Hukum Asal Segala Sesuatu adalah Boleh

Penemuan-penemuan baru yang tidak ada pada masa kini, telah di persiapkan perangkat hukumnya secara lengkap oleh islam. Jauh-jauh hari ajaran islam telah memprediksikn hal itu dan memberikan ketentuan-ketentuan hukum dalam bingkai kaidah yang sangat sederhana, yaitu al-ashlu al-abhah. Dalam tataran praktis, kaidah ini dapat diterapkan jika kita menemukan hewan, tumbuhan, atau apa saja, yang belum diketahui status hukumnya dalam syari’at.

Semua jenis barang tersebut dihukumi halal, sesuai substansi yang dikandung kaidah ini. Namun perlu di catat, sebenarnya masih terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama seputar hukum asal segala sesuatu. Mayoritas ulama Syafi’iyyah mengatakan bahwa hukum asal segala sesuatu adalah halal , selama belum ada dalil yang mngharamkan. Sebaliknya, beberapa ulama Hanafiyah berpendapat bahwa hukum asal segala sesuatu adalah haram, selama tidak ada dalil yang menghalalkan. Dan ada lagi segolongan ulama lainnya yang bersikap diam (Tawaqquf) seputar masalah ini, mereka tidak mengatakan haram atau halal.

Kalangan dalam hal yang menghalalkan, seperti dalam penegasan akan substansi yang terkandung di dalamnya. Dan kembali menegaskan dua hal, ysng pertatama keraguan yang berupa perasaan keluar angin tidak dapat merubah status hukum yang telah diyakini sebelumnya, yakni kondisi suci dalam shalat, kedua keyakinan yang ada hanya dapat dikalahkan oleh keyakinan yang lain berupa kepastian batalnya shalat disebabkan keluarnya angin yag bisa dipastikan dengan mendengar suara atau mencium baunya.

Secara logika pun, pemanfaatan segala hal yang halal sama sekali tidak akan mempengaruhi apalagi mengurangi keagungan dan kekuasaan Allah swt. Bahkan Allah swt, telah menegaskan bahwa ia tidak menciptakan sesuatu tanpa ada hikmah dibalik penciptaannya segala sesuat pasti mengandung manfaat atau nilai tersendiri. Karenanya mustahil Allah swt menciptakan suatu perkara yang tidak boleh dmanfaatkan. Sebab demikian, berarti Allah swt telah menciptakan sesuatu tanpa hikmah, hal ini jelasa tidak mungkin. (Adul Haq , dkk.2017:152-154)

Dapat dipahami bahwa hukum asal yang boleh adalah hukum asal boleh sebelum ada huum yang mengharamkannya. Contohnya seperti khamar yang memang pada zaman dulu khamar dapat dikonsumsi oleh para nabi dan sahabat nabi atau dikonsumsi oleh orang arab, kemudian diturunkan lah hukum asala yang mengharamkan khamar karena mengkonsumsi khamar kurang baik dalam mengerjakan shalat. Karena pun orang yang meminum khamar kurang sadar atau berada dalam bawah alam sadar bisa sangat mengerikan maka dari itu ada hukum yang mengharamkan khamar sekarang adalah memang haram.

Dalam kaidah yang bersumber dari sabda Rasulullah saw “Apa-apa yang dihalalkan Allah adalah halal dan apa-apa yang diharamkan Allah adalah haram dan apa-apa yang didiamkan dimaafkan. Maka terimalah dari Allah pemaafan-Nya. Sungguh Allah itu tidak melupakan apapun.” (HR. Al-Bazar dan at-Thabrani). (Imam Musbikin.2001:58-59)

Dipandang dalam hadis diatas bahwa hukum yang dihalalkan oleh Allah ya dapat dilaksanakan berbeda dengan hukum yang haram yang tidak boleh atau diharamkan untuk dilakukan. Dan Allah pun maha melihat, mendengar dan maha segalanya karena itu dalam konteks terebut bahwa Allah itu tidak melupaka apapun. Dan hukum asal benar diperbolehkan atau halal jika belum ada hukum yang shahih yang melarangnya.

 

NAMA: SEPTIA NURKHOLIFAH

NPM: 1502100306

PRODI/KELAS: S1 PBS/E-4

 

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *