Diskusi Reboan #2: Jual Beli yang Terlarang dalam Islam

Berikut ini adalah materi yang disampaikan Titut Sudiono, M.E.Sy saat memantik Diskusi Reboan, pada Rabu 19 April 2017 di Fakultas Syariah IAIN Metro.

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Jual Beli (Al-Ba’i)

Jual beli (al-bai’) adalah pertukaran sesuatu dengan sesuatu (yang lain). Kata lain dari al-ba’i adalah asy-syira’, al-mubadah, dan at-tijaarah. Allah membolehkan jual beli bagi hamba-Nya selama tidak melalaikan dari perkara yang lebih penting dan bermanfaat. Seperti melalaikannya dari ibadah yang wajib atau membuat madharat terhadap kewajiban lainnya. Jika asal dari jual beli adalah disyariatkan, sesungguhnya diantara bentuk jual ada juga yang diharamkan dan ada juga yang diperselisihkan hukumnya.

Rukun dan syarat Jual Beli :

  1. Penjual & Pembeli (Ahliah)
    1. Baligh, b. Mumayyiz, c. Berakal, Rusyd, e. Merdeka
  2. Obyek Transaksi
  3. Halal/Suci, b. Deliverable, c. Dimiliki, Diketahui, e. Bermanfaat
  4. Harga
  5. Satu harga
  6. Jelas dan pasti
  7. Ijab Qabul
  8. Jelas
  9. Satu Majlis
  10. Tidak Bersyarat
  11. An Taradhin

Pada prinsipnya akad jual beli dinyatakan terlarang bisa disebabkan dua hal yaitu:

  1. Tidak terpenuhinya unsur-unsur yang terdapat dalam rukun dan syarat jual beli.
  2. Sebab lain yang tidak berkaitan dengan rukun dan syarat, diantaranya adalah mempersulit orang lain, mengganggu dan melakukan penipuan.

Jual beli yang dilarang dalam Islam sangatlah banyak. Jumhur Ulama tidak membedakan antara fasid dan batal, dengan kata lain, menurut jumhur Ulama, hukum jual beli hanya terbagi dua yaitu shahih dan batal, sedangkan menurut Ulama Hanafiyah jual beli terbagi tiga yaitu shahih, fasid dan batal.

 

Yang diharamkan dalam jual beli

  1. Yang diharamkan karena karena ‘ain (zat)nya, seperti :
  2. Jual beli barang yang diharamkan secara syar’i
  3. Transaksi suatu manfaat atau jasa yang diharamkan
  4. Jual beli benda-benda najis
  5. Yang diharamkan karena waktu transaksinya, seperti jual beli pada saat adzan jum’at dikumandangkan.
  6. Yang diharamkan karena tempat transaksinya, seperti Jual beli di masjid
  7. Yang diharamkan karena cara (proses)nya.

 

Makalah ini akan mencoba memudahkan pembahasan dengan membuat  kategori pelarangan jual beli berdasarkan cacatnya rukun dan syarat, serta karena sebab lain selain cacatnya rukun dan syarat.

 

 


BAB II

TERLARANGNYA JUAL BELI KARENA CACATNYA RUKUN DAN SYARAT

 

  1. JUAL BELI TERLARANG KARENA SEBAB PELAKU (AHLIAH)

Para Ulama sepakat bahwa jual beli dikategorikan sahih apabila dilakukan oleh orang yang baligh, berakal, dapat memilih, dan mampu ber-tasharruf secara bebas dan baik. Mereka yang dipandang tidak sah jual belinya adalah sebagai berikut:

  1. Jual-beli orang gila

Ulama fiqh sepakat bahwa jual beli orang gila tidak sah, begitu pula sejenisnya, sebagai contoh, jual beli orang mabuk, dll.

  1. Jual-beli anak kecil

Ulama fiqh sepakat bahwasanya jual beli yang dilakukan oleh anak kecil dipandang tidak sah, kecuali dalam hal atau perkara yang sepele.

  1. Jual-beli orang buta

Jual beli orang buta dianggap shahih  menurut jumhur ulama jika barang yang dibelinya diterangkan sifat-sifatnya.

  1. Jual beli terpaksa

Menurut ulama Hanafiyah, hukum jual beli terpaksa, keabsahannya ditangguhkan sampai hilang rasa terpaksa.

  1. Jual-beli fudhul, jual-beli milik orang lain tanpa seizin pemiliknya
  2. Jual-beli orang terhalang

Yang dimaksud terhalang disini adalah terhalang karena kebodohan, bangkrut atau sakit.

  1. Jual-beli malja,

Yaitu jual-beli orang yang sedang dalam bahaya, yakni untuk menghindar dari perbuatan dzalim.

 

  1. JUAL BELI TERLARANG KARENA SEBAB MAQUD ‘ALAIH (OBYEK TRANSAKSI)

 

Secara umum, ma’qud ‘alaih adalah harta yang dijadikan alat pertukaran oleh orang yang akad, yang biasa disebut barang jualan dan harga. Ulama fiqih sepakat bahwa jual beli dianggap sah apabila ma’qud ‘alaih adalah barang yang tetap atau bermanfaat, berbentuk, dapat diserahkan, dapat dilihat oleh orang yang akad, tidak bersangkutan dengan milik orang lain, dan tidak ada larangan syara’.

Selain itu, ada beberapa masalah yang disepakati oleh sebagian Ulama, tetapi diperselisihkan oleh sebagian yang lain.

 

  1. Jual-beli benda yang tidak ada atau dikhawatirkan tidak ada.

Jumhur Ulama sepakat bahwa jual beli barang yang tidak ada atau dikhawatirkan tidak ada adalah tidak sah

  1. Jual-beli barang yang tidak dapat diserahkan.

Jual beli barang yang tidak dapat diserahkan, seperti burung yang ada di udara atau ikan yang ada di air tanpa berdasarkan ketetapan syara’.

  1. Jual-beli barang yang tidak jelas (majhul).

Menurut ulama Hanafiyah, jual beli seperti ini adalah fasid, sedangkan menurut jumhur ulama adalah batal sebab akan mendatangkan pertentangan.

  1. Jual-beli buah-buahan atau tumbuhan yang tidak jelas.

Apabila belum terdapat buah, disepakati tidak sah. Bila telah ada buah tetapi belum matang, akadnya fasid menurut Ulama Hanafiyah dan batal menurut jumhur Ulama, adapun juka buah-buahan atau tumbuhan itu telah matang maka akadnya sah.

 

Keseluruhan jual beli di atas masuk kedalam transaksi gharar.

 

  1. JUAL BELI GHARAR

 

Menurut bahasa Arab, makna al-gharar adalah, al-khathr (pertaruhan).  Sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan, al-gharar adalah yang tidak jelas hasilnya (majhul al-’aqibah). Sedangkan menurut Syaikh As-Sa’di, al-gharar adalah al-mukhatharah (pertaruhan) dan al-jahalah (ketidak jelasan). Perihal ini masuk dalam kategori perjudian. Sehingga, dari penjelasan ini, dapat diambil pengertian, yang dimaksud jual beli gharar adalah, semua jual beli yang mengandung ketidakjelasan; pertaruhan, atau perjudian.Jual beli gharar atau yang mengandung ketidakpastian dilarang dalam Islam.

 

Macam-macam jual beli gharar :

 

  1. Bai’ Ma’dum

Yaitu jual beli barang yang tidak ada atau belum ada (misal : menjual       anak kambing yang masih dalam kandungan). Pelarangan Ba’i Ma’dum ini sesuai dengan hadis Nabi yang menyebutkan “Janganlah kamu menjual sesuatu yang tidak ada padamu” (H.R. Khamsah dari Hakim Bin Hizam). Namun Bay’ Ma’dum bisa dilakukan bila barang yang dijual dapat diukur dengan pasti dan dan penyerahannya bisa dipastikan sesuai ‘urf.

Contohnya:

  • Menjual anak onta yang masih dalam kandungan
  • Menjual buah yang masih di pohon (belum matang)
  • Menjual susu hewan yang masih di teteknya (Bisa kelihatan besar, ternyata isinya lemak, susunya cair), disini ada spekulasi, tidak jelas
  • Jual beli barang yang tidak/belum ada

 

  1. Bai Ma’juz at-Taslim

Yaitu jual beli yang sulit dalam penyerahan barangnya (misal : menjual motor yang hilang atau hp yang hilang yang masih dalam pencarian).

Contohnya:

  • Jual beli motor yang hilang dan masih dalam pencarian
  • Jual beli HP yang masih dipinjam orang (teman) yang kabur
  • Jual-beli tanah properti yang belum jelas statusnya (pembebasannya)
  • Menjual burung piaraan (seperti merpati) yang mungkin kembali ke sarangnya.

 

  1. Ba’i Majhul

Yaitu jual beli barang yang tidak diketahui kualitas, jeni, merek atau kuantitasnya (misal: menjual radio yang tidak dijelakan mereknya). Bila tingkat majhulnya kecil sehingga tidak menyebabkan pertentangan, maka jual beli sah, karena keidak tahuan tidak menghalangi penyerahan dan penerimaan barang (misal : jual beli buah berdasarkan kiloan tetapi secara tumpukan).

Contohnya:

  • Yaitu jual beli barang yang tidak diketahui kualitas, jenis, merek atau kuantitasnya.
  • Seperti jual beli murabahah HP Nokia yang tidak dijelaskan tipenya.
  • Jual beli radio yang tidak dijelaskan merknya.
  • Jual beli ini dilarang karena mengandung gharar (tidak jelas, tidak pasti yang mana produk yang mau dibeli).

 

  1. Ba’i Juzaf (Taksir)

Yaitu  jual beli barang yang biasa ditakar, ditimbang dan dihitung, tetapi dilakukan secara taksir/ perkiraan (misal: menjual setumpuk pakaian tanpa mengetahui jumlahnya).

Contohnya:

  • Menjual setumpuk makanan tanpa mengetahui takarannya secara pasti
  • Menjual setumpuk buah tanpa mengetahui beratnya
  • Menjual setumpuk ikan tanpa mengetahuai berapa kg
  • Menjual setumpuk pakaian tanpa mengetahui jumlahnya

 

  1. Ba’i Muhaqalah

Yaitu menjual tanam-tanaman yang masih di ladang atau di sawah (Ijon).

 

  1. Ba’i Mukhadarah

Yaitu menjual buah-buahan yang belum pantas di panen.

 

  1. Ba’i Mulamasah

Yaitu jual beli yang terjadi dengan cara hanya menyentuh suatu barang secara acak (misal: seseorang yang menyentuh sebuah produk dengan tangannya di waktu malam, maka orang yang telah menyentuh kain berarti telah membeli kain tersebut).

Contohnya:

  • Jual beli secara sentuh menyentuh. Misalkan seseorang menyentuh sebuah produk dengan tangannya di waktu malam atau siang hari, maka orang yang menyentuh berarti telah membeli kain tersebut
  • Jual beli ini dilarang jarena mengandung gharar. Tidak jelas barang mana yang disentuh

 

  1. Ba’i Munabazah

Yaitu jual beli secara lempar-melempar, sehingga barang tidak jelas dan tidak pasti.

Contohnya:

  • Jual beli secara lempar-melempar, sehingga objek barang tidak jelas dan tidak pasti, apakah barang A, B, C atau lainnya
  • Seperti seorang berkata, “Lemparkan padaku apa yang ada padamu, nanti kulemparkan pula padamu apa yang ada padaku”. Setelah terjadi saling melempar barang, maka terjadilah jual-beli
  • Jual beli ini juga dilarang krn mengandung gharar
  1. Ba’i Muzabanah (Barter Buah-buahan)

Yaitu jual beli yang menggunakan makanan yang masih belum jelas sebagai alat pembayarnya (misal : buah-buahan saat masih di atas pohon yang masih basah / belum bisa dimakan dijual sebagai pembayar untuk memperoleh kurma untuk dimakan).

Contohnya:

  • Buah-buahan ketika masih di atas pohon yang masih basah (belum bisa dimakan) dijual sebagai alat pembayar untuk memperoleh kurma dan anggur kering (bisa dimakan). Penyerahannya di masa depan (future).
  • Jual beli ini dilarang karena buah yang di atas pohon belum bisa dipastikan kualitas dan kuantitasnya. Jadi hanya berdasarkan perkiraan/taksiran. Karena itu Rasul saw melarang.
  • Karena dikhawatirkan salah satu pihak ada yang dirugikan. Jual beli ini juga mengandung gharar.

 

  1. Bai’ Hashah = بيع الحصاة

Yaitu jual beli dimana pembeli menggunakan kerikil dalam jual beli (kerikil dilemparkan kepada berbagai macam barang penjual, dan kerikil yang mengenai suatu barang akan dibeli dan ketika itu terjadilah jual beli).

Contohnya

  • عن أبي هريرة قال : نهى رسول الله عن بيع الحصاة وعن بيع الغرار ( رواه مسلم )

Dari Abi Hurairah, bahwa Rasulullah saw melarang jual beli hashah dan jual beli gharar

 

  1. Hablul Habalah = حبل الحبلة
  • Seseorang menjual seekor anak onta yang masih berada dalam perut induknya.
  • Jual beli semacam ini dilarang, karena mengandung gharar (ketidakpastian)

 

  1. Madhamin dan Malaqih
  • Madhamin ialah menjual sperma hewan,
  • di mana si Penjual membawa hewan pejantan kepada hewan betina untuk dikawinkan. Anak hewan dari hasil perkawinan itu menjadi milik pembeli.
  • Malaqih, Menjual janin hewan yang masih dalam kandungan

 

  1. JUAL BELI TERLARANG KARENA OBJEKNYA HARAM DAN TIDAK

           BAIK

Berikut adalah beberapa contoh jual beli yang dilarang karena haram dan tidak thoyyib-nya objek jual beli.

 

  1. Jual Beli Salib (simbol agama kristen)
  2. Jual Beli Patung Yesus atau fotonya
  3. Jual beli wanita dan anak bayi
  4. Jual beli / Bisnis CD porno, majalah porno,dll
  5. Jual Beli Narkoba dan segala barang lainnnya
  6. Membeli barang yang keuntungannya untuk musuh Islam

 

 


BAB III

TERLARANGNYA JUAL BELI KARENA SEBAB LAIN

SELAIN RUKUN DAN SYARAT

 

Termasuk dalam kategori ini apabila dengan jual beli yang dilakukan akan menimbulkan mengganggu khusyuknya ibadah, kesulitan bagi  orang lain, mengganggu orang lain dan melakukan penipuan.

  1. Jual-beli riba

Riba nasiah dan riba fadhl adalah fasid menurut Ulama Haafiyah tetapi batal menurut Jumhur Ulama

  1. Jual-beli barang dari hasil pencegatan barang

Menghadang pedagang dalam perjalannya menjual barang sehingga mendapatkan keuntungan. Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa hal itu makhruh tahrim. Ulama Malikiyah berpendapat bahwa jual beli tersebut termasuk fasid.

  1. Jual-beli waktu adzan Jum’at

Menurut ulama Hanafiyah pada waktu adzan pertama, sedangkan menurut ulama lainnya, adzan ketika khatib sudah berada di mimbar. Ulama Hanafiyah menghukuminya makhruh tahrim, sedangkan ulama Syafi’iyah menghukuminya shahih haram. Batal menjadi pendapat dikalangan ulama Malikiyah dan tidak sah menurut para ulama Hanabilah.

  1. Jual-beli anggur untuk dijadikan khamar

Menurut ulama Hanafiyah dan Syafi’iyah zahirnya sahih, tetapi menurut ulama Malikiyah dan Hanabilah adalah batal.

  1. Jual-beli barang yang sedang dibeli oleh orang lain

Seseorang telah sepakat akan membeli suatu barang, namun masih khiyar, kemudian datang orang lain yang menyuruh untuk membatalkannya sebab ia akan membelinya dengan harga yang lebih tinggi.

 

JUAL BELI KETIKA PANGGILAN ADZAN

(Yang diharamkan karena waktu transaksinya)

 

Jual beli tidak sah dilakukan bila telah masuk kewajiban untuk melakukan shalat, karena umumnya yang melakukan jual beli pada waktu zaman Rasul adalah kaum lelaki, maka terdapat larangan melakukan jual beli saat dikumandangkan adzan sholat Jum’at.

Berdasarkan Firman Allah : “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al Jumu’ah : 9).

Allah melarang jual beli agar tidak menjadikannya sebagai kesibukan yang menghalanginya untuk melakukan shalat.

 

JUAL BELI SECARA ‘INAH

 

Yang dimaksud jual beli secara ‘inah ialah seseorang menjual sesuatu kepada orang lain dengan harga bertempo, lalu sesuatu itu diserahkan kepada pihak pembeli, kemudian penjual itu membeli kembali barangnya tadi secara kontan sebelum harganya diterima, dengan harga yang lebih rendah daripada harga penjualnya tadi.

Dari Ibnu Umar ra, bahwa Nabi saw bersabda, “Apabila kamu berjual beli secara ‘inah dan ‘memegangi ekor-ekor sapi’ [kinayah/kiasan sibuk dengan urusan peternakan/keduniaan] dan puas dengan pertanian serta meninggalkan jihad, maka Allah akan menguasakan atas kamu kehinaan, dia tidak akan mencabut hingga kamu kembali kepada agamamu.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no:423 dan “Aunul Ma’bud IX:335 no:3445).

Diantara jual beli yang juga terlarang adalah jual beli dengan cara  ‘inah, yaitu menjual sebuah barang kepada seseorang dengan harga kredit, kemudian dia membelinya lagi dengan harga kontan akan tetapi lebih rendah dari harga kredit. Misalnya, seseorang menjual barang seharga Rp 20.000 dengan cara kredit. Kemudian (setelah dijual) dia membelinya lagi dengan harga Rp 15.000 kontan. Adapun harga Rp 20.000 tetap dalam hitungan hutang si pembeli sampai batas waktu yang ditentukan. Maka ini adalah perbuatan yang diharamkan karena termasuk bentuk tipu daya yang bisa mengantarkan kepada riba. Seolah-olah dia menjual dirham-dirham yang dikreditkan dengan dirham-dirham yang kontan bersamaan dengan adanya perbedaan (selisih). Sedangkan harga barang itu hanya sekedar tipu daya saja (hilah), padahal intinya adalah riba.

 

JUAL BELI DALAM KEJAHATAN

 

Allah melarang kita menjual sesuatu yang dapat membantu terwujudnya kemaksiatan dan dipergunakan kepada yang diharamkan Allah (misal :  menjual sirup yang dijadikan untuk membuat khamer, karena khamer akan membantu terwujudnya permusuhan/ pertikaian).

Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala : “Janganlah kalian tolong-menolong dalam perbuatuan dosa dan permusuhan” (Al Maidah : 2).

 

 

JUAL BELI BUDAK MUSLIM KEPADA NON MUSLIM

Allah melarang menjual hamba sahaya muslim kepada seorang kafir jika dia tidak membebaskannya. Karena hal tersebut akan menjadikan budak tersebut hina dan rendah di hadapan orang kafir.

Allah telah berfirman : “Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (QS. 4:141).

 

JUAL BELI DI ATAS JUAL BELI SAUDARANYA

Diharamkan menjual barang di atas penjualan saudaranya, seperti seseorang berkata kepada orang yang hendak membeli barang seharga sepuluh, “Aku akan memberimu barang yang seperti itu dengan harga sembilan”. Atau perkataan “Aku akan memberimu lebih baik dari itu dengan harga yang lebih baik pula.”

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah sebagian diantara kalian diperkenankan untuk menjual (barang) atas (penjualan) sebagian lainnya.” (Mutafaq alaihi).

 

SAMSARAN

Termasuk jual beli yang diharamkan adalah jual belinya orang yang bertindak sebagai samsaran, (yaitu seorang penduduk kota menghadang orang yang datang dari tempat lain (luar kota), kemudian orang itu meminta kepadanya untuk menjadi perantara dalam jual belinya, begitupun sebaliknya).

Hal ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW : “Tidak boleh seorang yang hadir (tinggal di kota) menjualkan barang terhadap orang yang baadi (orang kampung lain yang datang ke kota)”

 

NAJASY

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar ra, ia berkata, “Rasulullah saw. melarang praktek najasy dalam jual beli,” (HR Bukhari [2142] dan Muslim [1516]). Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. melarang orang kota menjual barang dagangan orang desa.” Dan sabda beliau, “Janganlah kamu melakukan praktek najasy, janganlah seseorang menjual di atas penjualan saudaranya, janganlah ia meminang di atas pinangan saudaranya dan janganlah seorang wanita meminta (suaminya) agar menceraikan madunya supaya apa yang ada dalam bejana (madunya) beralih kepadanya,” (HR Bukhari [2140] dan Muslim [1413]).

Kandungan bab:

  1. Haram hukumnya praktek najasy dalam jual beli, at-Tirmidzi berkata dalam Sunannya (III/597), “Hadits inilah yang berlaku di kalangan ahli ilmu, mereka memakruhkan praktek najasy dalam jual beli.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam kitab Fathul Baari (XII/336), “Makruh yang dimaksud adalah makruh tahrim (haram).”

  1. Bentuk praktek najasy adalah sebagai berikut, seseorang yang telah ditugaskan menawar barang mendatangi penjual lalu menawar barang tersebut dengan harga yang lebih tinggi dari yang biasa. Hal itu dilakukannya dihadapan pembeli dengan tujuan memperdaya si pembeli. Sementara ia sendiri tidak berniat untuk membelinya, namun tujuannya semata-mata ingin memperdaya si pembeli dengan tawarannya tersebut. Ini termasuk bentuk penipuan, (Sunan at-Tirmidzi [III/597-598]).

Al-Baghawi berkata dalam kitab Syarhus Sunnah [VTII/120-121], “Najasy adalah seorang laki-laki melihat ada barang yang hendak dijual. Lalu ia datang menawar barang tersebut dengan tawaran yang tinggi sementara ia sendiri tidak berniat membelinya, namun semata-mata bertujuan mendorong para pembeli untuk membelinya dengan harga yang lebih tinggi.

At-Tanajusy adalah seseorang melakukan hal tersebut untuk temannya dengan balasan temannya itu melakukan hal yang sama untuknya jika barangnya jadi terjual dengan harga tinggi. Pelakunya dianggap sebagai orang durhaka karena perbuatannya itu, baik ia mengetahui adanya larangan maupun tidak, sebab perbuatan tersebut termasuk penipuan dan penipuan bukanlah akhlak orang Islam.”

 

Ba’I Mudhthar

(Jual beli karena terpaksa) Menjual secara kontan barang yang di beli secar kredit dengan harga lebih murah dari harga beli.

 

Bai’ataini fii bai’atin

Adapun mengenai penambahan harga jual bila pembeliannya dicicil itu begini: Mayoritas ulama berpendapat bahwa penjualan seperti itu hukumnya batal, tidak sah, jika dilaksanakan dalam satu rangkaian transaksi. Misalnya demikian: seorang penjual bilang “Barang ini harganya Rp. 1000 kontan, dan Rp. 1500 secara cicilan”. Seperti ini tidak boleh karena menurut ulama transaksi seperti itu masuk kategori yang dilarang Nabi yaitu “bai’ataini fii bai’atin” (penggabungan dua jenis transaksi dalam satu transaksi) [HR. Malik, Tirmidzi, al-Nasaa’i, Abu Dawud, Ahmad], yaitu satu barang dihargai dengan dua harga yang berbeda.

 

Bay’ ad-Dayn bid Dayn

Jual Beli Kredit (sell or buy on credit/installment) dalam bahasa Arabnya disebut Bai’ bit Taqsith yang pengertiannya menurut istilah syari’ah, ialah menjual sesuatu dengan pembayaran yang diangsur dengan cicilan tertentu, pada waktu tertentu, dan lebih mahal daripada pembayaran kontan/tunai.

Jumhur ulama membolehkan praktik jual beli kredit (bai’ bit Taqsith) tanpa bunga, diantaranya adalah Imam Al-Khathabi dalam Syarh Mukhtashar Khalil , Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ah Fatawa , Imam Syaukani dalam Nailul Authar, Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni dengan menukil pendapat Thawus, Hakam dan Hammad yang membolehkannya.

Di dalam surat Annisa sedikit memperjelas tentang jual beli secara kredit, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu.” (QS. An-Nisa’:29)

Namun para ulama ketika membolehkan jual-beli secara kredit dengan ketentuan selama pihak penjual dan pembeli mengikuti kaidah dan syarat-syarat keabsahannya sebagai berikut:

  1. Harga barang ditentukan jelas dan pasti diketahui pihak penjual dan pembeli.
  2. Pembayaran cicilan disepakati kedua belah pihak dan tempo pembayaran dibatasi sehingga terhindar dari parktik bai’ gharar, ‘bisnis penipuan’.
  3. Harga semula yang sudah disepakati bersama tidak boleh dinaikkan lantaran pelunasannya melebihi waktu yang ditentukan, karena dapat jatuh pada praktik riba.
  4. Seorang penjual tidak boleh mengeksploitasi kebutuhan pembeli dengan cara menaikkan harga terlalu tinggi melebihi harga pasar yang berlaku, agar tidak termasuk kategori bai’ muththarr, ‘jual-beli dengan terpaksa’ yang dikecam Nabi saw.

 

Contoh Kasus saat ini

Di jaman sekarang ini banyak masyarakat yang menginginkan transaksi jual-beli secara mudah. Salah satunya adalah pembelian kendaraan secara kredit yang banyak dilakukan orang dengan bunga tertentu, fatwa direktorat jenderal riset, dakwah dan ifta’ menjelaskan bahwa jika dalam jual-beli kredit terdapat kenaikan harga (bunga) lantaran terlambatnya pelunasan dari pihak pembeli, maka menurut ijma’ ulama tidak sah, karena di dalamnya terkandung unsur riba jahiliyah yang diharamkan Islam.

Kalaupun terpaksa harus membeli secara kredit dari penjual barang yang memberlakukan sistem bunga ini, maka pembeli realitasnya harus yakin mampu mencicil dan melunasinya tepat waktu tanpa harus terjerat pembayaran bunga tunggakan, agar terhindar dari laknat rasulullah karena membayar uang riba.

 

 

Jual beli URBUN

Jual beli ini dikenal dalam bahasa fiqih dengan istilah ‘urbun. Definisi terbaik untuk jual beli ini adalah apa yang telah disampaikan Ibnu Qudamah rahimahullahu, yaitu seseorang membeli barang kemudian membayarkan kepada penjual satu dirham atau semisalnya. Dengan syarat, bila pembeli jadi membelinya maka uang itu dihitung dari harga, dan jika tidak jadi membeliya maka itu menjadi milik penjual.

Tentang hukum jual-beli ini, terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama:

  1. Mayoritas para ulama, satu riwayat dari Al-Imam Ahmad rahimahullahu dan yang dikuatkan oleh Abul Khaththab rahimahullahu dari kalangan ulama Hambali dan Ibnu Qudamah rahimahullahu mengatakan bahwa itulah yang sesuai dengan qiyas. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Asy-Syaukani rahimahullahu. Mereka semua mengatakan bahwa jual beli ‘urbun sesuai dengan gambaran di atas, batal. Dengan argumen hadits yang berbunyi:

نَهَى عَنْ بَيْعِ الْعُرْبُوْنِ

“Rasulullah melarang jual beli ‘urbun.”

  1. ‘Umar ibnul Khaththab, Abdullah – putranya – radhiyallahu ‘anhuma, Ibnu Sirin, Nafi’ bin Abdul Harits, Zaid bin Aslam rahimahumullah, satu riwayat yang lain dari Al-Imam Ahmad rahimahullahu dan yang masyhur di kalangan ulama Hambali, mereka membolehkan jual beli sesuai gambaran di atas.

Dengan alasan:

Bahwa hadits yang disebutkan di atas dha’if/lemah1.

Karena penjual bisa jadi menanggung kerugian dengan sebab masa tunggu. Misalnya harga barangnya menjadi turun atau penjual kehilangan calon-calon pembeli. Semua risiko ini ditanggung penjual bila pembeli mengurungkan niatnya untuk membeli. Demikian pula pembeli berikutnya bisa menawar lebih murah setelah ditinggalkan oleh pembeli pertama.

Namun demikian dinasihatkan kepada para penjual, bilamana ia tidak menanggung kerugian apa-apa agar mengembalikan uang itu dalam rangka menjaga sikap wara’.

Atas dasar yang membolehkan jual beli ‘urbun, maka dikecualikan tiga keadaan:

  1. Pada sesuatu yang disyaratkan secara syar’i harus kontan pada masing-masing barang yang dipertukarkan, yaitu barang-barang yang mengandung riba (lihat penjelasan tentang Riba di Asy Syariah edisi 28). Misalnya uang, seperti menukar uang real Saudi dengan real Yaman. Maka tidak boleh menerapkan sistem ‘urbun.
  2. Sesuatu yang disyaratkan untuk diserahkan secara kontan dan penuh pada salah satu barang yang dipertukarkan, yaitu pada jual beli sistem salam2. Di mana dipersyaratkan secara kontan memberikan uang secara penuh di muka. Maka tidak boleh diberlakukan sistem ‘urbun.
  • Pada kondisi penjual tidak memiliki barang yang dijual, maka tidak boleh dengan sistem ‘urbun.

 

Al-ghabn al-fâhisy

Penipuan harga (al-ghabn al-fâhisy)àpembeli/penjual memanfaatkan ketidaktahuan lawan transaksinya terhadap harga yang berkembang di pasaran

Talaqqi Rukban

Talaqqi Rukban, ialah kegiatan pedagang dengan cara  menyongsong pedagang desa yang membawa barang dagangan di jalan (menuju pasar). Praktek ini juga termasuk makan harta dengan cara yang bathil, karena si pedagang desa tidak tahu harga pasar yang sesungguhnya. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan dari Abi Hurairah, bahwa ”Rasulullah Saw melarang menyongsong (mencegat) pedagang sebelum tiba di pasar” (talaqqi rukban) (H.R.Bukhari).  Larangan tersebut karena pedagang tidak tahu harga pasar dan tidak memiliki informasi yang benar tentang harga  di pasar. Hal ini dapat mengakibatkan kerugian bagi para pedagang.

 

 

Bai’ Hadhir Libad = بيع حاضر لباد

  • Jual beli yang dilakukan oleh seorang agen (penghubung, samsarah, calo, broker) terhadap produk pertanian desa yang dijual kepada pedagang kota
  • Dia mendapat komisi dari penjual (petani) dan pembeli (baik pedagang maupun konsumen) di kota.
  • Akibatnya harga menjadi tidak wajar dan jauh lebih mahal

 

Jual beli Mulja’

  • Yaitu orang yang terpaksa melakukan jual-beli agar hartanya habis dengan segera dengan tujuan agar terhindar dari kejahatan orang zalim.
  • Jual beli ini tidak sah menurut Hanafiyah dan pembeli wajib mengembalikan barang yang dibelinya.

 

Bay ‘ Mu’allaq

Yaitu transaksi jual-beli yang keberlangsungannya tergantung pada transaksi yang lain atau terjadinya transaksi jual beli tergantung pada ta’liq (persyaratan) berupa   transaksi lain yang berbeda. Bay’ muallaq disebut juga dengan jual beli bersyarat.

Contoh:

Saya membeli mobil anda seharga Rp 300 juta, jika anda membeli tanah saya seharga Rp 300 juta. Menurut para ulama (khususnya mazhab Hanafi), jual beli muallaq (bersyarat) tersebut tidak sah. Alasan (illat) larangan tersebut adalah adanya unsur gharar di dalamnya.

Ghararnya:  penjual dan pembeli tidak mengetahui terwujud-tidaknya qayyid (syarat) yang menjadi gantungan terjadinya jual beli 1. Juga tidak diketahui kapan waktu terjadinya jual beli tersebut, karena tergantung pada jual beli kedua.

Dalam kitab Raddul Mukhtar, Ibnu Abidin berkata : …Terjadinya kepemilikan (dengan sebab jual beli), jangan digantungkan pada masa yang akan datang, sebagaimana tidak dibolehkan ta’liq dengan syarat, karena hal tersebut termasuk jenis qimar (spekulasi, tidak jelas terjadi atau tidak).

Ibnu Taymiyah dan Ibnu al-Qayyim berbeda dengan mayoritas ulama.

Kedua ulama terkemuka itu membolehkan adanya ta’liq (penggantungan/ persyaratan) dalam jual beli. Keduanya tidak melihat adanya gharar pada bay’ mu’allaq tersebut.

Pendapat yang terkuat, maslahah  dan rasional adalah pendapat Ibnu Taymiyah dan Ibnu al-Qayyim.

 

Jual Beli Mudhaf

Yaitu kesekapatan untuk melakukan jual beli, tetapi terwujudnya jual beli tersebut pada masa akan datang

Contoh :

Saya jual rumahku kepada anda dengan harga sekian pada awal tahun depan. Kemudion pembeli mengatakan, “Saya terima”.

Saya sewakan rumahku kepada anda pada awal tahun depan. Kemudian penyewa mengatakan, “Oke, Saya sewa”.

Menurut mayoritas ulama, akad jual beli itu tidak boleh diwujudkan, karena akadnya rusak. Mayoritas ulama menjadikan idhafah (ketergantungan pada waktu yang akan datang), sebagai bentuk gharar. Menurut Guru besar Ilmu Syariah Sudan, Siddiq Muhammad Amin Adh-Dhahir, bahwa di dalam akad idhafah kepada waktu masa depan tidak terdapat gharar. Menurutnya kemungkinan gharar paling terdapat pada ketidakpastian kondisi pasar (harga komoditi) di masa akan datang. Salah satu pihak bisa merasa rugi, dan sifatnya juga spekulatif.

Namun menurut Ibnu Taymiyah dan Ibnu Qayyim, jual beli mudhaf kepada masa akan datang boleh, sebagaimana bolehnya bay’ mu’allaq

Tarjih : Pendapat terkuat, relevan dan maslahah adalah pendapat Ibnu Taymiyah dan Ibnu al –Qayyim

 

Ihtikar

Dari Ma’mar, Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda, “Barangsiapa menimbun barang, maka ia berdosa“. [HR Muslim 1605]

Ihtikar adalah membeli barang pada saat lapang lalu menimbunnya supaya barang tersebut langka di pasaran dan harganya menjadi naik.

Para ulama berbeda pendapat tentang bentuk ihtikar yang diharamkan.

At Tirmidzi berkata [sunan III/567], “Hukum inilah yang berlaku dikalangan ahli ilmu. Mereka melarang penimbunan bahan makanan. Sebagian ulama membolehkan penimbunan selain bahan makanan. Ibnul Mubarak berkata, “Tidak mengapa menimbun kapas, kulit kambing yang sudah disamak (sakhtiyan), dan sebagainya“.

Kesimpulan ihtikar adalah :

  1. Dilihat dari kebutuhan manusia kepada barang tersebut dengan tujuan menaikkan harga terhadap kaum  muslimin.
  2. Penimbun barang yang berdosa adalah orang yang keluar masuk pasar untuk memborong kebutuhan pokok kaum muslimin dengan cara monopoli dan menimbunnya.

Asy Syaukani mengatakan [Nailul Authaar V/338], “Kesimpulannya, ‘illat hukumnya apabila perbuatan menimbun barang itu untuk merugikan kaum muslimin. Tidak diharamkan jika tidak menimbulkan kemudharatan atas kaum muslimin. Tidak peduli barang tersebut pokok atau tidak, asal tidak menimbulkan kemudharatan kaum muslimin”.

Yang tidak termasuk ihtikar adalah :

  1. Menyimpan bahan pokok yang melimpah melebihi kebutuhan masyarakat. Khususnya pada saat panen, untuk kemudian dijual kembali kepada masyarakat.
  2. Orang yang mendatangkan (impor) barang, lalu menjualnya dengan menunggu harga naik.

 

DAFTAR   PUSTAKA

 

  1. Dr.Abdullah al Mushlih,Prof Dr.Shalah ash-Shawi, Fiqh Ekonomi Keuangan Islam, Jakarta : Darul Haq, 2004.
  2. DR. Rachmat Syafei, MA, Fiqih Muamalah,  Bandung: Pustaka Setia 2001.

 

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *