Peran Sosial Pesantren Asshiddiqiyah 9

Pesantren Asshiddiqiyah 9 Putra Buyut didirikan mulai tahun 2009 lalu. Pondok Pesantren Asshiddiqiyah pertama kali didirikan oleh Dr.KH.Noer Iskandar, SQ. Pondok pesantren Asshiddiqiyah telah membuka sepuluh cabang yang terbesar di beberapa daerah, yaitu: pondok pesantren Asshiddiqiyah Pusat, Kebon Jeruk Jakarta Barat. Pondok pesantren Asshiddiqiyah II, Batuceper Tangerang Banten. Pondok pesantren Asshiddiqiyah III, Cilamaya Karawang Barat.

Pondok pesantren Asshiddiqiyah IV, Serpong Tangerang Banten. Pondok pesantren Asshiddiqiyah V, Cijeruk Bogor Jawa Barat. Pondok pesantren Asshiddiqiyah VI, Sukabumu Jawa Barat. Pondok pesantren Asshiddiqiyah VII, Way Kanan Lampung. Pondok pesantren Asshiddiqiyah VIII, Musi Banyuasin Palembang Sumatra Selatan. Pondok pesantren Asshiddiqiyah IX, Putra Buyut Lampung Tengah. Dan pondok pesantren Asshiddiqiyah X di Cianjur Jawa Barat.

Pondok Pesantren Asshiddiqiyah 9 Putra Buyut ini dipimpin oleh KH. Gus Mabrur, M.SI. Pondok pesantren ini sudah berdiri kurang lebih 7 tahun yang lalu. Pertama, segi internal yaitu pengkajian yang menempatkan kyai sebagai pemegang peran sentral dalam proses perubahan dan pembaharuan.

Kedua, segi peningkatan jaringan antara pesantren induk dan pesantren cabang yang didirikan oleh murid dari pesantren induk. Ketiga, segi dunia pesantren dengan lingkungannya. kajian-kajian itu diantaranya ada yang mencoba untuk menjawab pertanyaan tentang dampak apakah yang dibawa oleh pesantren (Suryo: 2000, 2).

Pondok pesantren ini setiap malam Rabu selalu mengadakan pengajian rutin yang selalu dihadiri oleh masyarakat dari desa-desa sebelah, karena pondok pesantren ini berada di antara desa Buyut Utara dan desa Putra Buyut. Dalam pengajian tersebut pondok pesantren ini selalu menampilkan keterampilan-keterampilan yang dimiliki santri-santrinya seperti: ceramah/dakwah, hadroh, pidato bahasa inggris dan bahasa arab, dan masih banyak lagi.

Agama dan budaya adalah dua bidang yang dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan. Agama bernilai mutlak, tidak berubah karena perubahan waktu dan tempat. Sedangkan budaya, sekalipun berdasarkan agama ,tetapi dapat berubah dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat. Sebagian besar budaya didasarkan pada agama; tidak pernah terjadi sebaliknya. Oleh karena itu, agama adalah primer dan budaya adalah sekunder. Budaya bisa merupakan ekspresi hidup keagamaan, karena ia subordinat terhadap agama, dan tidak pernah sebaliknya (Hakim dan Mubarok: 2000, 34).

Pesantren Asshiddiqiyah 9 menjalankan peran sosial budaya islam dengan cara mengadakan pengajian dan menyuguhkan makanan setelah pengajian itu selesai. Meskipun pondok pesantren ini tergolong baru, tapi para santrinya sudah lumayan banyak, dan para para santrinya juga tidak hanya dari Lampung saja, tetapi banyak dari luar Lampung juga, seperti dari Palembang, Jakarta, dan masih banyak lagi.

Diperlukan bagi pesantren untuk mengembangkan selain sistem pendidikan yaitu metode pembelajaran yang mampu membawa santri kepada tahap kritis, sehingga dalam mengupas materi santri akan lebih tajam dan objektif. A double movement merupakan metode alternatif dalam pengembangan pembelajaran di pesantren, dengan membawa problem-problem masyarakat (sosial) dan mencarikan solusi terhadap al-quran kemudian menerapkannya dimasa sekarang (Addakhil: 2016, 1).

Pondok pesantren ini mempunyai trilogy yang sangat bermanfaat bagi para santrinya seperti: berakhlakul karimah, berbahasa internasinal dan menguasai IPTEK dan IMTAQ. Pondok pesantren Asshiddiqiyah 9 ini juga menyelenggarakan pendidikan formal yang telah terakreditasi dengan baik, seperti:

1. SMP Asshiddiqiyah 9 Putra Buyut
2. SMA Asshiddiqiyah 9 Putra Buyut
Dengan adanya pendidikan formal tersebut, dapat menguntungkan masyarakat di sekitar, karena mereka menyekolahkan anak-anak mereka jauh-jauh,dan orang tua bisa dengan mudah mengawasi anak-anaknya.

 

REFERENSI

Addakhil, ehma mujtaba. 2016. Jurusan Kependidikan Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Yogyakarta. 20.
Hakim, atang abd dan jaih mubarok. 2000. Metodologi Studi Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Suryo, djoko. 2000. Tradisi Santri dalam Historiografi Jawa : Pengaruh Islam di Jawa. Jawa. 1.

Nama : Erin Al Khoeriyah
Kelas : B
Prodi : S1 Perbankan Syariah IAIN Metro Lampung

 

Catatan

1. Sudah cukup baik. Ad-Dakhil belum ada judulnya.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *