Peran Qawaid Dalam Ilmu Fikih

Peran qawaid fiqhiyyah dalam ilmu fikih dapat dibedakan menjadi dua, yaitu : dalil pelengkap dan dalil mandiri. Dalil pelengkap yaitu bahwa dalil yang bersumber dari kaidah fiqhiyyah dapat di gunakan setelah menggunakan dua dalil pokok yaitu al-quran dan sunnah sedangkan yang di maksud dalil mandiri adalah bahwa kaidah fiqh di gunakan sebagai dalil hukum yang berdiri sendiri, tanpa menggunakan dua dalil pokok.

Kaidah fiqh yang di anggap sebagai dalil pelengkap ini, tidak ada ulama yang memperdebatkannya dan mereka berpendapat tentnag kebolehan menjadikan kaidah fiqh sebagai dalil pelengkap. Tetapi dalam pengertian tentang kaidah fiqh sebagai dalil mandiri, sebagai ulama berbeda pendapat. Imam Al-Haramain al-Juwaini berpendapat bahwa kaidah fiqh boleh di jadiakn sebagai dalil mandiri, karena di anggap sebagai upaya untuk mempermudah dalam memahami beberapa ayat al-quran dan sunnah. Oleh karena itu, seriap kaidah memiliki pengecualian-pengecualian. Karena memiliki pengecualian yang kita tidak mengetahui secara pasti pengecualian-pengecualian tersebut, kaidah fiqh tidak di jadikan sebagai dalil yang berdiri sendiri merupakan jalan keluar yang sangat baik.

Jadi atas dasar ini lah al-hamawi berpendapat untuk menolak menjadikan kaidah fiqh sebagai dalil hukum mandiri, karena bisa saja persoalan-persoalan yang sedang di putuskan hukumnya termasuk pada kelompok pengecualian. Adapun kegunaan kaidah fiqh adalah :

  • Mempermudah dalam menguasai materi hukum
  • Kaidah merupakan alat pembantu dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang di perdebatkan
  • Mendidik orang yang berbakat fikih dalam melakukan analogi dalam mengetahui hukum terhadap permasalahan baru
  • Mempermudah orang dalam memahami bagian-bagian hukum
  • Sebagai upaya dalam pengembangan hukum ( takhrij ) dan mengupayakan pilihan hukum ( tarjih )
  • Seperti dijelaskan sebelumnya bahwasanya sumber pembentukan kaidah fiqhiyyah adalah dari al-quran atau al-sunnah-ushul al-fiqh-fiqh-kiadah fiqhiyah. Namun dalam pengambilan hukum dalam suatu masalah tetntunya harus merujuk terlebih dahulu kepada al-quran dan al-sunnah. Menurut sebagian ulama tidak semua kaidah fiqhiyyah dapat di jadiakn dalil. Seperti ketika meneliti beberapa masalah yang di ungkapakan atau di daarkan pada kesempulan dari ulama fiqh, karena mengeluarkan metode dengan sistem seperti itu tidak dapat di jamin kebenarannya dan kaidah itu hanya di jadiakan sebagai penguat saja.

 

(Perada, Peran Kaidah Fiqhiyyah Terhadap Kebijakan Pemerintah Dalam Penetapan Satu Ramadhan dan Satu Syawal di Indonesia: 2008 ) hal 41-44

 

Daftar Rujukan :

Wahyu Ridas Perada, Peran Kaidah Fiqhiyyah Terhadap Kebijakan Pemerintah Dalam Penetapan Satu Ramadhan dan Satu Syawal di Indonesia.(Jakarta:2008).hal 41-44

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *