Maqamat dalam Tasawuf

Maqamat berasal dari kata maqam yang berarti tingkatan, persinggahan, kedudukan, letak atau posisi seorang hamba dalam pandangan tuhanya. Maqam merupakan seberapa dekat hati seorang hamba dengan tuhanya. Maqamat adalah kedudukan seorang hamba dalam pandangan tuhan, seperti riyadhah (melatih diri dalam beribadah yang berupa dzikir thariqah dengan berbagai memperbanyak berbagai macam amalan amalan) dan ibadah.

Ahwal berasal dari bahasa arab yaitu “haalun” yang berarti kondisi. Ahwal adalah bagaimana cara seorang hamba mendekatkan dirinya kepada tuhanya, ahwal bersifat dinamis, artinya manusia melalui berbagai macam tahapan untuk bisa sampai pada tingkatan yang paling tinggi, yaitu tingkatan yang sangat dekat dengan tuhanya.maqamat dan ahwal merupakan tahapan tahapan yang mesti dilalui oleh calon sufi agar lebih dekat dengan tuhanya.. tingkatan tingkatan (maqamat) yang harus dilalui oleh seorang salik menurut sufi terdiri dari berbagai macam tahapan. Masing masing maqam ini mengarah pada peningkatan secara tertib dari satu maqam ke maqam lainya..adapun tingkatan atau maqam yang di maksud adalah:

Taubat

Maqam pertama yang harus ditempuh oleh seorang salik adalah taubat, taubat merupakan penyucian diri seorang hamba dari dosa dosa yang pernah mengotori jiwanya…taubat merupakan awal dari semua maqamat yang dilalui oleh seorang salik yang kedudukanya laksana pondasi yang menguatkan bangunan.. tanpa pondasi bangunan tidak akan bisa berdiri, begitu juga dengan maqamat, tanpa penyucian jiwa dari seorang salik, seorang salik tidak akan bisa dekat dengan tuhanya .. taubat seorang salik harus taubatan nasuha, artinya salik berjanji tidak akan pernah mengulangi perbuatan perbuatanya yang terdahulu yang pernah dia lakukan sebelum bertaubat dan seorang salik harus memiliki kepercayaan bahwa tuhan adalah dzat yang maha pemaaf, dia akan mengampuni segala dosa dosa seorang hambanya, tidak memandang seberapa pun besar dan banyak dosa seorang hamba tersebut..

Wara’

Tingkatan yang kedua adalah wara’ yaitu meninggalkan segala sesuatu yang belum jelas halal haramnya (syubhat), seorang salik hendaknya tidak hidup secara sembarangan, ia harus menjaga ucapan, perbuatan, dan segala aktivitasnya sehari hari dari hal hal yang tidak bermanfaat..ia juga tidak boleh mengkonsumsi makanan yang belum jelas kehalalan atau keharamanya..selanjutnya adalah zuhud, zuhud adalah keadaan seorang salik yang meninggalkan sifat sifat duniawi, pada tahapan ini seorang salik hatinya sudah tidak terikat lagi dengan kepentingan dunia, ia sudah terfokus pada kepentingan akhiratnya. Baginya kehidupan didunia ini adalah kehidupan yang fana, tidak kekal..kehidupan akhirat merupakan prioritas utamanya karena kehidupan akhirat adalah kehidupan yang abadi setelah manusia pergi meninggalkan dunia. Setelah meninggalkan kehidupan dunia, seorang salik akan mengosongkan pikiran dan hatinya dari hal apa saja selain urusanya dengan tuhan, dia sudah tidak lagi membutuhkan apa apa, yang dia butuhkan hanyalah tuhanya sebagai kebutuhan yang hakiki.

Kemudian setelah berhasil mengosongkan hatinya, seorang salik akan menahan dirinya dan mengendalikan hawa nafsunya dari hal hal yang tidak ada kaitanya dengan tuhan, dia akan tabah dan sabar dalam menghadapi segala macam problema dalam kehidupanya. Dia akan pasrah menyerahkan segala urusanya kepada tuhanya, yang berarti ia berlaku tawakal yang merupakan tahapan yang di lalui oleh seorang salik setelah berlaku sabar. Seorang salik akan ridho terhadap hidupnya sendiri, dia akan menerima segala sesuatu dalam hidupnya dengan lapang dada.

Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih kepada Bpk Nasruddin, M.H yang dalam satu semester ini telah meluangkan waktunya untuk mengajar kami mata kuliah akhlak tasawuf. saya  mendapatkan banyak manfaat untuk menambah wawasan keilmuan saya khususnya tentang ilmu akhlak dan tasawuf, yang berguna bagi saya untuk memperbaiki diri saya yang masih jauh dari seorang manusia yang berprilaku baik. Tetapi saya terus memperbaiki diri agar menjadi seorang insan yang mulia di hadapan Allah SWT. Saya baru mengetahui ternyata untuk mendekatkan diri dengan tuhan ada beberapa tingkatan dan tahapan yang harus dilalui oleh seorang hamba untuk lebih dekat dengan tuhanya. Melalui mata kuliah bapak, saya jadi paham dan mengerti bahwa hakikat kita hidup di dunia ini adalah untuk mendekatkan diri kepada tuhan seperti dengan mengikuti tarekat, mujahadah, manaqib, dan lain lain. Pengetahuan saya tentang tarekat lebih banyak setelah saya belajar kepada bapak meskipun saya belum mengikuti tarekat. Semoga saya mendapat barokah ilmu dan bisa mengamalkan apa yang telah saya peroleh dari ilmu yang telah bapak berikan kepada kami.

Nama                                : Hakim Muhibuddin

Npm                                 :  1704040192

Jurusan /kelas/semester    : Ekonomi Syariah/D/1

Mata kuliah                       : Akhlak Tasawuf

Dosen                                : Bpk. Nasruddin, M.H

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *