KARAKTERISTIK ISLAM DALAM HUKUM

A. Pengertian Hukum Islam
Pengertian hukum islam hingga saat ini masih rancu dengan pengertian Syariah, ada pendapat bahwa Hukum Islam adalah “sekelompok dengan syariat yaitu ilmu yang berkaitan dengan amal perbuatan manusia yang diambil dari nash Al-qur’an dan Al-sunnah, amal perbuatan yang dimaksud adalah segala amal perbuatan orang mukallaf yang berhubungan dengan bidang ibadah, muamalah, kepidanaan dan sebagainya, bukan berhubungan dengan akidah” (nata:2012,298)
“Jadi perbedaan antara Syariah dan hukum Islam dapat dilihat dari dasar dan dalil yang digunakan, jika syariah berdasarkan sumber Al-qur’an dan As-sunnah yang sifatnya permanen (kekal dan abadi) tidak bisa di rubah atau digantikan dengan yang lain sumber yang lain dan tidak akan hilang ditinggal zaman, sedangkan hukum islam didasarkan pada dalil-dalil ulama melalui penalaran atau ijtihad, dengan berpegang teguh pada syariat dan bersifat sementara dan dapat berubah”.
B. karakteristik islam dalam hukum
1. Sempurna
Berarti hokum itu akan selalu sesuai dengan segala situasi dan kondisi manusia dimanapun dan kapanpun, baik sendiri maupun berkelompok. Hal ini didasari bahwa syariat Islam diturunkan dalam bentuk yang umum dan hanya garis besar permasalahannya saja. Sehingga hukum-hukumnya bersifat tetap meskipun zaman dan tempat selalu berubah. “Penetapan hukum yang bersifat global oleh al Quran tersebut dimaksudkan untuk memberikan kebebasan kepada umat manusia untuk melakukan ijtihad sesuai dengan situasi dan kondisi ruang dan waktu” (Djamil:1997,46)

2. Harakah (Elastis, dinamis, fleksibel dan tidak kaku)
Hukum Islam bersifat dinamis berarti mampu menghadapi perkembangan sesuai dengan tuntutan waktu dan tempat. Hukum Islam bersifat elastic meliputi segala bidang dan lapangan kehidupan manusia. Hukum Islam tidak kaku dan tidak memaksa melainkan hanya memberikan kaidah dan patokan dasar secara umum dan global. “Sehingga diharapkan tumbuh dan berkembang proses ijtihad yang mengindikasikan bahwa hukum Islam memang bersifat elastis dan dinamis, dapat diterima di segala situasi dan kondisi” (Khallaf:2001,3)

. 3. Universal
Hukum Islam meliputi seluruh alam tanpa ada batas wilayah, suku, ras, bangsa dan bahasa. “Keuniversalan ini tergambar dari sifat hukum Islam yang tidak hanya terpaku pada satu masa saja, Tetapi untuk semua zaman hukum Islam menghimpun segala sudut dari segi yang berbeda-beda di dalam satu kesatuan dan akan selalu cocok dengan masyarakat yang menghendaki tradisi ataupun modern, seperti halnya hukum Islam dapat melayani para ahl ‘aql, ahl naql dan ahl ro’yiatau ahl hadits” (Shidieqy:1975,105)

4. Sistematis
Berarti antara satu ajaran dengan ajaran yang lain saling bertautan, bertalian dan berhubungan satu sama lain secara logis. Kelogisan ini terlihat dari beberapa ayat al Quran yang selalu menghubungkan antara satu institusi dengan institusi yang lain. “Selain itu hukum Islam mendorong umatnya untuk beribadah di satu sisi tetapi juga tidak melarang umatnya untuk mengurusi kehidupan duniawi” (Khallaf;2001,4)

5. Berangsur-angsur (tadrij)
Hukum Islam dibentuk secara tadrij dan didasarkan pada al Quran yang diturunkan secara berangsur-angsur. Keberangsuran ini memberikan jalan kepada manusia untuk melakukan pembaruan karena hidup manusia selalu mengalami perubahan. Pembaruan yang dimaksud adalah memperbarui pemahaman keagamaan secara sistematis sesuai dengan perkembangan manusia dalam berbagai bidang.

6. Bersifat ta’abuddi dan ta’aquli
ibadah yang mengandung sifat ta’abuddi murni yang artinya makna (ide dan konsep) yang terkandung di dalamnya tidak dapat dinalar atau tidak masuk akal. Yang tidak dapat dipahami dari sifat kepatuhan pada perintah Allah swt, merendahkan diri kepadaNya dan mengagungkanNya. Ta’aquli ini bersifat duniawi yang maknanya dapat dipahami oleh nalar (ma’qula al ma’na) atau rasional. Maka manusia dapat melakukannya dengan bantuan nalar dan pemikiran manusia.

C. Sumber-Sumber Hukum Islam
1. Al-qur’an
Al-qur’an adalah sumber pertama bagi hukum islam, dimana segala ketentuan dan hukum harus bersumber pertama pada Al-qur’an, jadi para ulama dalam menyelesaikan masalah sumber pertama adalah Al-qur’an, jika di dalam Al-qur’an tidak di jelaskan maka memperoleh sumbernya dari As-sunnnah, karena setelah Al-qur’an sunnah berada di posisi yang kedua.

2. Al-sunnah
Sunnah adalah suatu ucapan, perbuatan, atau penetapan Nabi Muhammad SAW. Jadi para ulama menyelesaikan suatu permasalahan, jika di Al-qur’an tidak ada maka para ulama menggunakan As-sunah sebagai pemacahan masalah.
3. Ijma
Ijma adalah suatu permufakatan atau kesatuan pendapat para ahli muslim yang mujtahid dalam segala zaman mengenai sesuatu ketentuan hukum syariat. Ijma berada di keurutan yang ke-3 setelah Al-qur’an dan As-sunnah.

4. Qiyas
suatu upaya unuk membandingkan suatu perkara lain yang mempunyai suatu pokok masalah atau sebab akibat yang sama. Qiyas berada dikeurutan yang ke-4 setelah Al-qur’an, As-sunnah dan ijma.
5. Ijtihad
Ijtihad adalah meluangkan kesempatan dalam usaha untuk mengetahui ketentuan-ketentuan hukum dari dalil syariat, tegasnya mencurahkan hikmah dan kesungguhan untuk mendapatkan ketentuan-ketentuan hukum dari sumber-sumbernya yang pokok. Jadi ijtihad berusaha untuk mencari sumber yang belum dibahas dalam Alqur’an dan As-sunnah dengan cara menyelesaikan suatu perkara dengan menggunakan akal sehat yang masuk akal dan berdasarkan pertimbangan yang matang.
6. Dalil-dalil hukum lainya
Seperti istihsan, Al-masalihul-mursalah, dan istishab. Dalil-dalil yang baru ini semuanya berpangkal kepada pendapat, penerapan kecerdasan dan kepada ketekunan mempelajari dalil-dalil hukum dengan disertai faktor-faktor lain yaitu “mengikuti keadaan-keadaan yang menjadi faktor kemaslahatan manusia didalam kehidupan masyarakat dan memperhatikan segala sesuatu yang mempunyai hubungan atau pengaruh terdekat kepada terwujudnya keadilan dan kebaikan mutlak” (Sudjono:1976,178)
Para ulama sepakat bahwa hukum Islam yang telah disepakati adalah Al-qur’an, As-sunnah, Ijma, dan Qiyas, sedangkan sumber-sumber yang lain masih adanya perbedaan pendapat antara para ulama (belum sepakat).

Hukum-hukum buatan manusia sangat berbeda dengan hukum-hukum yang datang dari Allah yang tidak layak dibandingkan, “karena perbedaan yang sangat mencolok antara Allah sebagai Pencipta dan manusia sebagai yang diciptakan, sehingga tidak akan pernah diterima akal secara sama membandingkan apa yang dibuat manusia dengan apa yang dibuat Tuhan manusia” (Qaththan: 2001,19).
Maka sifat hukum Islam adalah selalu berkembang dan selaras dengan perkembangan zaman. agama Islam bukan sebagai agama yang keras dan memaksa umatnya agar tunduk pada sifat hukum yang otoritas, tapi islam mengajarkan umatnya untuk mencari hukum dengan memahami Aspek-aspek lingkungan sosial, lingkungan dan tempat.

DAFTAR PUSTAKA
Nata,abudin.2012. “Metodologi studi islam”.Jakarta:Raja grafindo persada
Sujono,ahmad.1976.”filsafat hukum dalam islam”.bandung:Al-ma’arif
Djamil,Fathurrahman.1997.”FilsafatHukum Islam”.Jakarta:LogosWacanaIlmu
Khallaf,Abdul Wahab.2001.”Sejarah Pembentukan dan Perkembangan Hukum Islam”.Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *