Analisis Sosiologis atas Tradisi Yasinan Bagi Orang yang Sudah Meninggal

Yasinan atau tahlilan orang meninggal dalam masyarakat Jawa biasa disebut dengan kendurenan. Bagi masyarakat Melayu biasa disebut dengan kenduri, sedangkan di Aceh biasa menyebutnya dengan kanduri. (Khairudin, Moh.: 2015,177)

Yasinan merupakan bagian yang sudah lama menjadi tradisi bagi masyarakat pedesaan atau perkampungan. Yasinan atau tahlilan merupakan tradisi bagi masyarakat desa yang telah dianjurkan bahkan disunnahkan oleh Rasullulah dan para sahabatnya. Biasanya yasinan ditemukan di daerah pedesaan yang masyarakatnya dari kalangan NU (Nahdhatul Ulama). (Hayat: 2014,297)

Yasinan biasanya dilakukan oleh sebagian umat islam setelah seseorang meninggal dunia. Selain membaca bacaan tahlil dibacakan juga ayat-ayat Al-Qur’an, sholawat nabi dan bacaan-bacaan lain seperti membaca surat Yasin yang terdiri dari 83 ayat, membaca surat Al-Fatihah, surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, Al-Baqarah ayat 1-5, Al- Baqarah 163, Al-Baqarah 284-286, surat Hud ayat 73, Al-Ahzab ayat 33 dan 56, membaca khauqalah, istighfār, tahlīl, tasbīḥ, shalawat dan ditutup dengan doa. Yasinan biasanya ditutup dengan do’a untuk keselamatan orang yang sudah meninggal dan keteguhan hati bagi keluarga yang ditinggalkan. (Hanik, Siti Umi: 2011, 47)

Masyarakat Jawa dari dahulu mempunyai keyakinan bahwa orang yang sudah meninggal akan meninggalkan tempat tinggalnya dan keluarga yang ditinggalkan akan mengadakan yasinan untuk menandai jarak yang ditempuh roh yang meninggal ke tempat yang abadi. Di desa saya juga sudah menjadi tradisi bagi kalangan masyarakat NU (Nahdathul Ulama) bila ada orang atau keluarga yang meninggal malam harinya ada tamu yang datang untuk bersilaturahmi baik saudara maupun tetangga dekat dan jauh. Mereka ikut berbelasungkawa atas orang yang sudah meninggal maupun keluarga yang ditinggalkan. (Khairudin, Moh.:2015,174)

Yasinan orang meninggal biasanya di malam pertama kematian sampai dengan malam ketujuh. Yasinan nelung dino atau yasinan yang dilakukan setelah tiga hari kematian. Kata orang tua di desa saya yasinan nelung dino ini dimaksudkan untuk penghormatan kepada roh orang yang sudah meninggal agar roh yang meninggal terpisah dari badannya dengan mudah. Sedangkan yasinan mitung dino atau yasinan yang dilakukan setelah tujuh hari kematian dimaksudkan untuk penghormatan kepada roh, karena setelah tujuh hari roh mulai keluar dari rumah. Yasinan mitung dino bertujuan agar roh orang yang sudah meninggal dapat keluar dari rumahnya dengan mudah. Roh yang sudah keluar akan berhenti sejenak di pekarangan rumah atau berada di halaman rumah, untuk mempermudah perjalanan roh meninggalkan pekarangan/halaman rumah dengan cara yasinan atau tahlilan mendoakan roh tersebut.

Tradisi yasinan hari ke empat puluh atau disebut patang puluh dino dilaksanakan setelah hari ke empat puluh dari kematian. Yasinan patang puluh dino ini bertujuan untuk mempermudah perjalanan roh menuju alam kubur. Sedangkan yasinan tradisi nyatus dino atau dilakukan seratus hari setelah kematian, dimaksudkan untuk penghormatan terhadap roh yang sudah berada di alam kubur. Roh yang sudah di alam kubur masih bisa kembali di tengah-tengah keluarga sampai yasinan tahun pertama atau disebut mendak pisan dan yasinan tahun ke dua atau disebut mendak pindo.

Nyewu dino atau yasinan yang dilakukan dihari ke-1000 kematian biasanya dikatakan puncak dari yasianan kematian. Dan masyarakat meyakini di hari itu bahwa roh manusia yang meninggal sudah tidak akan kembali ke tengah-tengah keluarga lagi. Roh tersebut benar-benar sudah meninggalkan keluarga untuk menghadap Tuhan. Biasanya yasinan nyewu dino dilaksanakan lebih besar dibanding yasinan sebelumnya dan orang yang diundang untuk mendoakanya pun banyak. Apabila yasinan sebelumnya tidak diberi hidangan makan bersama maka diyasinan nyewu dino ini diberi hidangan makan bersama sesudah tahlilan. Setelah makan lalu diberi berkat atau kenduri untuk keluarga yang ada di rumah. Biasanya yasinan ini disebut dengan pendak ketigo.

Kepercayaan islam bahwa orang yang meninggal dunia perlu dikirimkan doa maka muncul tradisi kirim dungo (kirim do’a) yaitu yasinan atau tahlilan. Semua itu merupakan anjuran dari agama islam, sedangkan penentuan hari pelaksanaan kirim doa dari warisan budaya yang sudah turun temurun. (Khairudin, Moh.:2015,179-180)

Disini dapat disimpulkan bahwa yasinan dapat mempererat tali silaturahmi antar sesama warga, terutama tetangga dan masyarakat sekitar. Disamping itu juga dapat menambahkan rasa empati dan simpati masyarakat untuk ikut merasakan apa yang dirasakan keluarga yang ditinggalkan. Dan yasinan juga sangat berpengaruh terhadap solidaritas masyarakat karena saling membantu satu sama lain. (Rofiqoh:2014,18)

 

Referensi:

Hayat. November 2014. Pengajian yasinan sebagai Strategi Dakwah NU(Nahdatul Ulama) dalam Membangun Mental dan Karakter Masyarakat. Jurnal Walisongo (Volume 22, nomor 2). Semarang. Hlm,297

Khairudin, Moh. Juli 2015. Tradisi Slametan Kematian dalam Tinjauan Hukum Islam dan Budaya. Jurnal IAIN Mataram (Volume 11, nomor 10). Jakarta. Hlm,174, 177, 179-180

Rofiqoh. Maret 2014. Hubungan Antara Kearifan dalam Mengikuti Pengajian Yasinan dengan Akhlakul Karimah pada Remaja di Desa Isep-Isep Cebongan. Jurnal IAIN Salatiga. Magelang. Hlm,18

Hanik, Siti Umi. Desember 2011. Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Tradisi Tahlilan di Desa Krembangan Taman Sidoarjo. Jurnal Library Administrator. Surabaya. Hlm,47

 

NADIA PERMATASARI

1602100048

Mahasiswi Semester 1 Kelas B

Perbankan Syariah IAIN Metro

 

Catatan

  1. Bagus banget.
  2. Penulisan sudah selaras dengan EYD.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *