Peran Lelaki dan Perempuan di Pengajian Ibu-Ibu di Srigading, Lampung Timur

  1. Kenapa bukan perempuan yang pengisi ceramah dalam pengajian?

Karna di daerah rumah saya jarang ada ibu-ibu yang bisa mengisi acara pengajian rata-rata adalah kaum laki-laki seperti ustadz salah satunya adalah ustadz fauzi. Dia yang selalu di percaya dan sering berceramah di mana-mana, di sana memang sudah terbiasa seperti itu, dan Sumber Daya Manusia yang sangat sedikit pengetehuan reliji nya sangat minim bagi kaum perempuan, jadi yang bisa memimpin acara pengajian adalah laki-laki salah satunya adalah pak fauzi.

Ustadz fauzi ini adalah orang asli di desa saya yaitu desa srigading, bahkan beliau memiliki langgar atau mushola di samping rumah nya yang biasa tempat orang-orang sholat dan mengaji, bahkan dia selalu mengajari anak-anak mengaji sehabis sholat mahgrib sambil menunggu sholat isya. Kenapa di daerah rumah saya lebih memilih langgar atau mushola? Karna masjid lumayan jauh dari rumah saya dan berhubung juga tempat tinggal beliau tidak jauh dari rumah saya. Pak fauzi ini memiliki anak yang sekarang menjadi ustadz juga seperti beliau dan sudah memiliki keluar masing masing. Pak fauzi sangak di segani oleh orang orang karna kebaikan nya dan keramahan nya.

  • Faktor dakwah dan misi

Dakwah dan misi yang di sampaikan oleh para juru dakwah terkait dengan masalah-masalah pembinaan umat dan pemberdayaan ekonomi serta manjauhkan dari sikap pemusuhan antarumat beragama dan tidak harus membeda-bedakan (Suprayogo, 1977: 32).

2.  Ada tidak perempuan yang mengisi ceramah dalam pengajian itu tersebut?

Menurut saya ada perempuan yang mengisi acara pengajian tetapi bukan pemimpin acara nya melainkan pengisi pengajian tersebut karena jarang perempuan yang bisa mimpin acara pengajian karna sangat sedikit sumber daya manusia dan sedikit penegetahuan reliji nya. Mungkin bisa dihitung perempuan yang bisa mengisi acara pengajian itu tersebut.

Salah satunya yaitu ibu sulyani biasa di panggil buk sul, dia adalah seorang perempuan yang tahu tentang agama karna dia dulu salah satu guru TPA saya dan rumah nya pun tidak jauh dari rumah saya mungkin agak sedikit. Dia orang yang ramah baik hati dan tidak sombong dia bersosialisasi dengan warga warga. Dia guru TPA di desa saya yaitu desa srigading dan TPA nya tidak jauh juga dari rumah saya, dia mengajar dari sejak dulu waktu saya kecil sampe sekarang kerja nya bukan cuma mengajar di TPA saja tetapi beliau juga kerja sambilan yaitu berdagang keliling menggunakan sepeda motor. Beliau memiliki anak salah satu nya lulusan STAIN Metro, dan ia sekarang bekerja di salah satu bank BMT di daerah desa saya untuk membantu orang tua nya. Bu sul juga mempanyai suami yang mengajar di TPA yang sama juga yaitu tempat saya sekolah TPA, tetapi tidak tahu kenapa bu sul tetap ingin bekerja mengajar TPA dan sambilan berdagang keliling. Selama saya masih belajar di TPA atau skolah di TPA dulu ada yang nama nya mengaji atau tadarus di rumah murid dan bergilir seperti hal nya pengajian, sama sama bergilir dirumah masing masing dan menyiap kan makanan atau cemilan dirumah itu tersebut dan dilaksanakan setiap hari minggu. Di sini beda nya tadarus TPA atau mengaji dengan pengajian ibu-ibu yaitu pengajian khusus ibu-ibu dan di pimpin oleh kaum laki-laki atau ustadz sedangkan tadarus atau mengaji oleh para murid TPA ada perempuan dan juga laki-laki dan itu juga di pimpin oleh guru kita terkadang laki-laki terkadang juga perempuan tergantung giliranya. Di zaman TPA saya dulu yang bisa sekolah di TPA itu tersebut tidak harus orang kaya yang penting mencukupi dana untuk masuk TPA itu tersebut dan guru nya pun tidak pilih pilih dan tidak harus MI (Madrasah Ibtidaiyah). Beda dengan zaman sekarang menurut buku yang saya baca, (a) Bagi MI yang memiliki cukup dana, penambahan jam pelajaran di jadwalkan secara terstruktur dan penambahan jam pelajaran tersebut dihitung sebagai jam tambahan yang memiliki konsekuensi admnistratif (b) Bagi MI yang tidak memiliki dana cukup, penambahan jam di lakukan oleh guru masing-masing dan program TPA yang materi pelajarannya diintegrasi dengan kurikulum MI dan guru TPA-nya juga diambil dari guru MI (Maimun, 1994: 196-197).

 

RUJUKAN

Mughni, syafiq A. 1999. Konflik Sosial dan Kerukunan Umat Beragama. Makalah, tidak diterbitkan.

Syarif, A.H. 1995. Pengenalan Kurikulum Sekolah dan Madrasah. Bandung: Citra UMBARA.

Simuh dkk. 2001. Islam dan Hegemoni social. Jakarta: Mediacita.

 

Yesinta

1602100207

Mahasiswi Semester 1 kelas B Prodi S1 Perbankan Syariah

IAIN Metro

 

Catatan

  1. Tulisan ini berhasil mendeskripsikan, tetapi organisir gagasan belum rapi.
  2. Masih ada salah ketik dan eja.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *