Kasih Sayang Rasulullah yang Tak Tertandingi

Maimunah binti Harits RA nama aslinya adalah Barrah, nama Maimunah diberikan Rasulullah SAW setelah beliau menikahinya. Menurut sebagian riwayat, sebelumnya ia telah menikah dua kali, salah satunya dengan Abu Rahn bin Abdul Uzza. Setelah menjadi janda, ia menyerahkan urusannya kepada Abbas, suami saudaranya. Nabi melaksanakan salah satu perjanjian hudaibiyah (Umrah Wadha) pada tahun 7 hijriyah. Beliau tinggal selama tiga hari dan kaum muslimin bebas melaksanakan aktivitas dan ibadah seperti di Madinah. Karena penduduk Makkah tinggal di luar kota.

Dan keadaan itu menarik orang Makkah sehingga kemudian memeluk agama Islam, dan salah satunya adalah Barrah. Karena keislamannya, Abbas menemui Rasulullah SAW, dan meminta beliau untuk bersedia menikahi Barrah. Dan ternyata rasulullah menyetujui permintaan pamannya ini, dan memberikan mas kawin sebesar 400 dirham. Setelah tiga hari di makkah, Suhail bin Amr dan Huwaithib bin Abdul Uzza datang meminta Rasulullah dan rombongan Madinah untuk segera meningalkan Makkah.

Akhirnya  rombongan dari Madinah keluar dari kota Makkah dan menetap selama beberapa hari di suatu tempat yang bernama Sarif. Beliau meninggalkan pembantunya, Abu Rafi’ RA di Makkah, untuk diminta membawa Maimunah menyusul rombongan Nabi SAW. Ketika  mereka berdua sampai di Sarif, pernikahan pun dilangsungkan, dan beliau menganti nama Barrah menjadi Maimunah. Maimunah menikah dengan Nabi SAW pada bulan Dzulqaidah tahun 7 hijriyah, ketika itu ia berusia 26 tahun.

Ibnu Abbas RA bercerita : “Aku menginap di rumah bibiku Maimunah (istri Rasulullah SAW), maka Rasulullah SAW berbincag-bincang dengan istrinya (Maimunah) beberapa lama kemudian beliau tidur”. (HR. Bukhari no. 1665 dan Muslim no. 763)

Itulah potret indah Akhlak Rasulullah SAW kepada Maimunah. Hadist di atas mengisyaratkan bahwa rumah tangga yang harmonis terwujud manakala terjadi komunikasi yang baik antar anggota keluarga. Suami yang baik adalah lelaki yang meluangkan waktuya untuk berbincang dengan istri seputar hal yang bermanfaat baik dalam urusan dunia ataupun akhirat. Pasangan suami istri yang tidak pernah berbagi cerita, tidak pernah berkomunikasi, tentu saja akan merasakan kekeringan dan kekakuan dalam rumah tangga. Bahkan tidak sedikit terjadi pertengkaran karena sering salah faham dan tidak terbuka antar pasangan, atau masing-masing sibuk sendiri dengan kerja dan aktivitasnya.

Suatu ketika, Maimunah memerdekaan budak perempuannya, tapi ia lupa tidak meminta izin pada Nabi SAW. Saat itu memang bukan gilirannya di datangi beliau, sementara itu niatnya memerdekakan sangatlah kuat, sehingga dengan spontan saja dia melakukannya. Ketika tiba giliran Nabi SAW mengunjunginya, ia berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah,apakah tuan telah merasa bahwa saya telah memerdekakan budak perempuan saya?””Apakah engkau telah melakukannya?” tanya Nabi SAW.”Sudah..!!” kata Maimunah.

Nabi SAW selalu memotivasi siapapun, terlebih kepada istri-istri dan saudara dekatnya untuk tidak menunda-nunda jika ingin berbuat kebaikan. Dalam kasus ini beliau melihat ada manfaat yang lebih besar dari apa yang dilakukan Maimunah, yakni membantu meringankan beban kerabatnya. Beliau bersabda, “Seandainya budak tersebut engkau berikan kepada bibimu, niscaya engkau memeroleh pahala yang lebih besar…!!!”

Referensi : Gufron, Ibnu. 2012. “Maimunah binti Harits RA”, http://percikkisahsahabat.blogspot.co.id

Nama : Ela Nur’aini Adiningsih

NPM  : 1704040126

Kelas : Esy D Semester 1

Yang Tak Kalah Menarik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *