Maqamat dan Ahwal dalam Tasawuf Islam

AHWAL DAN MAQAMAT

  1. Maqamat

Secara epistimologis maqamat adalah bentuk jamak dari maqam yang berarti kedudukan,posisi,tingkatan(station) atau kedudukan dan tahapan dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Maqam yang artinya “tempat berdiri” dalam terminologi sufistik berarti tempat atau martabat seseorang hamba di hadapan Allah pada saat ia berdiri menghadap kepada-Nya.

Maqamat merupakan proses training melatih diri dalam hidup kerohanian (riyadhah),memerangi hawa nafsu (mujahadah) dan melepaskan kegiatan dunia untuk semata mata berbakti kepada Allah .

Menurut Al-Qusyairi dalam magnum opusnya menjabarkan maqamat dalam taubat ,wara’,zuhud,tawakkal,shabar,dan ridha.

Maqam maqam itu harus di lalui oleh seorang salik dengan setahap demi setahap .maqam demi maqam.menurut seorang arif,mencapai suatu maqam dengan tidak melalui maqam sebelumnya merupakan sesuatu yang tidak mungkin.sesuatu yang menyulitkan adalah bahwa ulama sufi berbeda dalam mengkrontuksi urut urutan maqam dalam tasawuf .

Secara historis konsep maqamat dan ahwal di duga muncul pertama kali pada abad pertama hijriah .sosok yang memperkenalkan kedua term tersebut adalah Ali bin abi thalib.hal ini dapat di telusuri ketika para sahabat berkonsultasi tentang iman kepadanya .dia menjawab bahwa iman itu adalah bersumber pada empat fondasi yaitu sabar ,adil,dan jihad, dan masing masing fondasi tersebut mempunyai sepuluh tingkatan maqam .

Adapun perbedaan maqam dan hal,secara normatif adalah pertama,merupakan hasil usaha serius dan intensif sesorang dan yang kedua merupakan dari pemberian dan anugerah Allah semata.

 

  1. Ahwal

Ahwal adalah bentuk jamak dari hal yang biasanya di artikan sebagai keadaan mental yang di alami oleh para sufi di sela sela perjalanan spiritualnya. Hal ini merupakan anugerah dan rahmat dari Tuhan.

Al-sarraj ,sebagai sufi terdahulu memandang bahwa ahwal adalah “ apa-apa yang bersemayam di dalam kalbu dengan sebab zikir yang tulus”

Kendatipun kondisi aau sikap mental itu semata anugerah Allah, bukan karena latihan dan perjuangan,namun bagi setiap orang yang ingin meningkatkan intensitas jiwanya haruslah berusaha menjadikan dirinya orang yang berhak menerima anugerah Allah tersebut ,yaitu dengan meningkatkan amal perbuatannya,baik dari segi kualitas maupun dari segi kuantitasnya.

Di lihat dari segi sejarahnya ,konsep tentang ahwal dan maqamat sesungguhnya telah ada pada masa awal awal islam .tokoh pertama yang berbicara tentang dua konsep penting dalam tasawuf yaitu Ali bin Abi Thalib ketika ia di tanya tentang imam ,ia menjawab bahwa iman di bangun atas empat pondasi kesabaran (shabr),keyakinan (yaqin),keadilan (‘adl) dan perjuangan (jihad).senada dengan pandangan ini,tokoh pertama yang juga membahas tentang ahwal adalah zunnun al-mishri (w.796 m-861 m) sementara sari al-saqati (w.253 H/867 M) merupakan sufi pertama yang menyusun maqamat dan menjelaskan tentang ahwal .

Abu Nasr as-Sarraj mengemukakan adanya 10 ahwal ,yaitu :

a.muraqabah yaitu usaha merasakan kedekatan kepada dengan Allah SWT atau merasa di awasi oleh  Allah SWT

b.qurb yaitu dekat dengan Allah SWT

c.muhabbah yaitu cinta kepada Allah SWT

d.khawf  yaitu takut kepada Allah SWT

e.raja’ yaitu berharap kepada Allah SWT

f.swaq yaitu rindu kepada Allah SWT

g.uns yaitu merasa gembira dalam ingat kepada Allah SWT

h.tuma’ninah yaitu merasa tentram dalam ingat kepada Allah

i.musyahadah yaitu menyaksikan dengan hati kepada Allah SWT

j.yaqin yaitu percaya yang sesungguhnya kepada Allah SWT

meskipun hal merupakan kondisi yang bersifat karunia (mawahib) namun seseorang yang ingin memperolehnya tetap harus melalui upaya dengan memperbanyak amal baik atau ibadah .

 

Kamus ilmu tasawuf , Drs. Totok jumantoro, M.A. dan  Drs. Samsul munir amin, M. Ag.

 

Nama           : Muhammad Asfi’a udin

Kelas           : Ekonomi Syari’ah “c”

Npm            : 1704040139

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *