Keyakinan Hanya Dapat Digugurkan oleh Keyakinan Lain

Keyakinan dan keraguan adalah dua hal yang berbeda, bahkan bisa dikatakan berlawanan. Hanya saja, besarnya keyakinan dan keraguan akan bervariasi tergantung lemah-kuatnya tarikan yang satu dangan yang lain. Kaidah yang berkaitan dengan hal ini ialah:

اَلْيَقِيْنُ لاَ يُزَالُ باِلشَّكِّ

“Keyakinan tidak dapat dihapus dengan keraguan.”

 

Dasar-dasar Kaidah

Kaidah tentang keyakinan dan keraguan berdasarkan kepada beberapa buah hadits. Antara lain hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW. bersabda:

اِذَاوَجَدَأَحَدُكُمْ فِى بَطْنِه شَيْئًا فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْئٌ أَمْ لاَ, لاَ يَخْرُجَّنَ مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْيَجِدَ رِيْحًا

Artinya: “Apabila salah seorang dari kamu mendapatkan sesuatu di dalam perutnya, lalu timbul keraguan apakah sesuatu itu keluar dari perut atau tidak, maka janganlah keluar dari mesjid, sehingga ia mendengar suaranya atau mencium baunya.”

Hadits tersebut menunjukkan adanya keraguan bagi yang sedang sahalat atau menunggu (duduk di masjid) untuk melaksanakan shalat berjamaah. Secara logika, orang tersebut dalam keadaan suci (sudah berwudhu). Dan orang tersebut ragu-ragu apakah ia telah mengeluarkan angin atau tidak, maka ia harus dianggap masih dalam keadaan suci. Karena keadaan inilah yang sudah meyakinkan tentang kesuciannya sejak semula, sedang keraguanya baru timbul kemudian. Oleh karena itu, orang tersebut tidak perlu berwudhu lagi sebelum mendapatkan bukti berupa bunyi atau baunya. (Asjmuni A. Rahman, Kaidah-kaidah Fiqih (Qawai’idul Fiqhiyyah), Jakarta: Bulan Bintang, 1976).

Dan sabda Rasulullah di lain tempat berbunyi:

 

إِذَاشَكَّ أَحَدُ كُمْ فِىْ صَلاَ تِهِ فَلَمْ يَدْرِكَمْ صَلَّى أَثَلاَ ثًا أَمْ أَرْبَعَةً فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلىَ مَا اسْتَيْقَنَ.

Artinya: “Apabila salah seorang kamu meragukan shalatnya, lalu ia tidak mengetahui berapa raka’at yang telah dikerjakan, tiga atau empat, maka hendaklah dilempar yag meragukan itu dan dibinalah menurut apa yang diyakinkan.” (HR. Muslim).

Hadits tersebut memberi isyarat bahwa dua buah hitungan yag diragukan mana yang benar, agar ditetapkan hitungan yang terkecillah yang memberikan keyakinan. Sebab dalam menghitung sebelum sampai ke hitungan yang besar pastilah melalui hitungan yang lebih kecil terlebih dahulu, karena yang kecil (sedikit) itulah yang sudah meyakinkan.

Dalil ‘aqli (akal) bagi kaidah keyakinan dan keraguan adalah bahwa keyakinan lebih kuat dari pada keraguan, karena dalam keyakinan terdapat hukum qath’i yang meyakinkan. Atas dasar petimbangan itulah bisa dikatakan bahwa keyakinan tidak boleh dirusak oleh keraguan. (Jaih Mubarok, Kaidah Fiqh: Sejarah dan Kidah Asasi, Jakarta: Rajawali Pers, 2002).

 

Kaidah-kaidah Turunan

Muhammad Shidqi Ibn Ahmad al-Burnu menjelaskan bahwa kaidah al-yaqin la yazalu bi al-syak adalah bersumber dari Abu Hanifah. Zaid al-Dabusi dalam kitab Ta’sis al-Nazhar menyatakan bahwa:

الاصل عند ابي حنيفة انه متى عرف ثبوت الشيء من طريق الا حا طة وتيقن لا ي معنى كان فهو على ذلك مالم يتيقن بخلافه.

“Menurut Abu Hanifah, sesuatu yang ditetapkan dengan cara penelitian dari segala segi dan meyakinkan dari seluruh seginya, hukumnya ditetapkan berdasarkan penelitian tersebut sebelum terdapat bukti kuat yang mengingkarinya.”

 

Berikut ini merupakan kaidah lanjutan dari kaidah induk di atas:

Kaidah pertama:

اَلْأَصْلُ بَقَآءُ مَا كاَنَ عَلى مَا كَا نَ.

“Menurut dasar yang asli memberlakukan keadaan semula atas keadaan yang ada sekarang.”

 

Penjelasan:

Sesuatu yang hukumnya ditetapkan pada masa lalu – dibolehkan atau dilarang – tetap pada ketetapan tersebut dan tidak berubah sebelum ada dalil yang merubahnya.

 

Contohnya:

Orang yang yakin telah bersuci dan ragu tentag hadas yang menimpanya, maka dia masih dalam keadaan suci.

Orang yang yakin bahwa ia berhadas, dan ragu tentang keabsahan bersuci yang telah ia lakukan, maka ia masih berhadas.

Seseorang hendak puasa Ramadhan. Ia makan sahur di akhir malam dengan dicekam rasa ragu-ragu, jangan-jangan waktu fajar sudah tiba. Maka puasa orang tadi tetap sah, sebab menurut dasar yang asli diberlakukan keadaan waktunya masih malam, dan bukan waktu fajar. (Mun’im A. Sirry, Sejarah Fiqih Islam: Sebuah Pengantar, Surabaya: Risalah Gusti, 1995).

Dengan demikian keyakinan tidak dapat digugurkan dengan keraguan, melainkan keyakinan hanya bisa digugurkan dengan keyakinan yang lain.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Asjmuni A. Rahman, Kaidah-kaidah Fiqih (Qawai’idul Fiqhiyyah), Jakarta: Bulan Bintang, 1976.

Jaih Mubarok, Kaidah Fiqh: Sejarah dan Kidah Asasi, Jakarta: Rajawali Pers, 2002.

Mun’im A. Sirry, Sejarah Fiqih Islam: Sebuah Pengantar, Surabaya: Risalah Gusti, 1995.

 

NAMA            : LINDA FITRIANI

PRODI            : HUKUM EKONOMI SYARIAH

NPM               : 1502090150

 

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *