Keunikan Tradisi Asyura dalam Perspektif Antropologis

  1. SYUKURAN ATAU GENDUREN

Pada daerah saya khusunya tradisi menyambut bulan muharram “bulan suro” atau disebut tahun baru islam merupakan hal yang sudah menjadi salah satu budaya penting bagi masyarakat muslim jawa,baik yang masih berdomisili di jawa maupun yang sudah hijrah seperti halnya di desa saya (tawangsari). Hal tersebut disebabkan dua faktor. Pertama, bagi umat islam tradisional, bulan muharram termasuk salah satu bulan suci,di mana oleh rasulullah, umat islam diperintahkan untuk berintropeksi diri (muhasabah), baik bagi perjalanan amal tahun-tahun yang sudah lewat maupun dalam kerangka mempersiapkan diri untuk tahun-tahun mendatang.

Kedua, bagi muslim jawa, bulan “suro”merupakan salah satu “bulan keramat”, di samping karena pengaruh islam, juga karena secara tradisi, bagi masyarakat di desa saya khususnya bulan suro merupakan bulan penentu perjalanan hidup,sehingga pada masyarakat kami seluruh masyarakat desa mengadakan tahlilan / do’a yang bertujuan untuk keselamatan dan kebarakahan hidup  kami. Tahlilan ini dilaksanakan Pada malam 1 muharram yang bertempatan di mushola desa.

Dengan demikian, maka esensi peringatan bualn suro tersebut, tidak terbatas pada sudut pandang  bulan itu.akan tetapi , merupakan proses perjalanan kehidupan,paling tidak selama satu tahun sesudahnya. Oleh karena itu, mengetahui seluk beluk tradisi dan ritual mistik bulan suro dewasa ini merupakan kebutuhan tersendiri, baik bagi pengembangan wawasan akan khasanah warisan leluhur dan spiritual, maupun untuk kepentingan praktis, yaitu mengungkap tradisi dan ritual tersebut. Sehingga apa yang dilakukan memiliki landasan keagamaan dan filosofi serta moral yang jelas.(K.H sholikhin Muhammad:2009,7-8).

Adapun sebagian penduduk masyarakat yang membuat sesajen, Kepercayaan masyarakat berbeda-beda selagi semua itu  tidak menghalangi dalam beribadah kepada Allah SWT. Dari sesajen itu mayoritas banyak warga yang mengikuti dari kalangan lanjut usia (orang primitife) jadi Kami saling memaklumi, mereka beranggapan sesajen di sembahkan untuk para pendahulu / orang-orang yang sudah wafat atau meninggal dunia.

Namun menurut saya itu tidak dikatakan musrik karena mereka tidak menyembah mereka hanya sekedar meyakini tidak menyalahkan pula karna memang orang zaman dahulu itu banyak yang menciptaan mitos dan mitos itupun masih dapat diterima sebagian orang pada zaman sekarang.

Akan tetapi dalam acara atau tradisi tersebut ada keunikan yaitu ada nya janur dan daun jati,janur  yang di gunakan sebagai wadah takir yang terdiri dari nasi,lauk pauk dan lain-lain,dan daun jati sebagai penutup.

Ada juga kepercayaan yang mengatakan bahwa janur memiliki kasiat yang luar biasa yaitu meredam munculnya gangguan makhluk halus yang  sengaja atau tidak akan mengganggu kita ,janur yang di pakai disini adalah janur yang berwarna hijau karena warnai hijau juga di percayai sebagai lambang kesejukan,keberuntungan, kesehatan dan kesuburan.

Sedangkan makna daun jati sendiri adalah daun jati yang berwarna hijau tua,mengandung arti bahwa pada zaman dahulu dicirebon ada seorang pemimpin para wali yang berbudi luhur dan bertahta yang disemayamkan di gunung jati dengan menyebarkan Agam di tanah jawa.

Dengan demikian  lambang dari  daun jati ialah untuk menghormati leluhur .

  1. KESIMPULAN

Memperingati tahun baru islam (bulan suro)adalah tradisi yang penting pada masyarakat tawangsari ,dalam rangka ini semua masyarakat membuat takir yang terbuat dari janur kelapa dan kemudia di tutup dengan daun jati. Jaanur kelapa dan daun jati adalah keunikan yang turun temurun yang masih dipertahankan sampai zaman sekarang karena janur dan daun jatidipercayai  memiliki lambang yang baik ,janur sebagai penangkal gangguan makhluk halus dan daun jati  sebagai penghargaan atas wafatnya pemimpin wali yang di semayamkan di gunung jati.

 

DAFTAR PUSTAKA

K.H Sholikhin Muhammad.2009.Misteri bulan suro.yogyakarta:narasi

https://books.google.co.id/books?hl=id&lr=&id=GgodzETc-RYC&oi=fnd&pg=PA61&dq=tradisi+suroan&ots=8Ganb5UW4n&sig=TvNV15fph5sI3aOMJYPz6NHHQVA&redir_esc=y#v=onepage&q=tradisi%20suroan&f=false

 

Nama               : Tina Anjarwati

Npm                : 1602100249

Kelas               :B

Prodi               :S1-PBS

 

Catatan

1. Tulisan sudah bagus meski masih melebar. Baiknya fokus pada tema yang diminta, yakni janur dan daun jati.

2. Ada baiknya jika mengorek keterangan dari masyarakat setempat terkait tradisi tsb.

3. Referensi buku dijelaskan nama penulis, judul, dan penerbit, tidak hanya link Google Books saja.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *