Minimnya Tradisi Keagamaan di SSW, Perspektif Sosiologis

Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat dan menyelidiki ikatan-ikatan antara manusia yang menguasai hidupnya itu. Sosiologi mencoba mengerti sifat dan maksut hidup bersama, cara terbentuk dan tumbuh serta berubahnya perserikatan-perserikatan hidup itu serta pula kepercayaannya, keyakinan yang memberi sifat tersendiri kepada cara hidup bersama itu dalam tiap persekutuan hidup manusia. Sosiologi dapat di gunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami agama. Hal demikian dapat dimengerti, karena banyak bidang kajian agama yang baru dapat di pahami secara proposional dan tepat apabila menggunakan jasa bantuan dari ilmu sosiologi (Nata: 2004, 38).

Hubunga sosiologis ini mempelajari hubungan antar manusia, hubungan sosial anatara masyarakat di desa srisawahan sangat dekat dan erat. Mayoritas kaum muslimin yang ada di desa srisawahan ini termasuk dalam golongan organisassi masyarahat muhammadyah. Organisasi masyarakat muhammadyah ini tidak terlalu suka dengan acara seperti yasinan tahlillan dan lain sebagainya karena kaum muslimin muhammadiah beranggapan acara seperti itu adalah bid’ah, seperti yang tertuang dalam buku yang ditulis oleh H Machrus Ali, mengutip naskah kuno dalam jawa yang tersimpan dalam musium leiden, sunan ampel yang memperingatkan sunan kali jogo yang masih melestarikan selamatan tersebut “jangan ditiru perbuatan seperti itu karena termasuk bid’ah”. Sunan kalijogo menjawab: “biarlah nanti generasi setelah kita ketika islam sudah tertanam dihati masyarakat yang akan menghilangkan budaya tahlillan itu”.

Sebagai agama yang mencerahkan dan mencerdaskan, islam membimbing kita untuk menyikapi sebuah kematian sesuai dengan hakikatnya yaitu amal shalih, tidak dengan hal-hal duniawi yang tidak ada kaitannya dengan hubungan duiawi seperti kuburan yang megah, bekal kubur yang berharga, tangisan yang membahana, maupun pesta besar-besaran. Bila saudara kita mengalami musibah kematian, hendaklah sanak saudara menjadi penghibur dan penguat kesabaran, sebagaimana rosulullah memperingatkan membuatkan makanan bagi keluarga yang sedang terkena musibah tersebut. Namun ironisnya kini yang terjadi adalah uang jutaan rupiah dihabiskan tiap malam untuk acara slamatan kematian yang harus ditanggung keluarga yang terkena musibah.

Hal tersebut yang mendasari semakin langkanya tradisi kebudaya islam seperti tahlillan, yasinan dan lain-lain yang terjadi didesa srisawahan. Pemuka agama di desa srisawahan pun sering berceramah di depan warga desa srisawahan yang seterusnya diikuti oleh para kaum muslimin yang ada di desa srisawahan. Hal lain juga yang ikut mempengaruhi krisis budaya islam adalah faktor era globalisasi yang terjadi. Para pemuda, remaja, anak-anak dan tidak jarang pula orang-orang dewasa pun ikut tergerus dengan dunia yang serba modren seperti saat ini.

Mendengarkan tausiah dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja lewat youtube, dan cara berdakwahpun yang sekarang serba mudah, dapat lewat artikel, blog, youtobe, ceramah ditelevisi dan lain sebagainya, hal itu pula yang dapat mempengaruhi krisis budaya islam didesa srisawahan. Karena sekarang masyarakat tidak perlu berbondong-bondong datang kemasjid dan berkumpul untuk mendengarkan seramah atau tausiah, karena semua bisa serba instan sekarang.

Budaya adalah hasil dari proses suatu masyarakat gerak manusia terjadi sebab dia mengadakan hubungan-hubungan dengan manusia lainnya. Artinya, karena terjadinya hubungan antara kompok manusia didalam masyarakat tersebut. Perubahan budaya yng terjadi di dalam masyarakat, yakni perubahan dari masyarakat tertutup menjadi masyarakat terbuka, seperti yang telah dijelaskan diatas, bahwa budaya ini telah berubah seiring dengan berjalannya waktu. Ilmu dan teknologi telah mengubah manusia secara mendasar.

Komunikasi dan sara transportasi internasional atau globalisasi telah mengubah atau menghilangkan budaya suatu trasisi agama. Kondisi yang demikian mau tidak mau membuat semakin tersisihnya budaya agama dari kehidupan masyarakat. Pesatnya laju teknologi informasi atau teknologi komunikasi telah menjadi sarana difusi budaya yang ampuh, sekaligus juga alternatif pilihan hiburan yang lebih beragam bagi masyarakat luas. Dalam era globalisasi, kebudayaan tradisional khususnya budaya islam mulai mengalami erosi. Orang, anak muda utamanya lebih senang menghabiskan waktunya untuk mengakses internet dari pada mengkaji budaya agama sendiri.

Akibatnya masyarakat tidak tertarik lagi dengan budaya islam yang sudah ada sebelumnya. Jadi globalisasi sangat berperan besar terhadap pengaruh hilangnya budaya islam yang telah terjadi ditengah masyarakat (Soekanto: 2013, 169).

 

DAFTAR PUSTAKA

Nata, Abuddin. Metodologi Studi Islam. Jakarta: Rajawali Pres. 2004
Soekanto, Soerjono dan Budi Suustyowati. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pres. 2013

 

Catatan

1. Sudah baik menggambarkan objek. Hanya perlu pendalaman.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *