budaya yang ada dimasyarakat

Nama : Tesa Wiandiri
Npm : 1602100196
Prodi / Kelas : S1 Perbankan Syariah / A
Mata Kuliah : Metodologi Studi Islam

1. Malam Satu Suro
Satu suro biasanya diperingati pada malam hari setelah maghrib pada hari sebelum tanggal satu biasanya disebut malam satu suro, dalam masyarakat jawa, hari ini dianggap keramat bila jatuh pada jum’at legi. Untuk sebagian masyarakat pada mala satu suro dilarang untuk pergi kemana-mana kecuali untuk berdoa ataupun melakukan ibadah lain. Dan budaya tersebut juga ada dilingkungan saya.

Di lingkungan saya untuk memperingati malam suro, yaitu dengan mengadakan perkumpulan dirumah kepala desa atau biasanya di Masjid. Warga desa memperingati malam suro ini setiap satu tahun sekali dan sudah menjadi tradisi di desa saya. Warga desa biasanya membuat tumpeng, ambeng, atau kueh untuk dipersembahkan kepada orang-orang yang hadir dalam acara tersebut. Terkadang ada juga warga desa yang membuat sesaji dirumah untuk mendoakan para leluhurnya.

Tradisi tersebut membuat tali silaturahmi menjadi baik dan kuat karena satu desa berkumpul semua dalam acara tersebut. Di masjid juga ketika malam suro ini mengadakan santunan anak yatim dan menjadi tradisi disetiap tahunnya. Mengadakan santunan tersebut bertujuan untuk meringankan ibunya yang menjadi orang tua tunggal. Santunan tersebut dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sekolah dan kebutuhan pribadinya. Lalu tumpeng, ambeng, dan kueh disajikan dan dibagikan kepada orang-orang yang menghadiri acara tersebut untuk diberikan kepada keluarganya yang dirumah, karena biasanya kaum laki-laki yang datang ke acara tersebut. Kalaupun ada kaum perempuan hanya sedikit dan hanya ada dalam acara pembagian santunan anak yatim. Disitu para kaum perempuan membaca sholawatan atau albarjanji.

2. Kembar Mayang
Tradisi perkawinan Jawa lekat dengan uba rampe yang disebut kembar mayang, yakni sepasang hiasan simbolik yang terbuat dari rangkaian janur dan batang pohon pisang. Orang Jawa menciptakan kembar mayang sebagai salah satu pelengkap ritual pengantin Jawa, disetiap bahan yang digunakan untuk membuat kembar mayang adalah simbol doa dan harapan keluarga terhadap jalannya sebuah prosesi perkawinan adat Jawa.

Dalam tradisi Jawa kedua kembar mayang tersebut memiliki nama, masing-masing dinamakan Dewandaru dan Kalpandaru. Sejak dulu kembar mayang dipercaya sebagai pinjaman dari para dewa, sehingga setelah upacara selsai harus dikembalikan dengan membuang diperempatan jalan atau dihanyutkan disungai. Biasanya kembar mayang ini ketika calon perempuan dan laki-laki akan dipertemukan sembari membaca sholawat dengan tujuan kehidupan rumah tangganya nanti selalu berada dijalan yang benar, pasangan harus hati-hati dalam kehidupan mereka, pasangan harus melindungi keluarga mereka, dan berharap hidup bahagia.

3. Ziarah Kubur akan memasuki bulan Ramadhan dan mendekati Idul Fitri
Masyarakat di desa saya melakukan ziarah kubur ketika akan memasuki bulan puasa yaitu bertujuan untuk mendatangi keluarganya yang sudah meninggal dunia, dengan membawa bunga untuk menyekar dan membersihkan rumput diliang lahatnya hal ini sudah menjadi budaya di desa saya. Karena dengan ini kita menunjukkan sikap yang pengertian dan menghormati bagi yang sudah meninggal dunia, serta mengirimkan doa dengan membaca ayat-ayat al-Qur’an untuk memohon kepada Allah agar selalu dimaafkan atas segala dosa-dosanya dan diterima dengan baik disisi-Nya.

Tidak jauh berbeda dengan hal diatas, masyarakat di desa saya juga mengunjunginya kembali ketika akan memasuki hari raya Idul Fitri lebih tepatnya 2 atau 1 hari sebelum Idul Fitri, hal ini berkaitan dengan diri kita sendiri untuk meminta maaf kepada keluarga yang sudah meninggal dunia dengan cara mengirimkan doa. Ziarah kubur merupakan peran penting untuk bersilaturahmi kepada keluarga atau kerabat yang sudah meninggal dunia, hal ini menjadi rutin dan sudah membudaya di desa saya.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *