Tradisi Berjanjen dan Jaringan Pondok Pesantren di Kelurahan Yosomulyo

 

  1. Tradi Berjanjen

Tradisi berjanjen ini dibawa dari salah seorang warga pendatang, nama beliau yaitu zayzin. Beliau lulusan dari pondok pesantren. Beliau membimbing para jamaah pengajian agar mengerti bagaimana Al-Barzanji atau berjanjen. Tradisi ini sudah sekitar dua sampai tiga tahun ada di Kelurahan Yosomulyo. Berikut pengertian dan tujuan berjanjen menurut beliau:

  1. Pengertian Berjanjen

Berjanjen adalah salah satu tradisi yang ada di Kelurahan Yosomulyo. Nama Berjanjen ini hanyalah nama sebutan untuk tradisi tersebut. Karena mayoritas masyarakatnya adalah suku Jawa. Berjanjen atau lebih dikenal dengan Al-Barzanji adalah sebuah karya seni tulis yang memuat riwayat kehidupan Nabi Muhammad SAW dari masa kecil sampai beliau diangkat menjadi Rasul dan kepribadian beliau yang dijadikan suri tauladan bagi manusia.

  1. Tujuan Berjanjen

Tujuan dari tradisi berjanjen antara lain:

  1. Menjaga tali silaturrahim antar warga.
  2. Membentuk rasa persamaan di antara orang dewasa atau tua, antara orang miskin dan orang kaya.
  3. Meningkatkan kecintaan kepada Allah SWT.
  4. Meningkatkan iman umat manusia.
  5. Meningkatkan kecintaan kepada Rasullulah SAW.
  6. Melestarikan tradisi yang hilang.

Dalam pengertian dan tujuan tradisi berjanjen tersebut terlihat terdapat pendekatan sosiologis, karena tradisi tersebut mengambarkan tentang keadaan masyarakat serta gejala sosial yang saling berkaitan yang mendorong terjadinya hubungan, mobilitas sosial serta keyakinan-keyakinan yang mendasari terjadinya tradisi tersebut. Pendekatan sosiologis pun dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami agama. Karena banyak sekali ajaran agama yang berkaitan dengan masalah sosial. Besarnya perhatian agama terhadap masalah sosial ini mendorong kaum agama memahami ilmu-ilmu sosial sebagai alat untuk memahami agamanya. Dari segi agama, ibadah yang mengandung segi kemasyarakatan diberi ganjaran lebih besar daripada ibadah yang bersifat perseorangan. Contohnya selain tradisi berjanjen ada juga salat yang dilakukan secara berjamaah dinilai lebih tinggi nilainya daripada salat yang dikerjakan sendirian (munfarid) dengan ukuran satu berbanding dua puluh derajat.(Nata:2011,39)

 

  1. Jaringan Pesantren di Kelurahan Yosomulyo

Karakteristik dan Fungsi Pondok Pesantren Secara Umum:

  1. Tipologi pondok pesantren

Keberadaan pondok pesantren dan masyarakat merupakan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan, karena keduanya saling mempengaruhi. Pondok pesantren berkembang dari adanyab dukungan masyarakat atau secara sederhana muncul atas inisiatif masyarakat baik secara individual maupun kolektif. Pondok pesantren menjadi cerminan pemikiran masyarakat dalam mendidik dan melakukan perubahan sosial terhadap masyarkat. Oleh karena itu pondok pesantren berubah tampilan sebagai lembaga pendidikan yang bergerak di bidang pendidikan dan sosial. Secara faktual ada 3 tipe pondok pesantren yang berkembang antara lain:

  1. Pondok Pesantren Tradisional

Pondok pesantren ini masih tetap mempertahankan bentuk aslinya. Sistem pengajarannya adalah penghapalan yang titik akhirnya dari segi metodologi cenderung kepada terciptanya santri yang menerima dan memiliki ilmu. Kurikulumnya tergantung sepenuhnya kepada para kyai pengasuh pondoknya. Santri yang menetap didalam pondok disebut santri mukmin dan santri yang tidak menetap disebut santri kalong.

  1. Pondok Pesantren Modern

Orientasi belajarnya cenderung mengadopsi seluruh sistem belajar secara klasik dan meninggalkan sistem belajar tradisional. Penerapan sistem belajarnya nampak pada penggunaan kelas-kelas belajar baik dalam bentuk madrasah maupun sekolah. Kurikulum yang digunakan sesuai dengan kurikulum sekolah atau madrasah yang berlaku secara nasional. Perbedaan dengan sekolah atau madrasah terletak pada porsi pendidikan agama dan bahasa Arab lebih menonjol sebagai kurikulum lokal.

  1. Pondok Pesantren Komprehensif

Pondok pesantren ini merupakan sistem pendidikan dan pengajaran gabungan antara yang tradisional dan modern. Di dalam pondok pesantren ini menerapkan pendidikan dan pengajaran kitab kuning dengan metode sorongan, bandongan, wetonan dan pendidikan keterampilan. Pondok pesantren telah berkiprah dalam pembangunan sosial kemasyarakatan dan sebagai lembaga pendidikan agama yang mampu melakukan perubahan terhadap agama, ilmu dan teknologi. (Ghazali:2001,13)

  1. Karakteristik Pondok Pesantren

Lima unsur pondok pesantren antara lain:

  1. Masjid, di dunia pesantren masjid dijadikan ajang atau sentral kegiatan pendidikan islam baik dalam pengertian modern maupun tradisional.tempat berlangsungnya proses belajar mengajar adalah masjid. Di dalam masjid santri dibina mental dan dipersiapkan agar mampu mandiri di bidang keagamaan.oleh karena itu selain dijadikan wadah (pusat) pelaksanaan ibada, masjid juga dijadikan sebagai tempat latihan.
  2. Pondok

Keberadaan pondok dalam pesantren merupakan wadah penggemblengan, pembinaan dan pendidikan serta pengajaran ilmu pengetahuan. Mendidik secara keluarga berlangsung di pondok sedangkan mengajarnya di kelas dan masjid/musholla.

  1. Kyai

Kyai pada hakekatnya yaitu gelar yang diberikan kepada seseorang yang mempunyai ilmu di bidang agama Islam. Keberadaan kyai dalam pesantren memang sangat sentral sekali karena sebagai penggerak dalam mengemban dan mengembangkan pesantren sesuai dengan pola yang dikehendakinya.

  1. Santri

Istilah santri hanya terdapat di pesantren sebagai pengejawatahan adanya peserta didik yang haus akan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh seorang kyai. Oleh karena itu santri pada dasarnya berkaitan erat dengan keberadaan kyai dan pesantren.(Ghazali:2001,17)

  1. Fungsi Pondok Pesantren

Fungsi pondok pesantren umumnya ada empat antara lain:

  1. Pesantren Sebagai Lembaga Pendidikan.
  2. Pondok pesantren sebagai lembaga da’wah
  3. Pondok peantren sebagai lembaga sosial.(Mujib:2010,234)

 

Karakteristik dan Fungsi Pondok Pesantren di Kelurahan Yosomulyo.

Pondok pesantren yang ada di Kelurahan Yosomulyo adalah pondok pesantren Al-Abror. Berikut beberapa kesimpulan mengenai pondok pesantren tersebut:

  1. Pondok pesantren Al-Abror merupakan salah satu alternatif jawaban umat islam dalam memecahkan masalah sosial termasuk masalah lingkungan hidup yang dapat dikembangkan, sebagaimana contoh yang dilakukan oleh pondok pesantren Al-Abror dengan tetap berpegang teguh pada etika Islam.
  2. Pondok pesantren al-Abror merupakan pondok pesantren yang tetap mempertahankan ciri tradisionalnya dan menerima adanya modernisasi baik bidang pendidikan maupun bidang sosial. Dalam menghadapi masalah sosial, sikap pondok pesantren Al-Abror sangat bersifat menerima dan menyesuaikan terhadap apa yang berkembang sekarang ini sebagaiman kondisi Negara Indonesia yang sedang membangun, pondok pesantren Al-Abror mencoba bersifat proaktif misalnya adanya usaha peningkatan pendapatan masyarakat dengan cara menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang arti pentingnya lingkungan hidup bagi kehidupan manusia.
  3. Salah satu ciri khusus dari pondok pesantren Al-Abror adalah sistem kekerabatan kedudukan kyai sangat kuat, baik sebagai pengasuh pondok maupun kelompok pengajian baik dalam masyarakat, maupun dalam pondok pesantren tersebut.
  4. Pengembangan lingkungan hidup versi pondok pesantren Al-Abror adalah bersifat totalitas, sebab seluruh tipe lingkungan hidup digarap pola pengembanganya melibatkan masyarakat secara langsung melalui kegiatan pengajian, pendidikan dan pelatihan.
  5. Penyampaian gagasan pengembangan lingkungan disampaikan dengan metode tanya jawan dan ceramah dalam kegiatan pengajian, serta metode bek rembek yang merupakan kegiatan musyawarah yang dilaksanakan masyarakat.
  6. Metode atau cara penyampaian tersebut merupakan bukti bahwa pondok pesantren efektif dalam menumbuhkan kesadaran lingkungan.

Rujukan

Nata, Abuddin.2011.Metodologi Sudi Islam.Jakarta:Rajawali Pers.

Ghazali,M.Bahri.2001.Pendidikan Pesantren Berwawasan Lingkungan.Jakarta:Pedoman Ilmu Jaya

Mujib, Abdul.2010.Ilmu Pendidikan Islam.Jakarta:Kencana Prenada Media

 

 

Linda Sri Mulyani

NPM: 1602100041

Mahasiswi Semester 1 Kelas B Prodi S1 Perbankan Syariah

IAIN  Metro

 

Catatan

  1. Tulisan sudah lumayan meski struktur gagasan belum solid.
  2. Tulisan ini belum menjawab pertanyaan dengan jitu. Pertanyaannya adalah bagaimana jaringan pesantren berperan dalam penyebaran tradisi Berjanjen. Jadi tradisi berjanjen diposisikan sebagai pintu masuk untuk mengaji jaringan pesantren.
  3. Jaringan pesantren itu: pembawa tradisi tadi asalnya dari mana, nyantri di mana, gurunya siapa, mengapa tradisi berjanjen yang ditradisikan, dlsb.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *