Perkara-Perkara yang Bisa Membatalkan Niat

Perkara-Perkara Yang Bisa Membatalkan Niat

Dalam hal ini maka Segala macam hal itu harus sesuai dengan niatnya. (Djazuli, 2010:36) Niat adalah kehendak hati untuk taat kepada perintah Allah untuk melakukan sesuatu perbuatan bersamaan dengan pelaksanaannya. Setiap amal perbuatan harus ada niat dan tidak ada amal perbuatan tanpa niat. (Washil dan Azzam diterjemahkan oleh setiawan, 2009:29)

Tidak ada pahala selain dengan niat.

Dari kaidah tersebut dapat disimpulkan bahwa, selama perbuatan-perbuatan itu tidak dianggap baik tanpa niat dari pelakunya, maka perbuatan itu tidak akan memperoleh pahala selama tidak diniatkan dengan baik. Ketetapan ini telah disepakati oleh seluruh ulama. Mengenai sahnya amal perbuatan, ada yang disepakati oleh para ulama bahwa niat itu sebagai syarat, seperti sholat dan tayammum. Dan ada juga yang masih diperselisihkan, seperti niat di dalam wudhu. Ulama syafi’iyah dan Malikiyah menganggap niat itu sebagai fardu, ulama Hanabilah menganggap hal ini sebagai syarat sahnya, sedangkan ulama hanafiyah menetapkan sebagai sunnah muakkad. Maknanya adalah jika dengan niat, wudhunya merupakan ibadah yang mendapatkan pahala, jika tidak maka tidak mendapatkan pahala, sekalipun sholatnya sah juga. Kesukaran yang berlebih-lebihan yang dimaksudkan untuk menambah pahala, justru tidak akan dipahalai. Tetapi yang dipahalai adalah kesukaran yang lazim dalam melakukan amal itu.

Dalam amal yang disyariatkan menyatakan niat, maka kekeliruan pernyataannya membatalkan amalnya.

Misalnya kekeliruan menyatakan niat:
1. Dalam sholat zhuhur dengan sholat asar.
2. Dalam sholat idul fitri dengan idul adha. Lihat khutbah idul fitri.
3. Dalam sholat rawatib zhuhur dengan rawatib ashar.
4. Dalam sholat dua rakaat ihram dengan dua rakaat tawaf dan sebaliknya.
5. Dalam puasa arafah dengan puasa asyura, dan sebagainya.

Menjadikan tidak sahnya amal perbuatan yang dilakukan disebabkan oleh masing-masing dari perbuatan itu dituntut adanya pernyataan niat untuk membedakan ibadah yang satu dengan lainnya.

Perbuatan yang secara keseluruhan diharuskan niat tetapi secara terperinci diharuskan menyatakan niatnya, maka bila dinyatakan niatnya dan ternyata keliru, berbahaya.

Misalnya: seseorang sholat jenazah menyatakan niat untuk 10 orang, padahal jenazahnya lebih dari 10 orang. Maka sholatnya harus diulang, sebab masih ada beberapa jenazah yang tidak disholatkan. (Yahya dan Rahman, 1993:492-494)

Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa, apabila kita melakukan perbuatan-perbuatan atau amalan-amalan tanpa adanya niat maka perbuatan yang kita lakukan akan sia-sia. Dan apabila kita niat tidak sesuai dengan apa yang semestinya maka apa yang kita lakukan itu tidak sah atau batal.

 

Daftar pustaka
Djazuli, H.A. 2010. Ilmu Fiqh. Jakarta: Kencana.
Washil, Nashr Farid Muhammad. Azzam, Abdul Aziz Muhammad. Diterjemahkan oleh Setiawan, Wahyu. 2009. Qawaid Fiqhiyyah. Jakarta: Amzah.
Yahya, Mukhtar dan Rahman, Fatchur. 1993. Dasar-Dasar Pembinaan Hukum Fiqh Islami. Bandung: PT. Al-Ma’arif.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *