkat-Nya lah manusia itu ada, dan diciptakan manusia berpasang- pasangan untuk saling mengenal.

Dari hal diatas kita bisa menyimpulkan bahwa sebaik- baiknya manusia adalah yang selalu mencintai Alloh bukan mencintai lawan jenis karena yang menurut kita baik belum tentu baik juga bagi Alloh.

  • Rida (Al- Ridha) adalah menerima dengan rasa puas terhadap apa yang telah diberikan oleh Alloh untuk kita, baik itu cobaan ataupun kebahagiaan. Jika manusia diberikan musibah maka di dalam rida ini musibah tersebut dapat diubah menjadi kegembiraan dan kenikmatan jika ditanggapi dengan pemikiran yang positif.

 

Al – Ahwal disini dibagi menjadi enam yang meliputi:

  • Ma’rifah berarti mengetahui Alloh dari dekat dimana kita selalu merasa di hati sanubari kita dapat melihat Alloh SWT. Dalam kaum Sufi orang yang menerima ma’rifat disebut sebagai Sir.
  • Khauf adalah dimana manusia merasa takut kepada Alloh karena merasam khawatir kurang sempurna dalam menjalani perintah-Nya. Dimana perasaan ini timbul karena takut terhadap siksa Alloh kepada hamba yang lalai.
  • Roja berarti sikap mental yang selalu optimis dalam memperoleh karunia dan nikmat Ilahi yang diberikan kepada hamba yang sholeh. Telah dijelaskan pula dalam QS. Al- Baqarah: 218 bahwa manusia itu mengharapkan rahmat Alloh.
  • Syauq berarti rasa rindu, dalam hal ini timbul karena adanya mahabbah (rasa cinta), karena setiap orang yang cinta kepada sesuatu tentu akan merindukannya.
  • Uns adalah keadaan dimana segenap jiwa dan raganya terpusat penuh kepada satu titik yaitu Alloh SWT.
  • Yaqin perpaduan antara pengetahuan dan rasa cinta yang diperoleh secara langsung. Pengetahuan ini didapat dari akal pikiran yang dimiliki manusia itu sendiri.

 

 

 

Referensi

Hadi, Mukhtar. Memahami Ilmu Tasawuf. Jojakarta: Aura Media. 2009

Kartanegara, Mulyadhi. Menyelami Lubuk Tasawuf. Jakarta: Erlangga. 2006

Munir, Samsul. Ilmu Tasawuf. Jakarta: Amzah. 2012

 

 

 

 

 

Nama                    : WIWIK MUJIATI

NPM                      : 1702040100

Kelas                     : C ESY

 

 

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *