Memahami Hadits Nabi

Pada garis besarnya pengertian hadis dapat diliat melalui dua pendekatan, yaitu pendekatan kebahasaan dan pendekatan istilah.
Diliat dari pendekatan kebahasaan, hadis berasal dari bahasa arab , yaitu dari kata badatsa, yabdutsu, badtsan, baditsan, dengan pengertian yang bermacam-macam. Kata tersebut misalnya dapat berarti al-jadid min al-asy ya’ sesuatu yang baru, sebagai lawan dari kata al-qadim yang artinya sesuatu yang sudah kuno atau klasik. Penggunaan kata al-badits dalam arti demikian dapat kita jumpai pada ungkapan badits al bina dengan arti jadid al bina artinya bangunan baru. Selanjutnya kata al baditS dapat pula berarti al karib yang berarti menunjukkan pada waktu yang dekat atau waktu yang singkat. Kata al badits kemudian dapat pula berarti al-khabar yang berarti mayuta badats bib wa yungal yaitu sesuatu yang diperbincangkan, dibicarakan atau diberitakan dan dialihkan dari seseorang kepada orang lain. Hadist dengan pengertian al khabar ini banyak dijumpai pemakaiannya di dalam al-quran. Kita misalnya menjumpai ayat-ayat yang mengandung kata al badits dalam arti al khabar berikut ini :

1. Maka hendaklah mereka mendatangkan (kabar/ berita) yang serupa dengan al-quran itu jika mereka mengatku orang-orang yang benar-benar. (Q.S Al-Thur 52-54)
2. Maka apakah barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling. Sekiranya mereka tidak beriman kepada berita ini. (Q.S Al-khahfi 18-26)
3. Dan terhadap nikmat tuhanmu maka hendaklah kamu mengatakannya. (sebagai rasa syukur). (Q.S Al-Dhuha 93-101)

Berdasarkan informasi ayat-ayat tersebut diatas, kitajuga dapat memperoleh suatu pengertian bahwa pengertian hadist dari segi bahasa lebih ditekankan pada arti berita, sungguhpun kata tersebut dapat berarti sesuatu yang baru atau sesuatu yang menunjukkan waktu yang dekat .

KRITIK:
Menurut saya buku ini memberikan kita tentang hadits-hadits ,dan membantu kita untuk mempelajari tentang hadits. Maka kini ilmu hadits tumbuh menjadi salah satu disiplin ilmu keislaman.

 

Catatan

  1. Belum melakukan review secara utuh tentang model penelitian hadits. Ini baru pengertian hadits.
  2. Kritik hanya seuprit. hehe…
  3. Plagiasi 10%.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *