Pentingnya Ta’yin dalam Niat

Secara etimologi kata niat dengan tasyid pada huruf  ya adalah bentuk madshdar dari kata kerja yang mempunyai arti maksud  (al_qashad)

Menurut abdurahman al-jaziri yang dimaksud dengan niat adalah ketetapan hati untuk dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah semata atau dapat pula diartikan dengan al-irodah al-qowiyah (keinginan yang kiuat)

Al-Sayuthi menjelaskan bahwa dalam fi qh, niat diperlukan dalam rangka membedakan antara ibadah dan kebiasaan, Misalnya, niat akan dapat membedakan antara melaksanakan wudhu atau mandi junub, dengan sekadar mengguyur air pada tubuh untuk menyegarkan dan membersihkan badan. Niat juga membedakan antara duduk istirahat di masjid dengan duduk i’tikaf. Niat membedakan antara zakat, sedekah dan hadiah atau sogok. Sebaliknya, niat tidak diperlukan jika suatu ibadah tidak samar perbedaannya dengan kebiasaan lain. Misalnya, membaca Alqur’an dan berdzikir tetap sah tanpa didahului niat.

Apakah ta’yin, yakni menentukan kekhususan suatu ibadah, hukumnya wajib dalam niat? Menurut al-Sayuthi, kadang ta’yin wajib, kadang tidak, tergantung kepada jenis ibadahnya. Untuk kasus shalat, misalnya, ta’yin dalam arti menentukan shalat apa yang akan dikerjakan, hukumnya wajib, karena shalat itu ada bermacam-macam. Namun untuk shalat sunnah tahiyyat al-masjid, ulama membolehkan tanpa ta’yin. Selain itu, ta’yin yang rinci sekali tidak diperlukan. Misalnya dalam berniat shalat, orang tidak perlu menyebutkan secara khusus tempat, waktu, nama imamnya atau nama-nama ma’mumnya. Ta’yin yang rinci bahkan dapat membuat shalat tidak sah. Misalnya si A berniat menjadi makmum si B, ternyata imamnya adalah C, maka shalat A tidak sah.

Apakah niat itu termasuk rukun atau hanya syarat bagi suatu perbuatan? Menurut al-Sayuthi, kebanyakan ulama berpendapat niat termasuk rukun. Tetapi bagi Abu al-Thayyib dan Ibn al-Shabbagh, niat termasuk syarat. Jika tidak, maka niat akan memerlukan niat lagi. Sebagai jalan tengah, al-Sayuthi mengatakan, jika keabsahan suatu perbuatan tergantung niat, maka kedudukan niat adalah rukun. Sedangkan jika suatu perbuatan tetap sah tanpa niat, tetapi akan berpahala jika disertai niat, maka dalam hal ini kedudukan niat adalah sebagai syarat.

Syrat niat ada empat syarat. Pertama, beragama Islam, Syarat kedua adalah tamyiz, yakni secara umum dapat membedakan antara yang baik dan buruk, Ketiga, mengerti dengan apa yang diniatkan Keempat, tidak mendatangkan sesuatu yang berlawanan dengan niat (Mujiburrahman,2011)

Daftar pustaka

KANZ PHILOSOPHIA, Volume I, Number 2, August-December 2011

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *