Kaitan Istishab dengan al-Yakin La Yuzalu bi Syakk

Pengertian Istishab

Istishab secara bahasa mengandung arti meminta ikut serta secara terus menerus. Tokoh fiqh mazhab Hambali istishab adalah menetapkan berlakunya suatu hukum yang telah ada atau meniadakan sesuatu yang memang tiada sampai ada bukti yang merubah kedudukannya. Umpamanya seseorang yang telah meyakini secara penuh bahwa ia telah berwudu selama belum ada yang membuktikan batal wudunya . sejalan dengan itu, keraguan seseorang tentang batal wudhu tanpa bukti yang nyata tidak bias merubah kedudukan hukum wudhunya. Drs. H. MUSNAD ROZIN,.M.H. USUL FIQH 1. YOGYAKARTA:IDEA PRESS YOGYAKARTA,2015.H 159.

Salah satu karakteristik dan keistimewaan hukum islam adalah kesesuaian dengan setiap kondisi, keadaan dan tempat. Ini berjalan dengan sebuah ungkapan popular dikalangan para ulama bahwa al-syariat al-islamiyah shalihatli kulli zaman wa makan (syariat islam sesuai dalam segala waktu dan tempat.)

Kemampuan hukum islam merespon setiap situasi, kondisi dan setiap peristiwabaru yang terjadi karena nash – nash dan kaidah – kaidah umum yang terdapat dalam nash serta metode metode istishab hukunya. Istishab memang bukan dalil yang berdiri sendiri, tetapi bersandar pada dalil-dalil yang lain. Ia merupakan metode istinbat hukum yang berlandaskan pada dalil syara’ atau bersandarkan pada dalil akal.

Sedangkan qaidah al-yakinu la yuzulu bi al- syak dalam praktiknya bias menyusup kepada seluruh pembahasan fiqh, yang meliputi ibadah, muamalah, ‘uqubat, dan aqddilyah. Memandang kenyataan demikian itu, imam al-sayuthi mengatakan bahwa qaidah ini bias masuk pada seluruh bab-bab fiqh. Dari pemaparan pengrtian diatas bias dipahami bahwa, arti yang segera dipahami dengan mudah dari lafal al-yakin didalam qaidah ini adalah “mempertahankan sesuatu yang diyakini dari sebelumnya, dan inilah yang disebut dengan hukum asli.”  Sedangkan yang dipahami dari qaidah ini lafal al-syak adalah keraguan yang baru muncul setelah adanya keyakinan . ahmad sudirman abbas , qowaid fikiyyah, Jakarta ,rader jaya offsod.2004. hlm.46dan 57.

Contoh dari bidang muamalah : apabiala ada bukti kuitansi seseorang berhutang, kemudian timbul perselisihan tentang sudah bayar menurut yang berhutang dan belum bayar bagi yang mengutangkan, maka yang pegang perkataan yang mengutangkan sebab yang meyakini adanya utang dengan bukti tadi.

Dalam bahasa arab, diskursuskan seputar makna kata yaqin (selanjutnya di-Indonesiakan menjadi yakin) cukup semarak di bicarakan, terutama dalam kajian ilmu Fiqih, Uahul Fiqih, maupun Kaidah fiqih. Dilihat dari sisi bahasa, yakin secara sederhana di maknai sebagai ketetapan hati (Thuma’ninah Al-qalb) atas suatu kenyataan atau realitas tertentu. Umpamanya seseorang mamiliki ketetapan hati bahwa hari ini adalah hari rabu, maka dia telah yakin bahwa hari ini adalah hari rabu. Lebih jauh, Al-Ghozali menandaskan bahwa yakin adalah”kemantapan hati untuk membenarkan sebuah objek hukum, dimana hati juga mampu memastikan bahwa kemantapan itu adalah hal yang benar.

 Sementara yakin dalam konteks kaidah ini mempunyai makna lebih luas dari pada pengertian secara etimologi. Sebab yang dimaksud yakin disini juga memasukan Zhan (praduga kuat), dimana dzan sendiri belum mencapai derajat yakin. Namun para fukaha’ terbiasa menggunakan kata Al-ilmu (tahu) dan yakin untuk menunjuk makna dzan, dan sebaliknya. Dalam kerangka ini, Al-nawawi menandaskan bahwa bila ada orang yang di percaya ( Tsiqah) memberi tahu bahwaair yang kita pakai berwudlu terkena najis, maka pengetahuan kita yang berdasarkan berita tadi telah dikategorikan yakin. Padahal sebenarnya kemantapan hati kita baru harus mencapai taraf dzan (asumsi atau presepsi kuat), karena kita tidak melihat langsung najis yang menimpa air yang kita gunakan berwudlu itu. Karenanya, fuqaha’ sering kali menamai dzan seperti itu dengan kalimat yakin atau al-ilmu(tahu). Konsekuensinya, kita wajib mensucikan kembali anggota badan yang terkena air najis tersebut sekaligus wajib mengulangi sholat.

Sedangkan Syak Secara literal biasa diartikan sebagai keraguan atau kebimbangan. Secara lebih spesifik, ahli fiqih memaknai syak sebagai keraguan dan kebimbangan akan terjadinya sesuatu atau tidak terjadinya. Yang agak berbeda adalah makna syak yang di ajukan ahli ushul fiqih, yakni keseimbangan hati dalam menyikapi sesuatu. Dalam pengertian ini, hati kita tidak lebih cenderung kepada salah satu dari dua kemungkinan yang ada. Semisal seseorang yang ragu, apakah temanya yang sedang di tunggu akan datang atau tidak, tanpa melebihkan kemungkinan antara datang dan tidak tersebut.

Dengan pemahaman ini, ushuliyyin sering melontarkan kritik epistimoilogis ( teori ilmu pengetahuan) kepada para fuqaha” seputar rumsuan kaidah ini . Sebab menurut ushuliyyin, apabila seseorang telah di hinggapi keraguan dalam hatinya, maka keyakinan yang sebelumnya telah bulat pasti akan hilang, atau minimal terganggu dan tidak utuh lagi. Sedangkan kaidah ini mengklaim bahwa keyakinan tidak dapat dihilangkan oleh keraguan; ini jelas sesuatu yang mengada ada, demikian menurut ushuliyyin.

Menanggapi kritik ini, fuqaha’ menegaskan bahwa yang dimaksud tidak hilang”(La yuzhalu) bukan berarti keyakinan itu sendiri yang sendiri yang sirna, sebab hal itu mustahil terjadi, melainkan hukum yang telah terbangun berdasarkan keyakinan itulah yang tidak akan hilang. Hal ini berdasarkan arguman pokok, bahwa pada dasarnya keyakinan memiliki nilai hukum lebih kuat dari pada keraguan. Sebab, ketika dalam hati telah terbangun suatu keyakinan, maka dia tidak dapat digoyahkan oleh situasi, kondisi, atau faktor eksternal apapun. Artinya, dalam sebuah keyakinan terdapat hukum pasti yang tidak akan tergoyahkan oleh hal-hal yang baru timbul, kecuali oleh keyakinan yang lain.

Daftar pustaka

Drs. H. MUSNAD ROZIN,.M.H. USUL FIQH 1. Yogyakarta:Idea PressYogyakarta,2015. Ahmad Sudirman Abbas , QOWAID FIKIYYAH, Jakarta ,rader jaya offsod.2004.

 

 

NAMA                        : DINI INDARYANTI

NPM                           : 1502090127

PRODY                      : HESy / A

TUGAS                       : KAIDAH – KAIDAH FIQH

 

 

 

tugas kaidah dikumpul terakhir tanggal 27 maret

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *