Anak sebagai Aktor Peringatan Hari Besar Islam

Tradisi adalah sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan untuk dilakukan sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan dalam suatu kelompok. Tradisi dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman, dari zaman ke zaman pasti ada sedikit perubahan entah dari segi pelaksanaannya atau lainnya. Di sini saya akan membahas tentang tradisi yang ada di lingkungan saya. Contohnya peringatan hari-hari besar Islam (Sztompka: 2004,71-73).

Tradisi setiap hari-hari besar Islam yaitu setiap hari besar Islam seperti Isra’ Mi’raj, Maulid Nabi, Tahun Baru Islam dan lain-lain, kami semua mengadakan pengajian di masjid setiap habis sholat Isya’. Pengajian diisi bukan dengan orang dewasa, tetapi dengan anak-anak TPA seperti pembawa acara, Qiroah Al-Qur’an, pembacaan doa, penceramah, dan lain-lain. Semua itu untuk mengajarkan keberanian anak-anak untuk tampil dihadapan orang banyak. Tidak hanya mengadakan pengajian, setiap orang membawa snack atau besek untuk dibawa dan saling tukar menukar makanan.

Mengapa anak-anak sebagai aktor utama peringatan hari-hari besar Islam? Karena menurut orang dewasa, cara seperti ini dapat membangun kreativitas dan keberanian anak sejak dini. Anak-anak dapat memiliki sifat seperti optimis, bersikap rela, menguasai emosi, tahan penderitaan, berlaku sabar, dan percaya pada diri sendiri. Anak-anak pun bisa mengetahui dan paham bagaimana sejarah adanya hari-hari besar Islam seperti Maulid Nabi yang menjelaskan tentang sejarah hidup Rasulullah. Anak-anak juga dapat memiliki hubungan baik dengan masyarakat dan dapat berinteraksi sosial dengan baik, suka membantu orang, menganggap semua orang itu sama, dan menghargai orang lain (Ahmad: 2008, 15).

Seperti pembahasan sosiologis yaitu mampelajari tentang ilmu bersosialisasi dengan masyarakat. Sosiologi mencoba untuk memahami sifat dan bersosialisasi dengan masyarakat, cara tumbuh dan terbentuk serta keyakinan dan kepercayaan yang memberi sifat cara bersosialisasi dalam setiap hidup manusia. Sosiologi juga adalah media yang digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam mempelajari agama (Nata: 2011, 38-39).

Bukan hanya itu saja, Anak-anak juga lebih beriman dan dekat kepada Allah, menaati, mencintai dan berkepribadian yang mulia. Dimulai sejak dini agar anak-anak memiliki akhlak yang mulia melalui sikap, kebiasaan-kebiasaan, dan pengalaman yang akan melatih kepribadiannya di masa depan. Anak-anak dilatih memiliki adap sopan santun Islam serta membiasakan mereka untuk bersikap patuh. Membuat anak-anak terbiasa membenci akhlak yang rendah dan berpegang pada akhlah yang mulia. Makanya, dengan cara inilah orang dewasa melatih anak-anak untuk bertanggung jawab seperti pelaksanaan kegiatan hari-hari besar Islam (Ahmad: 2008, 16).

Zaman sekarang banyak anak-anak remaja yang bergaul dengan bebas dan banyak yang meninggalkan tradisi ajaran Islam. Terbukti bahwa pendidikan orang tua pun tidak cukup untuk membuat anak zaman sekarang mendapat pendidikan Islam yang sesuai dengan yang diharapkan. Banyak anak zaman sekarang juga yang tidak mengenal tradisi di lingkungannya sendiri, bahkan masyarakat di lingkungannya pun mereka tidak mengenalnya. Semua akibat ketidak peduliannya dengan lingkungan di sekitarnya sendiri (Ahmad: 2008, 26-27).

Mengapa bisa seperti itu? Karena sejak kecil mereka tidak dibiasakan untuk bersosialisasi seperti sholat berjama’ah di masjid, mengaji dan berkumpul mengadakan acara-acara yang bersifat positif. Makanya orang dewasa membuat perkumpulan yang biasa disebut anggota perkumpulan risma, bukan hanyak anak remaja saja yang ada didalam anggota tersebut, tetapi anak-anak pun ikut dalam anggota tersebut, supaya anak-anak dapat membiasakan melakukan kegiatan yang positif sampai mereka menginjak remaja.

Lalu orang dewasa mengembangkan tradisi yaitu pengajian di hari-hari bedar Islam dengan peran utamanya anak-anak, mereka bukan ingin merubah tradisi hanya saja memperbaharui sedikit tradisi yang sudah ada menjadi tradisi yang sedikit unik.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Muhammad Abdul Qadir. 2008. Metodologi Pengajaran Agama Islam. Jakarta: Rineka Cipta.
Nata, Abuddin. 2011.Metodologi Studi Islam. Jakarta: Rajawali Pres.
Sztompka, Piotr. 2004. Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta: Prenada Media.

 

PUTRI HANDAYANI

1602100169

Mahasiswi Semester 1 Kelas B Prodi S1

Perbankan Syari’ah IAIN Metro

 

Catatan

  1. Sudah menjawab pertanyaan.
  2. Tinggal perlu kontekstualisasi di kampungmu.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *