Takir dalam Perspektif Filsafat Islam

Takir adalah wadah atau tempat yang berbentuk mangkuk yang terbuat dari daun pisang (hardjasoemantri:2007,146) yang dilipat dan disematkan di ujung sisi kanan dan kiri dengan lidi dan berisikan nasi, sambal goreng dengan lauk pauk telur goreng. Dalam perspektif filsafat awal mulanya takir disebut sego golong yang artinya nasi dalam bungkusan daun pisang yang sebelahnya dibiarkan terbuka (khalil:2008,281).

Takir-takir yang digunakan pada acara kenduri di perempatan itu dibagikan kembali tetapi orang yang membawa takir tersebut tidak boleh mengambil lagi milik mereka melainkan mengambil takir milik orang lain secara acak agar rejeki orang terebut tidak sama dengan awalnya, nasibnya bisa lebih baik dan orang lain pula dapat merasakan rejeki yang orang lain dapat. Dalam islam perspektif tersebut ada dalam hadist dari Abu Hurairah radhiyallu’anhu, ia berkata Nabi Muhamad SAW bersabda dengan firman Allah, yang artinya “Allah sesuai dengan perasangka hamba kepada-Nya”(Muttafaqun ‘alaih). Hadist ini mengjarkan bahwa sebagai seorang muslim harus memiliki perasaan yang huznuzhon kepada Allah dan memiliki sikap roja’ (harap) kepada Allah.

Kajian normatif islam di suku jawa (khalil:2008,273), misalnya kenduri diperempatan pada satu suro, yang dilakukan pada orang islam di pedesaan. Kenapa dilakukan di perempatan karena zaman dulu belum banyak mushola dan masjid yang berdiri sehingga orang mencari alternatif lain dengan menggunakan perempatan sebagai tempat kenduri merayakan satu sura dan kebiasaan tersebut masih dilakukan di era modern seperti ini dengan alasan mempertahankan kebudayaan hal tersebut juga dilakukan oleh orang Hindu-Budha yang melakukan ritual keagamaan di perempatan. Masyarakat suku Jawa mayoritas memeluk agama islam, namun dalam praktiknya, pola keberagamaan mereka tidak jauh dari pengaruh unsur keyakinan dan kepercayaan pra-islam, yakni keyakinan animisme-dinamisme dan Hindu-Budha(simuh:,111).

Takir daun pisang yang zaman dulunya takir daun pisang ini seperti wadah yang digunakan sebagai tempat sesaji orang Hindu-Budha. Karena dulu minimnya wadah seperti mangkok plastik belum ada seperti sekarang, takir yang menggunkan daun pisang juga sebagai pemanfaatan sumber daya alam.

Takir juga memberikan simbol, tujuan, dan sebagai bentuk nyata dari kepedulian kaun pedasaan di tengah-tengah kesederhanaan. Karena hanya dengan satu bungkus takir orang bisa bershodaqoh dan shodaqoh tidak hanya bisa dilakukan oleh orang mampu.

Takir bisa diartikan tak kikir, karena di samping sebagai tradisi juga sebagai sarana beramal. Menunjukan bahwa orang desa itu tidak kikir walaupun hidup didalam serba kekurangan bahkan masyarakat memiliki rasa berbagi yang kuat. Bahkan zaman dulu orang membuat takir yang hanya berisikan sambel goreng tempe, mie dan telur goreng sekarang menambahkan lauk pauk seperti ikan goreng, ayam goreng, dan lauk pauk yang enak. Dengan takir ini membuat orang terlatih pentingnya bershodaqoh dan tidak menjadi manusia yang kikir.

Takir juga bisa digunakan untuk membuat apem sebagai cetakannya dan takir juga digunakan sebagai tempat atau wadah jenang procot untuk acara sajen slametan tingkeban(hardjasoemantri:2007,147).

Namun sekarang banyak orang menggantikan fungsi takir dengan wadah yang serupa yang terbuat dari kertas tak jarang juga orang yang melakukan kenduri itu membukus nasi seperti halnya nasi bungkus yang diikat dengan karet gelang. Semua itu dilakukan dengan alasan kepraktisan. Masyarakat berfikir, kalau bisa beli buat apa susah payah membuat sendiri dan yang harus blusukan di kebon hanya untuk mencari daun pisang hanya uuntuk membuat takir untuk kenduri. Dan menghabiskan waktu untuk membuat sendiri.

Bisa ditarik kesimpulan bahwa takir bukan hanya wadah yang terbuat dari daun pisang untuk kenduri. Tapi takir memiliki perspektif filsafat tersendiri, dari mulai sejarah takir, fungsi takir dan manfaat takir dalam filsafat agama islam sebagai salah satu bentuk shodaqoh yang sederhana dan orang tak perlu berkecukupan untuk bershodaqoh.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Khalil, ahmad. 2008. Islam jawa. Malang: UIN-Malang Press

Hardjasoemantri, koesnadi. 2007. Jurnal Sejarah dan Budaya. Yogyakarta: Pelestari Budata

 

Catatan

  1. Tulisan sudah menjawab pertanyaan. Hanya saja organisasi ide masih belum runtut.
  2. Referensi juga hanya 2 buah.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *