Haruskah Niat Diucapkan?

Niat secara etimologi adalah sebuah kesengajaan. Menurut Syariat adalah ketetapan hati untuk melakukan sebuah tujan. Namun menurut istilah fiqih, niat adalah kesengajaan melakukan sesuatn yang dilakukan bersamaan dengan pelaksanaannya. (Haq, dkk. 2017:96)

Dalam Fath al-Bari karya Hajar al-Asqalani yang ada dalam hadist ‘innama al-a’ mal bi al-niyyat’, Terdapat kata al-niyyah dalam arti hadis ini menggunakan kata benda, padahal bahwasanya al-niyyat menggunakan arti yang bermasuk jamak. Menurut Al-Suyuti dalam buku Formulasi Nalar Fiqih latar belakang sebuah niat terdapat dalam hati. Maka dengan itu layak menggunakan kata benda tunggal karena perkerjaan dalam hal ibadah hanya ada satu, yaitu niat.

Beda lagi dengan  penggunana kata al-a’mall yang masukan jamak atau banyak. Kenapa demikian? Karena dalam artian al-a’mall yang berbetuk jamak dapat dilihat karena aktifitas yang dilakukan organ manusia sebagai dari pelaku pekerjaan tersebut sangatlah banyak. Oleh karena itu bisa diartikan dalam hadist itu mengapa bisa dianggap banyak, bahwasanya amalan yang dilakukan oleh anggota tubuh itu tidak hanya niatnya saja. (Haq, dkk. 2017:100-101)

Jumhur Fuqaha bersepakat kecuali mereka yang dinukilkan oleh Mawadi yang mewajibkan al-talaffuzh dan kemudian melemahkannya. Bahwa jika sesorang mengucapkan niat di dalam hatinya tanpa dilafatzkan atau diucapkan secara lisan itu diperbolehkan. Pada saat berniat seseorang tersebut telah menanamkan atau mendoktrin hatinya untuk melakukan sebuah perbuatan yang sudah diniatinya tersebut. Hal ini dibandang lebih utama dari pada pelafana dengan mengucapkan “aku berniat” (Washil, 2009:37)

Niat itu menetukan bahwa apakah sebuah perbuatan di anggap atau tidak dia anggap, di anggap dari niatnya bukan dari lahiriahnya. Yang dimaksud dianggap di sini yaitu dianggap di mata Allah bukan di mata manusaia, karena dianggap di mata manusaia itu tetap di mana lahiriahnya. Sebagai contoh sesorang melakukan shalat tetapi di dalam hatinya dia melakukan gerakan senam, orang lain mengira dia melakukan gerakan shalat. Namun di mata Allah dia melakukan senam karena di dalam hatinya dia berniat untuk senam bukan untuk melakukan shalat. Pahala yang dia dapat hanya sebatas niat tersebut, dan dia tidak mendapakan pahala untuk akhiratnya.

Terlepas sebuah niat itu diucapkan atau tidak, tergantung dari substansinya dia niat kepada siapa. Jika manusia melakukan kegiatan yang menuju sebuah hubungan antara manusia dengan Allah maka niat itu bisatidak diucapkan (dilafalkan), niat tersebut cukup di dalam hati. Karna Allah dapat mendengar apa yang kita ucapkan walau dalam hati. Berbeda lagi jika niat tersebut untuk suatu hubungan atara manusia dengan manusaia lainnya. Niat tersebut wajib diucapkan (dilafakan).

Karna niat tersebut bisa menjadi sebuah janji untuk orang lain. Hubungan antara manusa dengan manusia yang dipegang adalah niat atau janji yang orang tersebut telah ucapkan bukan niat yang ada dalam hati mereka. Seperti contoh si A berniat meminjam uang ke pada si B padahal dalam hati si A ingin meminta uang tersebut. Dalam hal ini selamanya niat yang dinilai adalah si A meminjam ke pada si B, bukan si A meminta ke pada si B. Pada dasarnya manusia itu tidak bisa mengerti hati manusia lainnya.

 

Daftar Rujukan

Haq, Abdul “Formulasi Nalar Fiqih”, cet.VI, 2017 Surabaya: Khalista.

Washil, Nashr Farid Muhammad “Qwaid Fiqhiyyah”, cet.I, 2009 jakarta: Sinar Grafika Offset

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *