Tabur Bunga di Jalan, Perspektif Fenomenologis

NAMA: CAHYA KRIS MAWAR NINGSIH

PRODI: S1 PBS

KELAS: B

MK: UAS METODOLOGI STUDI ISLAM

Jika kita mendengar kata “Menabur Bunga di Jalan mungkin itu terdengar konyol dan terdengar syirik atau musrik, tetapi di samping syirik dan musrik dalam tradisi tersebut masyarakat masih melekat kepada kebudayaan agama yang mereka miliki yaitu agama islam, karena pelaksanaan tradisi menabur bunga ini dikaitkan dengan acara sebelum lebaran baik lebaran idul fitri maupun idul adha dan juga sebelum puasa saat masyarakat berziarah ke makam keluarga, saudara, dan kerabatnya. Kegiatan tersebut tentunya bukan termasuk kegiatan yang syirik dan musyrik selama pada saat melakukannya masyarakat tidak menginap di jalan yang ditaburi bunga, tidak meminta wasiat dari arwah yang menunggu jalan dan bunga di sini dimaksudkan untuk tanah yang didiami arwah nenek moyang bukan untuk roh yang mendiami jalan. (Dhani Willyuddin:207,48)

Di sini masyarakat jawa lah yang masih tetap mempertahankan kebudayaan menabur bunga di jalan, karena masyarakat jawa mereka sangat menjaga dengan baik hubungan persaudaraan dan pertalian darah yang ada di dalam keluarganya sehingga persembahan itu digunakan sebagai penghormataan pertalian darah di antara yang masih hidup dan yang sudah meninggal. Mereka percaya dan meyakini penghormatan tersebut sebagai pelindung bagi keluarga bahkan juga masyarakat karena tradisi tersebut dimaksudkan untuk meminta restu kepada nenek buyut terdahulu yang sudah meninggal. Hal tersebut tidak selamanya syirik dan musrik karena ketika nenek buyut masih hidup tentunya kita menghormati dan menjaga beliau begitupun ketika sudah meninggal masyarakat diminta untuk tetap ingat dan menghormati nenek buyutnya walaupun sudah meninggal. Masyarakat jawa percaya ketika akan melakukan aktifitas dan kegiatan lainnya mereka juga harus meminta restu dan ijin atau lebih dikenal dengan istilah pamit, karena jika mereka meminta restu orang yang sudah tua di dalam keluarganya maka semuanya akan dimudahkan. Masyarakat tak hanya menaruh atau menempatkan bunga di jalan begitu saja, mereka juga membaca doa yang dipanjatkan dengan setulus hati dan kasih sayang yang penuh limpahan berkah. Doa tersebut bukan dipanjatkan untuk roh melainkan kepada Allah SWT untuk ahli kubur yang sudah meninggal, hal itu sama seperti saat masyarakat berziarah ke kuburuan. (Khalil Ahmad:2008,133)

Tetapi pada saat ini mungkin masyarakat modern tidak terlalu mengetahui hal tersebut sehingga kalaupun mereka menjalankan tradisi tersebut mereka hanya ikut ikutan saja. Di sini justru masyarakat yang hanya ikut ikutan salah mengartikan tradisi menyebar bunga di jalan sebagai tradisi meminta keselamatan saat berkendara di jalan dan tentunya hal itu termasuk kegiatan yang syirik. Terlebih lagi jika di jalan tersebut tidak pernah ada korban jiwa atau pun orang yang kecelakaan tentunya masyarakat akan menganggap doa dan sesembahannya tersebut dikabulkan oleh roh roh yang menempati jalan ataupun nenek moyang mereka. Padahal di satu sisi hal tersebut adalah cara setan dan sejenisnya untuk membodohi manusia sehingga mereka terjebak kedalam syirik dan musrik tanpa mereka sadari. Sehingga di sini masyarakat harus lebih teliti mengkaji tradisi yang ada di dalam masyarakat sebagai sarana untuk bersyukur dan berdoa kepada Allah SWT tanpa meninggalkan nilai kebudayaan yang ada. (Dhani Willyuddin:2007,121)

Saat ini haya sebagian desa saja yang masih menjalankan tradisi ini karena di desa tersebut masih ada golongan tua yang berpegang teguh kepada tradisi semacam itu. seperti yang kita tau golongan tua di Indonesia dengan bermacam macam budaya ini kususnya kebudayaan jawa yang ada di desa saya, mereka masih kental akan tradisi warisan leluhur tersebut. Tapi bagi desa yang mungkin mayoritas golongan tuanya sedikit tradisi tersebut sudah tidak ada lagi kalaupun ada mungkin itu jarang sekali ditemui. Sebaiknya sebagai generasi muda masyarakat tetap menjalankan tradisi dari leluhur tetapi dalam arti kata menjalankan di sini merupakan respons tradisionalis yang tetap berpegang teguh kepada agama dan keyakinan, karena jika kita dapat mengkaji dan menelaah langsung dengan ikut andil di dalam tradisi tersebut, bisa di bilang tradisi menyebar bunga di jalan ini bukan lah tradisi yang syirik atau pun musyrik jika masyarakat masih berpegang kepada syariat agama. (Hakim Atang Abdullah:1999,193)

 

DAFTAR PUSTAKA

Dhani, Willyuddin A.R. 2007. Bahaya Tradisi Kemusyrikan Di Sekitar Kita. Bogor: Abu Hanifah Publishing

Khalil, Ahmad. 2008. Islam Jawa. Malang: UIN Malang Press

Hakim, Atang Abdullah dan Jaih Mubarok. 1999. Metodologi Studi Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset

 

Catatan

  1. Sudah bagus, tetapi masih perlu pendalaman ke objek yang dikaji. Riset lapangannya masih kurang.

 

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *