Megengan dan Tradisi Islam di Asia Tenggara

Diah Ayu Pitaloka 1602100104  Kelas B S1 Perbankan Syariah Semester 1

Daftar isi :

Natta,Abuddin. Metodologi Studi Islam. Jakarta: Rajawali Pers. 2004

Khalil,Ahmad.Islam Jawa Sufisme dalam Etika dan Tradisi Jawa.Malang: UIN-Malang Press.2008

 

Islam yang datang ke indonesia adalah islam yang telah bertradisi lokal sesuai yang dianut para pembawanya (da’i). pada sisi lainnya sebelum islam datang masyarakat indonesia telah memiliki tradisi yang mereka yakini,tradisi ini berwujud keyakinan  ini di sebut  Animesme dan Dinamisme.

Kedua tradisi bercampur dengan islam dan tradisi lokal  akhirnya bertemu dengan masyarakat ,lama-lama tradisi itu berkembang, di wariskan dari generasi ke generasi  dan di transmisikan dari masa lalu ke masa kini jadilah tradisi yang muncul kemudian berada di tengah kombinasi antara tradisi-tradisi lain seperti : Pra Hindu-Budha, Tradisi Hindu-Budha dan Tradisis Islam yang sudah tidak asli lagi. Melalui proses pewarisan,dari perorangan atau dari generasi ke generasi lain tradisi mengalami perubahan baik dalam skala yang besar maupun skala kecil. (Khalil:2008,VII)

oleh karena itu, dalam memandang hubungan islam dengan tradisi  atau kebudayaan selalu terdapat variasi interpretasi sesuai dengan konteks lokalitas masing masing. Tradis islam lokal hasil konstruksi ulang ini sudah tentu memiliki keunikan yang khas. Dari proses perubahan, selalu saja ada hal-hal yang lestari di samping ada yang berubah, perubahan itu bukan hanya pada tataran wacana,tetapi juga pada tindakan nyata.

Hubungan sosial yang terjalin antara individu haruslah menyenangkan, damai dan ramah. Serta memperlihatkan kesatuan tujuan dengan kata lain hubungan itu harus didirikan dengan semangat rukun (jawa), semangat berada dalam keharmonisan, ketenangan, dan damai.

Pada adat jawa orang tua memiliki kewajiban membesarkan mereka selalu melindungi, mendidik, dan bahkan menghawatirkan masa depan mereka. Orang tua harus mempersiapkan anak keturunan mereka dalam menghadapi kehidupan mengawasinya agar tumbuh dewasa dan terhormat, sadar akan diri sendiri dan orang lain. karena alasan itulah orang tua jawa sering kali melakukan selametan dan kendurian sebagai wujud sodakoh yang mengekspresikan harapan dan doa baginya keselamatan dan kesinambungan dikemudian hari. Dalam slametan terungkap nilai-nilai yang dirasakan paling mendalam oleh orang jawa,nilai itu adalah nilai kebersamaan,persaudaraan,dan kerukunan yang terjalin antara warga selain mencerminkan kerukunan slametan juga menggambarkan bagaimana keselarasan hidup manusia dengan alam raya. (Khalil:2008,49-50)

Salah satu contoh dari tradisi itu adalah upacara Megengan, Upacara tersebut masih terpelihara dan masih terus dilakukan oleh masyarakat  di daerah Kudus dan Semarang. Upacara ini dilakukan untuk menyambut datangnya bulan suci ramadhan, selain di daerah jawa ada juga yang melakukan upacara ini di luar pulau jawa, Tradisi ini dibawa ketika orang jawa  bermigrasi  ke daerah lainnya dan mereka masih melakukan tradisi yang biasa mereka lakukan pada saat mereka di jawa, seiring berjalannya waktu tradisi itu pun mulai berkembang dan diterima oleh masyarakat sekitar, biasanya yang menyebar luaskan upacara megengan atau yang mengajak masyarakat untuk melakukan upacara ini adalah  para pemuka agama. begitu pula tradisi islam yang ada di daerah asia tenggara yang lainnya,tradisi mereka juga merupakan hasil dari perpaduan agama islam murni dengan tradisi yang sudah berkembang di suatu lingkungan masyarakat tetapi ada juga tradisi yang berasal dari pengalaman agama yang ada di masyarakat tersebut lalu  diproses oleh penganutnya dari sumber agama, yaitu wahyu melalui penalaran( Nata:2004,49)

Tradisi islam yang biasa dilakukan oleh masyarakat Asia Tenggara biasanya dilakukan bersama-sama bisa berupa makan bersama ataupun pawai budaya sebagai contohnya di Indonesia di lakukan acara grebek maulud, di singapura dan juga malasiya ketika sehabis pulang dari melaksanakan sholat idul fitri mereka memiliki tradisi untuk makan bersama sanak kerabat.

Dengan menggali nilai-nilai budaya tradisional kita bisa menemukan identitas diri yang mencerminkan kekhususan tertentu dalam berbudaya . dengan demikian, kebudayaan yang dibangun berfungsi sebagai instrumen untuk mengakomodasi masa kini dan membuka pintu untuk dinamika masa depan.

 

Catatan

  1. Daftar isi tidak sama dengan daftar pustaka.
  2. Sudah menjawab pertanyaan meski belum tuntas.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *