Peran Sosiologis Antar Individu dan Kelompok dalam Masyarakat

Risa Wahyu Pratiwi semester  I  kelas B prodi S1 PBS

Daftar Pustaka

Abdulsyani. SOSIOLOGI Skematika, Teori, dan Terapan. Jakarta: Bumi Aksara.1992

Nata Abuddin. Metodologi Studi Islam.Jakarta: Rajawali Pers.2004

Sosiologis adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat dan menyelidiki ikatan antara manusia yang menguasai hidupnya sendiri. Sosiologis mencoba mengerti sifat dan maksud hidup bersama, cara terbentuk dan tumbuh serta berubahnya kerjasama hidup itu serta kepercayannya, keyakinan yang memberi sifat tersendiri kepada cara hidup bersama itu dalam setiap kerjasama terhadap hidup manusia. Sementara itu, Soerjono Soekanto mengartikan sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan yang membatasi diri terhadap persoalan penelitian. Sosiologi tidk menetapkan ke arah mana sesuatu seharusnya berkembang dalam arti memberi petunjuk-petunjuk yang menyangkut kebijaksanaan kemasyarakatan dari proses kehidupan bersama tersebut.

Pentingnya sosiologi dalam memahami agama, dapat menyimpulkan dan mempercayai dalam bentuk kepercayaannya masing-masing, karena banyak sekali ajaran agama yang berkaitan dengan masalah sosial. Besarnya perhatian agama terhadap masalah sosial ini selanjutnya mendorong setiap agama memahami ilmu-ilmu sosial sebagai alat untuk memahami agamanya dan adanya rasa saling menghormati agama satu dengan yang lainnya (Nata, 2004: 38-40)

Hubungan antara individu dan masyarakat atau kelompok sudah menjadi problem bagi kalangan filosof sosial. Pertentangan pendapat banyak berawal dari prioritas hubungan antara individu dengan masyarakat, yaitu apakah individu itu merupakan kebenaran bagi terbentuknya suatu masyarakat? Apakah kebenaran individu itu tergantung pada masyarakat?

Hubungan individu dengan masyarakat berawal dari pengaruh keluarga dan dari kondisi sosial keluarga kemudian membawa kesadaran bahwa dirinya berbeda pendapat dengan lingkungan sekitarnya. Dengan perbedaan-perbedaan ini berarti individu semakin menyadari akan kekurangan masing-masing, yang apabila tidak digabungkan, maka individu-individu itu tidak akan mencapai tujuan hidupnya dengan maksimal.

Charles H. Cooley menamakan proses tersebut sebagai the looking glass self, yaitu perkembangan tentang kesadaran diri sendiri sebagai cerminan dari pendapat orang lain. Dengan kenyataan ini antara lain banyak para ahli yang menyimpulkan bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri, tanpa memerlukan bantuan dan bekerjasama dengan orang lain. Menurut Hassan Shadily dalam bukunya Sosiologi untuk masyarakat Indonesia, mengatakan bahwa manusia akan tertarik kepada hidup bersama dalam masyarakat karena didorong oleh beberapa faktor, yaitu:

  1. Hasrat yang bersadar naluri (kehendak biologis yang diluar penguasaan akal) untuk mencari teman hidup.
  2. Kelemahan manusia selalau mendesak untuk mencari kekuatan bersama, yang terdapat dalam berserikat dengan orang lain, sehingga dapat berlindung bersama-sama dan dapat memenuhi kebutuhan kehidupan sehari-hari dengan usaha bersama.
  3. Aristoteles berpendapat, bahwa manusia ini adalah zoon peliticon, yaitu makhluk sosial yang hanya menyukai hidup bergolongn, atau sedikitnya mencari teman untuk hidup bersama, lebih suka dari pada hidup sendiri.
  4. Menurut Bergson, bahwa manusia ini hidup bersama bukan oleh karena persamaan, melainkan oleh karena perbedaan yang terdapat dalam sifat, kedudukan dan sebagainya.

Menurut Ogburn dan Nimkoff (dalam Abdul Syani : 1987) dalam teori proses asimilasi, mengatakan bahwa the process where by individuals or groups once dissimilar become similar, that is, become identified in their interests and outlook.

Dalam proses tersebut, toleransi merupakan indikator dari adanya integrasi kelompok dalam masyarakat, karena didalamnya terdapat proses penyesuaian sehingga terjadi suatu intergrasi. Menurut Ogburn dan Nimkoff, intergrasi manusia dalam kelompok dapat dicapai jika memenuhi beberapa syarat, yaitu:

  1. Anggota kelompok (masyarakat) merasa berhasil mengisi kebutuhan antara satu dengan yang lainnya.
  2. Tercapainya suatu konsensus (kesepakatan) mengenai norma-norma dan nilai-nilai sosial.
  3. Norma-norma cukup lama dan konsisten (tetap) tidak ada perubahan.

Dengan demikian akhirnya dapat disimpulkan bahwa individu dan masyarakat merupakan perangkat yang senantiasa ada didalam setiap pergaulan hidup, individu tak mungkin dapat hidup dengan sempurna tanpa masyarakat (Abdulsyani, 1992: 33-42)

 

Catatan

  1. Belum menjawab problem ini: Tradisi Lomba Malam Takbiran di Masjid al-Ikhlas Pekalongan, Peran Sosial Remaja Islam Masjid.
  2. Refereni baru 2.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *