Syarat-Syarat Pelaksanaan Niat

Dari referensi yang saya dapat, niat diperlukan dalam rangka membedakan antara ibadah dengan kebiasaann. Dengan itu syarat- syarat dalam pelaksanaan niat yaitu:

1. ta’yin (menentukan kekhususan suatu ibadah)
2. ta’arrudh (menyebutkan fardhu (wajib) atau sunnahnya suatu perbuatan
3. niat diperlukan penegasan bahwa niat tersebut dibayar tunai atau bayar hutang. (Mujiburrahman,2011: 220)

Dari refrensi tersebut yang dimaksud dengan ta’yin merupakan suatu tindakan yang wajib dan kadang tidak wajib, hal tersebut tergantung dengan jenis ibadahnya. Misalnya dalam salat, menentukan salat apa yang mau kita kerjakan merupakan hal yang wajib karena salat ada bermacam-macam yaitu salat Jumat, salat subuh, salat zuhur, salat asar, salat maghrib, salat isya’ dan lain-lain. Namun dalam salat tahiyyat al-masjid diperbolehkan dalam salatnya tanpa ta’yin. Dalam ta’yin tidak diperbolehkan dengan rinci karena apabila seseorang niat ta’yin namun niat ta’yin yang ia ucapkan tidak sesuai dengan apa yang ia ucapkan maka dalam salatnya ia tidak sah.

Dalam melakukan niat ta’arrudh merupakan suatu hal yang wajib dilaksanakan apabila melaksanakan salat. Karena dalam salat ada bermacam-macam yaitu ada yang wajib dan ada yang sunnah. Namun apabila melakukan suatu yang lain tidak harus melakukan niat ta’arrudh dan tidak diperbolehkan pula menegaskan suatu perbuatan dengan fardhu’ ain (kewajiban pribadi) dan fardhu kifayah (kewajiban kolektif) dalam niat.

Dalam niat diperlukan penegasan tunai atau hutang ada perbedaan dua pendapat yaitu pendapat yang diharuskan berniat untuk utang atau tunai dan pendapat hanya wajib untuk niat berhutang, karena apabila suatu hal yang tunai merupakan hal atau perbuatan yang sudah jelas waktunya. Dan utang merupakan suatu hal yang harus dibayar pada lain waktu yang dikarenakan seseorang yang tidak dapat melaksanakannya pada waktu yang telah ditentukan.

Menurut referensi yang saya dapat ada empat syarat sahnya pelaksanaan niat yaitu:
1. Beragama islam.
2. Tamyiz.
3. Mengerti dengan apa yang diniatkan.
4. Tidak mendatangkan sesuatu yang berlawanan dengan niat. (Mujiburrahman, 2011: 221)

Niat diharuskan hanya orang yang beragama islam karena niat orang kafir itu tidak sah.

Tamyiz yaitu dapat membedakan antara mana yang baik dan mana yang buruk. Maksudnya bila niat seorang anak yang masih bayi ataupun belum baligh dan juga orang gila merupakan tidak sah. Hal tersebut dapat dikatakan tidak sah karena suatu tindak perbuatan dan niat seseorang yang tidak mengerti apa yang ia lakukan dan mengerti tindakan yang ia lakukan. Dan bila dilihat dari nalar, dapat dibedakan dimana yang dapat dikatakan sebagai niat atau hanya suatu perbuatan saja.

Mengerti apa yang di niatkan maksudnya yaitu bila seseorang berniat untuk melaksanakan salat namun seseorang tersebut tidak mengetahui bila salat merupakan hal yang wajib dilaksanakan oleh seorang muslim maka salat tersebut tidaklah sah.

Sedangkan maksud dari tidak mendatangkan sesuatu yang berlawanan dengan niat yaitu apabila sedang melaksanakan ibadah salat namun ia teringat sesuatu yang menjadiakan ia berkeinginan memberhentikan salatnya, maka salatnya tersebut adalah batal.

 

Daftar Pustaka
Mujiburrahman, “Fenomenologi Niat Antara al-Ghazali dan al-Sayuthi” dalam Jurnal KANZ PHILOSOPHIA Volume I No.2 Tahun 2011 Edisi Agustus-Desember

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *