Malam Satu Sura, Potret Relasi Islam dan Jawa

NAMA : ALIF WULAN TRISNA
KELAS : B
NPM : 1602100082
UAS METODOLOGI STUDI ISLAM
Pengertian tradisi
Tradisi merupakan suatu adat kebiasaan yang turun temurun dari nenek moyang yang masih dijalankan di dalam masyarakat. Tradisi adalah traditium atau traditio yang berkabar penerusan mengenai isi atau sesuatu yang diserahkan dan sejarah masa lampau dalam bidang adat bahasa, tata kemasyarakatan tertutup dimana hal-hal yang lazim dianggap benar dan paling baik atau sesuatu yang diteruskan.

Sebelum kedatangan Islam, masyarakat Indonesia telah mengenal tradisi.
Ide yang mengenai tradisi, yang disebut tradisionalisme, pendek kata, lahir dari ikatan perkawinan. Ia muncul dari perceraian antara cita-cita tersebut harusnya menjadi pembimbing. Ia adalah hasil perceraian antara masa lalu dengan masa kini. Sebenarnya, masyarakat-masyarakat tradisional adalah semacam masyarakat yang dengan sendirinya bebas dari ide tentang tradisi. Dalam dunia Islam, misalnya,banyak pembicaraan yang telah berlangsung hingga sekarang selama kurang lebih lima puluh tahun mengenai ‘tradisi’ Muslim, ‘warisan’ Muslim, dan seterusnya.Catatan perut (Daftary Farhad, 2001, hal 12)

Para pengamat dan peneliti telah membuktikan bahwa Orang Jawa memang memiliki kepercayaan yang beragam dan campur aduk. Praktik keagamaan orang islam banyak dipengaruhi oleh keyakinan lama: Animisme, Hindu, Budha maupun kepercayaan alam, Dinamisme. Catatan perut (Khalil, Ahmad,2008, hal 46)
Berikut ini salah satunya adalah tentang tradisi peringatan perayaan satu suro ( 1 muharram) yang terjadi di kalangan masyarakat jawa dan di bawah ini adalah penjelasannya :

Definisi bulan SURO
kata “SURO” merupakan sebutan dari bulan Muharram bagi masyarakat Jawa. kata tersebut sebenarnya berasal dari kata “ASYURA” yang berarti 10 dalam bahasa arab. kata suro juga menunjukkan arti penting 10 hari pertama bulan itu dalam sistem kepercayaan islam-jawa. dimana dari 29 atau 30 hari bulan muharram. yang dianggap “Keramat” adalah 10 hari pertama, atau lebih tepatnya 1 – 8 . tetapi pada tepatnya kekeramatan tersebut di sebabkan oleh budaya “kekeratonan” bukan kekeramatan bulan itu sendiri.

Bagi keraton ada dua hari besar yang berhubungan dengan agama Islam yang diperingati besar – besaran :
1. “Gerebeg Maulud” memperingati kelahiran nabi besar Muhammad SAW. ( Rabi’ul awal )
2. Bulan Suro

tetapi, perayaan yang pertama lebih besar dari kedua (bulan suro).
Catan perut (Misteri bulan (book by K.H Muhammad Sholikhin) )

Pandangan Bulan Suro menurut Islam

Dalam agama ini, bulan Muharram atau bulan Suro, merupakan salah satu di antara empat bulan yang dinamakan bulan haram. Lihatlah firman Allah Ta’ala berikut.
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan suci. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah [9] : 36)
Lalu apa saja empat bulan suci tersebut? Hal ini dijelaskan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
« …السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ »
“… satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan suci. Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3025)
Jadi empat bulan suci yang dimaksud adalah
(1) Dzulqo’dah; (2) Dzulhijjah; (3) Muharram; (4) Rojab.

Lalu kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan haram ?
Berikut penjelasan ulama mengenai hal ini.

Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, “Dinamakan bulan haram karena dua makna.
Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian. Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula sangat diagungkan jika dilakukan pada bulan haram ini.” (Lihat Zadul Maysir, Ibnul Jauziy, tafsir surat At Taubah ayat 36)
Islam Menyebut Bulan Muharram sebagai Syahrullah (Bulan Allah)
Suri tauladan dan panutan kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah yaitu Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 2812)
Sangat mulianya bulan Muharram ini. Bulan ini betul istimewa karena disebut syahrullah yaitu bulan Allah, dengan disandarkan pada lafazh jalalah Allah. Karena disandarkannya bulan ini pada lafazh jalalah Allah, inilah yang menunjukkan keagungan dan keistimewaannya. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 1/475)
Catatan perut (muslim.or.id)
Tradisi saat malam satu suro bermacam-macam tergantung dari daerah mana memandang hal ini,sebagai contohnya tradisi kungkum atau berendam di sungai besar, sedang atau sumber mata air tertentu, yang paling mudah ditemui di Jawa khusnya di seputaran Yogyakarta adalah tirakatan (tidak tidur semalam suntuk) dengan tuguran (perunungan diri sambil berdoa) dan pagelaran wayang kulit.
Sedangkan dalam Islaminya, didaerah saya yakni di 29 Banjarsari adanya kegiatan setiap malam suro yaitu dengan cara yasinan dan doa bersama dengan tujuan supaya terhindar dari bencana dan minta keselamatan dari Allah SWT. Yang dilakukan bersama-sama oleh warga sekitar di desa 29 Banjarsari

KESIMPULAN
Pesan :
Kita jangan terpengaruh atas berita – berita yang beredar, akan tetapi kita selidiki dulu kebenarannya sehingga tidak menimbulkan kekeliruan yang mendalam, yang membuat sugesti yang tidak – tidak terhadap bulan suro atau muharram,

ada suatu perkataan : “Nak, hati – hati di bulan ini, jangan sering kebut – kebutan, nanti bisa celaka. ini bulan suro lho (keramat)” .
Nah pemahaman seperti ini harus diubah dengan yang sebenarnya, karena bulan suro atau muharram adalah bulan yang dianggap suci, tidak pantas apabila anggapan tersebut telah memfitnah bulan itu sendiri.

Nah kita sebagai makhluk ciptaan-Nya sebaiknya selalu berpegang teguh pada keyakinan (iman) terhadap suatu hal yang sering beredar di kehidupan masyarakat. dan dalam konteks (bulan suro), kita sebaiknya selalu berpengang teguh atas keyakinan kita ajaran Islam yang pada akhirnya menuju jalan lurusnya juga selalu mengucap seperti rasa syukur kita kepada Sang Maha Pencipta langit dan bumi serta seisinya. agar permasalahan yang begitu tabu / mitos tersebut dapat dimengerti dengan sebenarnya.

DAFTAR PUSTAKA

Daftary Farhad,2001,Tradisi-Tradisi Intelektual Islam,Jakarta; PT Gelora Aksara, hlm.12
Khalil Ahmad,2008,Islam Jawa sufisme dalam Etika & Tradisi Jawa,Yogyakarta; Sukses Offset, hlm.48
Misteri bulan (book by K.H Muhammad Sholikhin)
muslim.or.id

 

Catatan

  1. Belum menjelaskan relasi antara Islam dan tradisi Jawa.
  2. Tuhfatul Ahwadzi itu apa?
  3. Tidak perlu menuliskan “catatan perut.”

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *