Kenduri dan Lek-lekan di Sumberagung, Metro Kibang

Nama : wanti ningsih
Kelas : A
Npm : 1602100076
Prodi : PBS S1 / SEMESTER 1

BUDAYA JAWA DALAM PERSPEKTIF ISLAM DI DESAKU
( DESA SUMBERAGUNG KEC. METRO KIBANG, LAMPUNG TIMUR)
Budaya jawa merupakan salah satu kebudayaan yang dimiliki bangsa indonesia yang didalam tradisinya memiliki nilai-nilai keluhuran dan kearifan budaya yang menjadi ciri khas masyarakat jawa. Setiap tradisi dalam masyarakat jawa memiliki arti dan makna yang mendalam dan luhur.

Ada beberapa budaya yang ada dalam masyarakat jawa antara lain :
1. Lek-lekan ( tidak tidur semalam suntuk ) Adalah tradisi yang biasanya dilakukan oleh warga-warga dikampung saya. Biasanya para warga dikampung tersebut sudah menyiapakan acara masing-masing ada yang sekedar berkumpul dan lek-lekan dipos ronda, mengobrol di depan rumah, atau maka-makan di gang. Biasanya ada juga yang menanggab acara wayang dan janger.

2. TirakatanAdalah mencari jalan agar dekat dengan Allah , dengan melakukan ritual.

3. Dilarang menikah di bulan suro dengan alasan jika melakukan hajatan dibulan ini bisa mnendapatkan musibah.

4. Kenduri suronan, Tujuan diadakan kenduri suronan adalah untuk memperingati tahun jawa. Biasanyatanggal 10 suro dan dilaksanakan oleh semua warga desa dengan membawa berkat sendiri-sendiri.

5. Dalam masyarakar jawa Maulid Nabi, diperingati dengan berbagai acara keagamaan seperti pengajian, sholawatan, pembacaan syair berjanji dan lainya.

6. Nyandran artinya ruwah syakban Adalah tradisi pembersih makam oleh masyarakat jawa, umumnya di desa saya, kegiatan yang dilakukan antara lain seperti pembersihan makam leluhur, tabur bunga, dan puncaknya berupa slametan.

7. Menjelang hari perkawinan diadakan upacara srah-srahan yaitu pihak calon pengantin putra menyerahkan sebuah hadiah perkawinan kepada keluarga pihak calon pengantin putri berupa hasil bumi, terkadang ditambah dengan sejumlah uang.

8. Sehabis upacara ijab kobul dilangsungkan upacara panggih atau temon yaitu pengantin putra dan pengantin putri ditemukan yang berakhir duduk bersanding di pelaminan.

9. Megengan biasanya dilaksanakan pada sebelum H-1 bulan ramadhan dan sebelum idul fitri, biasanya dilakukan dengan membawa berkar sendiri-sendiri ke mushola atau masjid.

10. Kenduri selapanan bayi adalah untuk mendoakan anak agar terhindar dari penyakit, menjadi anak yang berbakti, kepada orang tua dan terhindar dari bencana, dan bermanfaat bagi masyarakat.

11. Kenduri mitoni adalah untuk memperingati kehamilan anak pertama yang masih dalam kandungan dan berumur kurang lebih tujuh bulan.

12. Kenduri puputan adalah untuk memperingati kalau tali pusar anak telah lepas. Biasanya dilakukan sebelum anak berumur selapan atau 35 hari.

13. Kenduri selikuran, tujuan diadakan kenduri selikuran adalah untuk memperingati puasa sudah 21 hari.

14. Slametan kematian seseorang.
a. Geblak yaitu slametan pada saat meninggalnya seseorang.
b. Nelung dino yaitu slametan hari ketiga setelah meninggalnya seseorang.
c. Mitong dino yaitu slametan hari ketujuh setelah meninggalnya seseorang.
d. Matang puluh dino yaitu slametan hari ke-40setelah meninggalnya seseorang.
e. Nyatos yaitu slametan hari ke-100 setelah meninggalnya seseorang.
f. Mendak sepisan yaitu slametan satu tahun setelah meninggalnya seseorang.
g. Mendak pindo yaitu slametan dua tahun setelah meninggalnya seseorang.
h. Nyewu yaitu slametan genap 1000 hari setelah meninggalnya seseorang, slametan seseorang ini sering disebut nguwis, nguwis artinya yang terakhir kali.

15. Yasinan setiap malam jumat, yang dilaksanakan bergilir dari rumah ke rumah warga yang lain, untuk mengirim doa kepada leluhur kita dan berdoa untuk keselamatan serta untuk meningkatkan eratnya tali silaturahmi.

Banyak sekali budaya masyarakat jawa yang diterapkan di masyarakat. Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, itulah budaya yang ada di desa saya yang masih di terapkan masyarkat dari dulu hingga sekarang yang telah saya ketahui. Begitu banyak budaya masyarakat jawa, namun tidak semua diterima dan diterapkan dimasyarakat, karena ada banyak pula budaya masyarakat jawa yang masih mempercayai adanya roh dan kekutan ghaib. Sehingga bertentangan dengan ajaran agama islam, seperti ngumbah keris pada malam 1 suro, menabur bunga di perempatan dan sesaji.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *