Diskusi Reboan Chapter #8: Meneropong Pendidikan Islam di Indonesia

Beberapa Catatan *Diskusi Reboan* Chapter #8

Rabu, 26 Juli 2017 pukul 10.00 WIB di Ruang Sidang Pascasarjana IAIN Metro.

Pemantik: Abdul Mujib, M.Pd.I

 

  1. Indonesia adalah negara yang tidak menjadikan Islam sebagai landasan bernegara. Akan tetapi, Indonesia memiliki perhatian yang luar biasa terhadap pendidikan Islam. Sejak Indonesia merdeka, sudah tak terhitung anggaran yang digelontorkan negara kepada pendidikan Islam. Dan yang menarik, tak ada protes terhadap keberpihakan anggaran ini. Dukungan penganggaran semacam ini tidak mungkin dilakukan di negara sekular selain Indonesia, misalnya Singapura, Filipina, Jepang.
  2. Dukungan negara terhadap pendidikan Islam mewujud dalam banyak bentuk. Mulai dari pendirian Kementerian Agama yang memiliki Dirjen Pendidikan Islam. Indonesia juga menyelenggarakan pendidikan Islam dari tingkat bawah sampai perguruan tinggi. Mulai dari RAN, MIN, MAN, PTKIN yang jumlahnya ratusan ribu di seluruh Indonesia. Semua diberi anggaran oleh negara. Di-support penuh oleh negara.
  3. Pada mulanya, aktor pendidikan Islam di Indonesia adalah pesantren. Menyusul kemudian Madrasah (mulai dari Madrasah Diniyah Awwaliyah, Madrasah Diniyah Wustho, Madrasah Diniyah Ulya, Raudlatul Athfal, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah).
  4. Beberapa ormas yang mengelola pendidikan Islam di antara adalah NU dengan jaringan pesantren dan LP Maarifnya. Kemudian Muhammadiyah dengan jaringan sekolah dan perguruan tingginya. Juga al-Irsyad.
  5. Selanjutnya, adalah Perguruan Tinggi Keagamaan Islam, mulai Sekolah Tinggi (ST Ilmu Tarbiyah, ST Agama Islam, ST Ilmu Syariah, ST Ekonomi dan Bisnis Islam, ST Ilmu Al-Quran, STAIN), Institut (IAI, IAIN, IIQ, PTIQ), dan UIN.
  6. Sejak reformasi, hadirlah sekolah formal Islam Terpadu, mulai dari TKIT, SDIT, SMPIT, dan SMAIT. Sekolah Islam Terpadu ini dikelola oleh empat jaringan besar: Salafi, Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT), Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama.
  7. Banyak pesantren yang semula hanya menyelenggarakan pendidikan nonformal yang hanya mengkaji kitab kuning kemudian mengalami transformasi dalam spektrum Pendidikan Islam.
  8. Transformasi pesantren ini terwujud dalam dua bentuk: (i) mendirikan Ma’had Aly yang setara dengan Perguruan Tinggi berbasis Pesantren; (ii) mendirikan perguruan tinggi yang sejalan dengan visi pesantren. Umumnya perguruan tinggi yang didirikan adalah STAI, STIQ, STIS, atau IIQ. Beberapa ada yang berhasil mendirikan universitas seperti Pondok Gontor (UNIDA) dan Pesantren Kalibeber (UNSIQ).
  9. Beberapa tantangan yang harus dijawab oleh Pendidikan Islam era kontemporer adalah
    1. Dialektika ilmu pengetahuan, iptek, dan akhlak.
    2. Dialektika lokalitas dan Arab.
    3. Dialektika tradisi dan keilmuan.
    4. Integrasi keilmuan dari kitab kuning ke dunia real.
    5. Dialektika pendidikan Islam dengan budaya lokal.

 

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *