Sesajen dalam Perspektif Filsafat dan Fiqih

Manusia dikodratkan sebagai makhluk yang berpengetahuan dan meiliki keterbatasan penalaran. Hal itu yang mengakibatkan manusia dapat dengan mudah menerima hal-hal yang tidak masuk akal yang mendorong manusia percaya akan hal-hal gaib. Menurut orang perdesaan agama dan adat istiadat itu saling berkaitan dan saling melengkapi.

Ritual dengan menyertakan sesajen ini sudah menjadi tradisi sejak lama di masyarakat Islam Jawa yang dilaksanakan pada saat-saat penting atau hari yang sakral. Slametan dengan sesajen ini dianggap masyarakat sebagai sarana yang mampu mengatasi masalah-masalah, bisa juga untuk meminta keberkahan untuk masyarakat sekitar. Sesajen ini bertujuan agar mendatangkan kesejahteraan, kemanan dan terbebas dari hal-hal gaib.

Acara ini dilaksanakan pada malam syuro, lokasi untuk melakukan acara ini adalah di perempatan jalan sekitar desa. Masyarakat yang mengikuti acara ini adalah mereka yang asli tinggal di daerah itu. Syarat pokoknya adalah sesajen itu sendiri, tanpa ada sesajen maka ritual ini tidak lengkap. Sesajen itu berupa makanan yang telah di siapkan oleh warga sekitar, berupa nasi, sayur, lauk dan terkadang ada ayam yang telah diolah tanpa di potong-potong atau dsebut orang jawa “ingkung”. (Khalil:2008,271)

Ada beberapa bentuk sesajen:

Pertama, sesajen yang ditujukan untuk Yang Maha Kuasa, dewa, atau hal-hal gaib. Yang disebut Selametan.

Kedua, sesajen yang ditujukan untuk menolak pengaruh dari hal-hal gaib. Yang disebut Penulakan.

Ketiga, sesajen untuk mendoakan orang yang sudah meninggal, hewan dan tumbuhan, disebut Wadima.

Keempat, sesajen yang ditujukan untuk malaikat, untuk meminta keselamatan bagi roh yang sudah meninggal dan keselamatan bagi keluarganya dan yang menyelenggarakan, disebut Sedekah.

Alasan kenapa harus adanya sesajen, karena sesajen itu ditujukan untuk setan atau hal gaib dengan tujuan supaya hal gaib itu bersikap baik dan tidak mengganggu masyarakat dan supaya terhindar dari kecelakaan yang disebabkan hal gaib itu.

Do’a yang dibacakan adalah

اَللّٰهُمَّ اِنَّانَسْئَلُكَ سَلَامَةًفِى الدِّيْنِ، وَعَافِيَةًفِى الْجَسَدِوَزِيَادَةًفِى الْعِلْمِ وَبَرَكَةًفِى الرِّزْقِ وَتَوْبَةَقَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةًعِنْدَالْمَوْتِ وَمَغْفِرَةًبَعْدَالْمَوْتِ،اَللّٰهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِيْ سَكَرَاتِ الْمَوْت وَنَجَاةًمِنَ النَّارِوَالْعَفْوَعِنْدَالْحِسَاب

اَللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّاالْغَلَآءَ وَالْبَلَآءَ وَالْوَبَآءَ وَالْفَحْشَاء

وَالْمُنْكَرَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَآئِدَ وَالْمِحَنَ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَابَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بَلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً اِنَّكَ عَلَى كُلِّى شَيْئٍ قَدِيْرٌ

(Suyono:2007,131)

Jika di pelajari secara mendalam perkembangan kebudayaan manusi ini, sesajen merupakan kepercayaan yang ada karena kepercayaan sebelum agama Islam yaitu kepercayaan animisme, dinamisme, hindu, budha dan orang cina yang terdahulu atau yang primitif yang masih menyembah roh atau dewa dewi.

Sebuah contohnya saja seperti yang ada di daerah Sukadana Ilir, kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, masyarakatnya masih percaya akan  tradisi sesajen. Tradisi yang di junjung tinggi oleh masyarakat sekitar yang dipadu dengan tradisi tahlilan dan manakiban, seolah-olah seperti tradisi yang harus dipertahankan. Dibalik tradisi sesajen itu, ada makna yang terkandung dan memliliki kepercayaan yang kuat dengan kemusyrikan, masyarakat yang meminta pertolongan dan perlindungan dengan arwah-arwah dan mahkluk halus, mereka beranggapan jikalau tidak ada sesajen maka arwah-arwah itu akan murka. Sebenarnya perbuatan ini adalah perbuatan yang sangat di larang oleh Allah, sama saja menyukutan Allah. Allah telah memperingatkan dengan sangat baik:

. وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

Dalam ajaran Islam, meminta perlindungan hanya kepada Allah, jika meminta perlindungan selain kepada Allah maka itu disebut perbuatan musyrik dan sangat di larang dalam Islam. Karena semua makhluk adalah ciptaan Allah dan hanya kepada-Nya bergantung dan meminta perlindungan. Hanya Allah yang mampu memberi perlindungan dan memneri keselamatan.

Walaupun tradisi sesajen ini merupakan tradisi yang sudah turun-temurun dan merupakan budaya dari nenek moyang. Hal ini dapat merusak akidah kita, seharusnya tradisi yang seperti itu di hapus dan tidak lagi di adakan di masyarakat yang beragama Islam. Tradisi yang berlawanan dengan ajaran Islam maka pelakunya akan mendapatkan ganjarannya di neraka dan menyesal selama-lamanya.(Dhani:2007,84)

 

DAFTAR PUSTAKA

Khalil, Ahmad.2008.Islam Jawa,Sufisme dalam Etika & Tradisi Jawa.Malang:UIN Malang.

Suyono,Capt.R.P. 2007.Dunia Mistik Orang Jawa.Yogyakarta:PT.LKis Printing Cemerlang.

Dhani,Willyuddin A.R.2007.Bahaya…!! Tadisi Kemusyrikan Di Sekitar Kita.Bogor:Abu Hanifah Publishing.

 

Nama: Lutfi Khoiriah

Prodi/Kelas: S1-PBS/B

IAIN Metro

 

Catatan

1. Tulisan sudah bagus. Namun sebagai riset filsafat, tidak perlu sampai pada titik menghakimi subjek yang dikaji.

2. Aspek fikih belum disinggung dengan lebih dalam.

3. Gagasan-gagasan masih berserak. Belum disinkronkan, setidaknya ditarik benang merahnya.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *