Kupatan, Piton, dan Marhabanan di Masyarakat Sumbersari

Kebudayaan yang Ada di Masyarakat Sumbersari

Budaya adalah cara untuk mengatasi masalah yang dihadapi manusia. Sedangkan kebudayaan adalah budaya yang di lakukan secara continue dan diterima di masyarakat. Seperti upacara-upacara yang di simbolkan yang sifatnya mengasah ke bentuk syukur kepada Tuhan. Salah satu kebudayan yang bersifat islami di masyarakat desa sekitar saya yang masih di lakukan contohnya adalah kupatan, piton-piton, suroan, marhabanan, kembar mayang, dan kejawen temu manten.

Kupatan adalah upacara syukur kepada Tuhan karena sudah diberi anugerah anak kepada seorang ibu, dan juga untuk menandakan pada usia kehamilan yang ke empat bulan itu Tuhan meniupkan roh kedalam janin yang dikandungnya. Biasanya dalam acara kupatan ada makanan yang berbeda, tidak seperti makanan yang ada di acara-acara kenduri seperti biasa. Yang membedakannya adalah ada makanan yang disebut kupat. Kupat ini mengandung arti semoga bayi yang di kandungnya selalu sehat dan dalam lindungan Tuhan.

Piton-piton adalah tahap kedua saat usia kandungan seorang ibu mencapai bulan ke tujuh. Dalam acara piton ini banyak makanan yang jumlahnya tujuh. Saat acara ini dilakukan, ibu dari bayi yang di kandung dibacakan Surat Taubat yang bertujuan agar bayi yang di kandungnya selamat sampai akhir nanti. Selain itu biasanya seorang ibu, jika yang di kandungnya adalah anak pertama, maka ada acara tambahan pada malam hari setelah kenduri yaitu ganti kain yang biasa disebut dengan “jarik” sebanyak tujuh kali dan ayah dari anak yang di kandung membelah kelapa. Jika kelapa yang dibelah hasilnya lurus maka anaknya berjenis kelamin laki-laki dan jika hasilnya tidak lurus maka anaknya adalah perempuan.

Marhabanan adalah acara potong rambut anak yang baru lahir. Anak yang baru lahir ini dipotong rambutnya  oleh beberapa orang dengan di iringi dengan lagu dan musik marhaban. Lalu rambut itu di masukkan kedalam air yang ada daun dadapnya.

Contoh yang lain adalah suroan. Suroan ini dilakukan pada saat malam satu suro. Masyarakat berkumpul di perempatan-perempatan dekat rumah mereka, lalu mereka membawa makanan dan berdoa bersama. Makanan itu kemudian di tukar-tukar dengan yang lain. Kebiasaan lain yang di lakukan pada saat suroan adalah mengadakan acara wayang kulit. Dimana acara ini bertujuan untuk membersihkan desa dari segala marabahaya dan bencana-bencana. Acara tersebut disebut dengan “ruwat”. Sebelum pertunjukan dimulai, biasanya masyarakat datang ke tempat tersebut untuk berdoa bersama dan sembahyang secara bergantian sesuai dengan keyakinan masing-masing.

Dari berbagai kebudayaan yang ada di daerah sekitar saya ini adalah semuanya sama-sama mengarah pada sikap syukur kepada Tuhan, namun berbeda konteks cara dan waktu pelaksanaan. Masyarakat disini sudah tidak terlalu kental dengan kebudayaan-kebudayaan yang ada sejak zaman dahulu. Beberapa kebudayaan ini tidak semua orang melakukan atau menggunakan. Hanya orang-orang tertentu yang masih menggunakan adat dan budaya. Karena semakin banyaknya orang yang tahu tentang perubahan dan perkembangan zaman.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *