Ingkung Ayam dalam Tradisi Islam di Nusantara Perspektif Filosofis

Nama : Farah Fa’adillah
S1-Pebankan Syariah, Semester 1, Kelas B

Daftar Pustaka
Natta,Abuddin. Metodologi Studi Islam. Jakarta: Rajawali Pers. 2004

 

Pendekatan Filosofis
Secara harfiah, kata filsafat berasal dari kata philo yang berarti cinta pada kebenaran, ilmu, dan hikmah. Selain itu filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat serta berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, Poerwardaminta mengartikan filsafat sebagai pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai sebab-sebab, asas-asas, hukum dan sebagainya terhadap segala yang ada di alam semesta ataupun mengenai kebenaran dan arti “adanya” sesuatu.
Filsafat pada intinya berupaya menjelaskan inti, hakikat, atau hikmah mengenai sesuatu yang berada di balik objek formanya. Filsafat mencari sesuatu yang mendasar, asas, dan inti yang terdapat di balik yang bersifat lahiriah. (Nata,2004:42)

Tradisi Islam di Nusantara
Indonesia terkenal sebagai Negara yang memiliki kekayaan alamnya dan beranekaragam budayanya. Kondisi ini bisa terjadi karena adanya adat-istiadat dari berbagai suku bangsa yang berbeda-beda, yang menghiasi tradisi yang ada di dalamnya. Tradisi merupakan adat kebiasaan turun-temurun dari nenek moyang yang masih dijalankan oleh masyarakat. Tradisi budaya Nusantara yang telah mendapatkan pengaruh dari ajaran Islam seperti, Hadrah dan salawat kepada Nabi Muhammad saw, Qasidahan, Slametan, dan masih banyak lagi.

Seni budaya dan tradisi lokal yang bernafaskan Islam sangat banyak dan memiliki manfaat terhadap penyebaran agama Islam. Untuk itulah sebagai generasi Islam, maka kita harus mampu mengapresiasikan diri terhadap seni budaya dan tradisi tersebut. Bentuk dari apresiasi terhadap seni budaya dan tradisi tersebut adalah dengan merawat, melestarikan, mengembangkan, simpati dan menghargai secara tulus atas hasil karya para pendahulu.

Pada zaman sekarang ini, ada sebagian kelompok umat Islam yang mengharamkan dan yang memperbolehkan seni budaya dan tradisi yang ada. Mereka mengharamkan karena pada zaman Rasulullah saw tidak pernah diajarkan seni dan tradisi tersebut. Dan yang membolehkan dengan dasar untuk sarana dakwah penyebaran agama Islam, bersilahturahmi, dan mempertahankan tradisi-tradisi islam pada zaman nenek moyang. Maka dari itu seni budaya dan tradisi tidak harus diharamkan secara total karena memang mengandung nilai-nilai keislaman.

Umat Islam adalah umat yang tidak hanya memikirkan urusan akherat, tetapi juga memikirkan kehidupan dunia. Kehidupan di dunia tidak hanya kebutuhan yang bersifat fisik. Manusia juga membutuhkan sentuhan-sentuhan rohani dan kebutuhan tersebut bisa melalui musik atau seni. Karena seni yang baik mengandung keindahan.

Tradisi lokal juga ada yang baik dan yang buruk. Tradisi yang baik kita pelihara sehingga menjadi warisan budaya nasional. Dan tradisi yang buruk dibuang agar tidak ditiru oleh generasi berikutnya.

INGKUNG AYAM
Ingkung adalah suatu hidangan yang biasanya disuguhkan bersamaan dengan acara selamatan/kenduri, maulid nabi Muhammad SAW dan lain-lain. Ingkung ayam ini dimasak utuh dan diberi bumbu opor, kelapa dan daun salam. Lalu dihidangkan bersamaan dengan nasi uduk. Di daerah saya ayam yang digunakan bisa menggunakan ayam kampung atau bisa juga menggunakan ayam jago. Menggunakan ayam kampung karena pada saat bayi yang belum dilahirkan belum mempunyai kesalahan apa-apa masih suci. Dan menggunakan ayam jago karena Ayam jago memiliki ciri khas gagah berani, dan sok jagoan. Selain itu juga menggunakan ayam jago karena kita sebagai manusia untuk tidak mengikuti (ingkar) apa yang dilakukan oleh jago. Dalam ajaran jawa dikenal MO LIMO, yaitu suatu perbuatan dosa yang tidak boleh dikerjakan, yang jika dikerjakan akan terjerumus dalam perbuatan yang buruk.

Dosa Mo Limo
1. Mabuk (suka mabuk)
2. Main (suka berjudi)
3. Madat (Suka Nyabu)
4. Madon (Suka bermain perempuan)
5. Maling ( Suka Nyuri)

Biasa nya orang yang menghadiri acara selametan/kenduri, maulid nabi Muhammad SAW dan lain-lain diberi hidangan oleh tuan rumah yang mengadakan acara tersebut. Tuan rumah menyiapkan makanan (berkat) untuk dibawa pulang oleh masyarakat yang menghadiri pengajian. biasanya makanan nya terdiri dari nasi putih, telur rebus, tempe bacem, urap, mie kuning. selain dibagikan dalam bentuk berkat tuan rumah juga menyediakan makanan kecil seperti kue, gorengan dan air minum.

Ketika acara/pengajian tersebut sudah selesai mereka masyarakat yang menghadiri pengajian tersebut diberi makanan (berkat) dan ingkung ayam yang tadi sebagai simbol tersebut dibagikan ke setiap orang yang mengadiri acara. hal ini memiliki makna bahwa kita sesama manusia harus saling berbagi walaupun hanya sedikit.

 

 

Catatan

  1. Pembahasan ingkung hanya sedikit dan belum menjawab pertanyaan
  2. Referensi hanya ada 1.
  3. Plagiasi 36%

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *