Ketupat dalam Prespektif Filosofis

Ketupat sebagai tradisi islam di nusantara dalam prespektif pilosofis
Secara harfiah, filsafat berasal dari kata philo yang berarti cinta kepada kebenaran, ilmu dan hikmah. Filsafat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha mencari sebab akibat serta berusaha nenafsirkan pengalama-pengalaman manusia.menurut kamus besar bahasa Indonesia filsafat adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai sebab-sebab, asas-asas, hukum dan sebagainya terhadap segala yang ada di dalam alam semesta ataupun mengerakan kebenaran dan arti adanya sesuatu.(kodir, 2014, hlm 115)

Berfikir secara filosofis terebut juga dapat memahami ajaran agama, dengan maksud agar hikmah, hakikat atau inti dari ajaran agama tersebut dapat di mengerti dengan saksama.menggunakan pendekatan filosofis ini akan dapat memberikan makna terhadap sesuatu yang dijumpainya, seperti seseorang yang mengerjakan suatu amal ibadah tidak akan terasa kekeringan spiritual yang dapat menimbulkan kebosanan.semakin mampu menggali filosofis dari suatu ajaran agama, maka semakin meningkat pula sikap, penghayatan, daya sprituallitas yang di miliki seseorang,(nata, 1998, hlm 43)

Karena demikiaan pentingnya pendekatan filosofis ini, maka kita menjumpai bahwa filsafat telah di gunakan untuk memahami berbagai bidang lainnya selain ajaran agama misalnya filsafat hukum islam, filsafat sejarah, filsafat ekonomi, filsafat kebudayaan, dan lain sebagainya.(nata,2004, hlm 42)

Seperti kebudayaan islam yakni perayaan idul fitri biasa di sebut dengan bodo kupat, yang istilah tersebut telah mendarah daging oleh kalangan umat islam terutama pada suku jawa.telah di buktikan bahwa perayaan idul fitri tidak bisa lepas dari ketupat, karena stiap ucapan selamat idul fitri tertera gambar dua ketupat atau lebih.ketupat juga tidak hanya sebagai lambang idul fitri saja, tetapi ketupat juga memiliki makna khusus yang bersangkutan dengan ajaran islam.

Kanjeng sunan kalijaga adalah seorang wali yang pertama kali memperkenalkan ketupat kepada msyarakat jawa, dan membudayakannya dengan dua kali BAKDA, yaitu bakda lebaran dan bakda kupat.bakda kupat di laksanakan pada seminggu sesudah lebaran.pembuatan ketupat biasanya di buat sehari sebelum lebaran.setelah di anyam menjadi bentuk ketupat kemudian ketupat itu di isikan beras dan di rebus,setelah masak biasanya ketupat tersebut di antar ke rumah-rumah kerabat sebagai tanda kebersamaan.

Dalam filosofi jawa ketupa tidak sekedar makanan khas dan lambang saja tetapi ketupat ini memiliki makna yang berasal dari bahasa jawa ngaku lepat dan laku papat.ngaku lepat artinya mengakui kesalahan yang kita lakukan selama ini.laku papat artinya empat sudut yang ada pada ketupat, dan empat sudut tersebut bermakna empat tindakan dalam perayaan lebaran.

1. Lebaran
Lebaran bermakna usai menandakan berakhirnya waktu puasa. Kata lebaran berasal dari kata lebar yang artinya pintu pengampunan di buka lebar.
2. Luberan
Luberan yang artinya melimpah, luberan bermakna sebuah symbol ajaran sedekah untuk kaum tidak mampu atau mengeluarkan zakat fitrah menjelang lebaran.
3. Laburan
Laburan artinya kapur atau sesuatu yang dapat menjernihkan air,hal ini bermakna agar manusia dapat selalu menjaga kesucian lahir dan batin satu sama lain.
4. Leburan
Leburan artinya habis atau hilang ini bermakna pada perayaan lebaran, dosa dan kesalahan kita akan di lebur krenadi hari idhul fitri ini umat islam di tuntut untuk saling memaafkan antara satu denganyang lain.

Adapun filoshofi dari ketupat itu sendiri,
1. Mencerminkan beragam kesalahan manusia,hal ini dapat dilihat dari rumitnya membuat ketupat.
2. Kesucian hati
Kita dapat melihat makna kesucianhati dari ketupat ketika kita telah membukanya,dan terlihat betapa putihnya nasi yang berada pada ketupat tersebut.hal ini mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah memohon ampunan atas kesalahan kita.
3. Ketupat biasanya dihidangkan bersama dengan sayur yang bersantan, maka dalam pantun jawa di sebutkan “kupat santen” kulo lepat nyuwon ngapunten (saya salah mohon maaf).
Ini menunjukan bahwa suatu hal yang biasa saja seperti halnya ketupat,tetapi memiliki makna yang luar biasa,jika kita menkajinya dengan lebih dan menggunakan prespektif filosofis.

Daftar pustaka
Nata, abuddin. 2004. metodilogi studi islam.jakarta: rajawali pres
Abdul kodir, koko, 2014, metodilogi studi islam. Bandung :pustaka setia
Nata, abuddin. 1998. metodilogi studi islam.jakarta: rajawali pres

 

Catatan

  1. Sudah bagus. Hanya saja, fokus kajian ketupatnya kurang mendalam.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *