Hukum Asal adalah Tiada Perbuatan

 

Hukum asal tiadanya pekerjaan/اَلْأَ صْلُ عَدَمُ الْفِعْلِ merupakan kaidah furu’ dari kaidah fiqh Al-yaqin La Yazulu Bisyakki/ اَلْيَقِيْنُ لَا يُزَالُ بِا لشَّكِّ. Kaidah fiqh menurut Hasbi Ash-Shiddieqy adalah kaidah-kaidah hukum yang bersifat kulliyah yang dipetik dari dalil-dalil kulliy/ayat-ayat dan hadits-hadits yang menjadi pokok kaidah-kaidah kulliyah yang dapat disesuaikan dengan banyak juz’iyah. (Hasbi Ash-Shiddieqy, 1980: 132). Kaidah fiqh Al-yaqin La Yazulu Bisyakki/ اَلْيَقِيْنُ لَا يُزَالُ بِا لشَّكِّ adalah kaidah yang mendasarkan bahwa hukum yang sudah berlandaskan keyakinan tidak dapat di pengaruhi oleh keraguan yang timbul kemudian. Rasa ragu yang merupakan unsur eksternal dan muncul setelah keyakinan tidak akan menghilangkan hukum yakin yang telah ada sebelumnya. Seseorang yang sebelumnya telah yakin bahwa dia berada dalam kondisi suci dengan berwudhu misalnya tidak akan hilang hukum kesuciannya disebabkan munculnya keraguan setelah itu. Karena sebelum keraguan itu timbul, dia telah meyakini kebsahan tharah yang telah dilakukan.

Kaidah Al-yaqin La Yazulu Bisyakki/ اَلْيَقِيْنُ لَا يُزَالُ بِا لشَّكِّ memiliki beberapa kaidah furu’ salah satunya adalah hukum asal tiadanya pekerjaan/اَلْأَ صْلُ عَدَمُ الْفِعْلِ. Hukum asal tiadanya pekerjaan/اَلْأَ صْلُ عَدَمُ الْفِعْلِ menjelaskan bahwa pada dasarnya setiap orang mukallaf dinilai belum melakukan sebuah pekerjaan, sebelum pekerjaan tersebut sudah benar-benar wujud secara nyata dan di yakini keberadaannya. Seperti seseorang yang merasakan keraguan dalam shalat shubuh, apakah ia telah mengerjakan qunut atau tidak, maka ia dianjurkan melakukan sujud sahwi, karena hukum asalnya dia tidak mengerjakan qunut. Selain itu, dalam kaidah ini juga tercangkup kaidah lain yang memiliki ‘nafas’ senada dengan kaidah diatas, yaitu  “seseorang yang telah yakin melakukan suatu perbuatan tetapi masih ragu, apakah yang dia kerjakan adalah bilangan yang lebih banyak atau sedikit, maka hendaknya ia memilih bilangan yang sedikit, karena bilangan minimal ini sudah pasti dikerjakan. Contohnya suami yang menceraikan istrinya kemudian ada keraguan apakah ia telah menjatuhkan dua atau tiga talak?. Maka yang dijadikan pijakan hukum adalah bilangan talak yang lebih sedikit, karena yang lebih sedikit adalah bilangan yang diyakini sudah dilakukan. (Abdul Haq dkk, 2017: 150-151).

Dalam beberapa buku, kaidah hukum asal tiadanya pekerjaan/اَلْأَ صْلُ عَدَمُ الْفِعْلِ dianggap senada dengan kaidah hukum asal adalah ketiadaan/ اَلْأَ صْلُ اَلْعَدَمُatau lebih jelas lagi dengan kaidah اَلْأَصْلُ فِي الصِفَاتِ اَلْعَرِضَةِ الْعَدَمُ/hukum asal pada sifat-sifat yang datang kemudian adalah tidak ada. (Ahmad Djazuli, 2007: 49). Yang dimaksud sifat اَلْعَرِضَةِ/aridlah ialah sifat yang tidak terdapat pada asal mulanya. Jika dalam suatu perkara terdapat keraguan karena adanya sifat seperti aridhah, maka ditetapkan hukum sebaimana hukum asalnya, yakni bahwa sifat itu dianggap tidak ada. Contohnya dalam akad jual beli apabila terjadi suatu perselisihan antara kedua belah pihak, dimana satu pihak mengatakan bahwa akad jual beli yang diadakan itu digantungkan dengan syarat tertentu, sedangkan pihak lain mengatakan sebaliknya yaitu bahwa akad jual beli itu tanpa digantungkan dengan syarat. Dalam sengketa ini, dibenarkan adalah pihak yang mengatakan bahwa akad jual beli tanpa digantungkan dengan syarat, karena penggantungan terhadap syarat adalah sifat yang datang kemudian, dan menurut kaidah اَلْأَصْلُ فِي الصِفَاتِ اَلْعَرِضَةِ الْعَدَمُ adalah tidak ada.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ash-Shiddieqy, Hasbi. 1980. Pengantar Hukum Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

Djazuli, Ahmad. 2007. Kaidah-kaidah Fikih (Kaidah-kaidah Hukum Islam dalam Menyelesaikan Masalah-masalah yang Praktis). Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Haq, Abdul dkk. 2017. Formulasi Nalar Fiqh. Cetakan VI. Surabaya: Khalista Surabaya.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *