Tradisi Islam di Desa Bumiharjo Lampung

NAMA : WAHYU RIFAI
NPM : 1602100203
PRODI/ KELAS : S1 PBS (A)
MK : MSI

“TRADISI DAN BUDAYA YANG BERKAITAN DENGAN AGAMA ISLAM DI DESA BUMIHARJO”
Tradisi dan budaya yang berkaitan dengan agama islam adalah suatu bentuk kesenian dan kebiasaan yang berasal dan berkembang di masyarakat serta telah mendapat pengaruh dari agama islam. Contoh tradisi dan budaya yang ada di lingkungan saya adalah :

1) Suronan
Diperingati pada tanggal setiap satu muharrom atau satu suro, biasanya dipringati pada malam hari setelah maghrib pada hari sebelum tanggal satu biasnya disebut malam satu suro. Hal ini karena pergantian hari jawa dimulai pada saat matahari terbenam pada hari sebelumnya. Bukan pada tengah malam. Satu suro memiliki banyak pandangan pada masyarakat jawa, hal ini dianggap keramat trelebih jatuh pada jumat legi. Untuk sebagian masyarakat pada malam satu suro dilarang untuk kemana-mana kecuali untuk berdoa ataupun melakukan ibadah lainnya. Dilingkungan saya maoritas masyarakat besuku jawa, jadi tidak heran jika masyarakat saya melakukan tradisi suronan yang dilakukan setiap tahun. Tradisi suro yang ada dierah saya adalah bagi-bagi takir atau nasi bungkus yang bungkusnya terbuat dari daun pisang. Takir itu dari warga yang mau membuat dan diserahkan kepada panitia suronann, setelah itu pada sre sebelum mghrib dibagikan kepada warga yang hadir di tempat pembagian. Tempat pembagian biasanya dilakukan di perempatan tengah desa. Disamping itu juga dilakukan doa bersama, supaya desa menjadi aman. Setelah bagi-bagi takir warga biasanya tidak akan tidur semalam suntuk dengan perenungan diri sambil berdoa dan pagelaran wayang kulit. Cerita wayang kulit menceritakan tentang yang berbau islam. Jadi masyarakat bisa terhibur sekaligus perenungan diri sambil berdoa karena ceritanya tentang keislaman.

2) 7 hari ( mendoakan orang meninggal)
Budaya yang berkaitan dengan islam didaerah saya lainnya adalah seperti apabila ada orang meninggal maka setelah itu diadakan yasinan tujuh hari berturut-turut dimulai sejak orang itu meninggal, guna untuk mendoakan orang yang sudah meninggal supaya diampuni dosa-dosanya. Setelah tujuh hari kemudian seratus hari setelah seratus hari kemudian seribu hari pada hari-hari itu dilakukan yasinan. Budaya ini sudah melekat di masyarakat.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *