Peran Ekonomi Masjid Taqwa Magelangan Lampung

Masjid sebagai properti publik membutuhkan pengelolaan (manajemen) dalam rangka pemeliharaan dan pelaksaan fungsinya bagi masyarakat . Semakin luas fungsi masjid bagi masyarakat, maka semakin dibutuhkan sumber daya manajerial yang tinggi.

Manajemen keuangan masjid yang dimaksud adalah aktivitas atau kegiatan untuk mengatur kegunaan sumber daya sistematis sebagai alat untuk mencapai sasaran dan tujuan dengan menjalankan fungsi sesuai ketentuan yang telah ditetapkan dengan melibatkan orang lain secara efektif dan efisien yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, pengaturan, penyusunan, penggerakan, pengadilan, pengawasan, dan lain-lain sehingga apa yang direncanakan dapat berjalan dengan baik dan maksimal menurut usaha dan potensi yang ada.

Artinya, aktivitas manejerial akan bergantung kepada tujuan, sistem, struktur, dan sumber daya yang dimiliki. Kepemimpinan, pengawasan, dan pengadilan dalam organisasi kemasyarakatan akan mengikuti struktur sosial dalam masyarakat tersebut. Sementara perencanaan merupakan gambaran dari usaha pencapaian tujuan  yang ingin diraih dalam masjid. Penggerakan dan pengaturan merupakan cara yang dipilih untuk melaksanakan rencana.

Kegiatan organisasi kepengurusan masjid meliputi Imarah (kegiatan memakmurkan masjid), ri’ayah (pemeliharaan), dan idarah (administrasi) pada garis besar dibagi menjadi dua bidang yaitu :

  1. Idarah Binail Madiy (Phisycal management) yaitu manajemen secara fisik yang meliputi kepengurusan masjid, pengaturan pembangunan fisik masjid, pemeliharaan, kebersihan, ketertiban, keindahan masjid (termasuk taman disekitar masjid) pemeliharaan tata tertib dan keamanan masjid , mengatur keuangan serta administrasi masjid.
  2. Idarah Binail Ruhiy (Functional Management) yaitu pengaturan tentang pelaksaan fungsi-fungsi masjid sebagai ruang pembinaan spiritual, pendidikan, dan kemasyarakatan.

(Ayub.E.Moh:1996,140:141)

(Moh.E.Ayub,1996,Manajemen Masjid,Jakarta:Gema Insani Press)

 

Peranan manajemen masjid dalam bidang ekonomi menurut Gazalba (1983;191) adalah bukan hubungan dalam wujud tindakan riil ekonomi seperti kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi. Peranan manajemen terletak pada bidang ideal atau konsep ekonomi yang pangkal dan azaznya adalah Al-qur’an dan Hadist. Sedangkan menurut Qomar (2009) bahwa peranan manejemen masjid dalam bidang ekonomi hanya sebagai pembentuk jiwa muslim sehingga akan mempengaruhi seseorang dalam mencari nafkah.

Ekonomi dan masjid selalu menjadi hal yang sebenarnya adalah salah satu kesatuan dalam kehidupan manusia. Dalam sejarah islam, masjid memiliki peran yang sangat penting dalam sistem perekonomian. Perkembangan ekonomi yang didasarkan pada nilai-nilai islam begitu pesat dalam keterlibatan memajukan masyarakat atau dalam pembangunan bangsa, antara lain :

  1. Masjid sebagai tempat ibadah, dimana umat islam kurang memfokuskan pada kehidupan politi,ekonomi,dan budaya.
  2. Dalam semakin hegemoninya pasar (kapitalisme global), eskalasi peran masjid mengalami penurunan, akibat masjid mengalami disfungsi sosial atau masjid belum mampu menjadi lembaga yang mampu mengimbangi perkembangan zaman.

(Yunus yahya:1990,76;77)

(Yahya Yunus:1990,terobosan ekonomi Muhammadiyah,Jakarta:lembaga pengkajian masalah pembaruan)

Terdapat dua cara transfer sumberdaya ekonomi ekonomi umat:

Pertama, secara komersil yang terjadi melalui aktivitas ekonomi.

Kedua, secara sosial terjadi dalam bentuk bantuan seperti zakat, infaq, shadaqah. Adanya dua transfer sumber daya ekonomi ini merupakan potensi umat, karena tidak semua orang mampu melakukan proses dan aktivitas ekonomi.

Tentunya, penyerahan zakat ini harus diatur dan didistribusikan serta dimanfaatkan seprofesional mungkin. Hal ini menjadi harapan besar pengembangan ekonomi berbasis masjid dalam bentuk mengembangkan potensi ekonomi masjid yang telah ada.

(Sadjali Munawir:1993,136)

(Munawir Sadjali,1993,Islam dan Tata Negara Ajaran Sejarah dan Pemikiran,Jakarta:Ui Press)

Masjid taqwa magelangan memiliki potensi untuk dapat mandiri secara ekonomi, hal ini disebabkan masjid memiliki modal ekonomi sosial (non-finansial capital capital) yang cukup baik yaitu modal sosial yang sangat tinggi.

Modal sosial adalah wujud partisipasi masyarakat terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi bersama yang digerakan oleh adanya kepercayaan dan disokong oleh struktur sosial. Dalam konteks manajemen keuangan masjid, modal sosial menjadi penting terutama keterkaitan dengan partisipasi dan tanggung jawab masyarakat dalam rangka menghidupkan fungsi masjid bagi masyarakat itu sendiri.

Salah satu modal yang terbentuk dalam rangka kerja sama antar anggota masyarakat adalah sikap kedermawanan (Philantropy) atau sikap partisipatif dalam hal materi dan finansial. Sikap kedermawanan dapat tumbuh didorong oleh rasa kepercayaan terhadap individu, tatanan dan struktur sosial atau disebabkan adanya aspek teologis yang memberikan dorongan normatif (doktrin) atas perilaku individu dan dijalankan bersama-sama oleh sebuah komunitas masyarakat untuk mencapai tujuan yang sama.

Beberapa sumber daya keuangan masjid yang telah dilakukan masyarakat dalam rangka memenuhi kebutuhan pendanaan masjid :

1.Kegiatan kesadaran partisipasi masyarakat yaitu infaq :

Infaq itu disalurkan untuk akomodasi kebersihan masjid, listrik, perawatan sound sistem masjid, dan upah untuk para pengelola masjid.

2.Kegiatan kesadaran partisipasi masyarakat yaitu Bulu Bekti (pengelolaan uang kematian warga masyarakat sekitar) :

Uang Bulu Bekti itu disalurkan untuk akomodasi keperluan peralatan pemakaman warga masyarakat Magelangan.

3.Kegiatan kesadaran partisipasi masyarakat yaitu Zakat (zakat fitrah, zakat mal) :

Zakat tersebut diberikan anggota yang mampu kepada masjid, lalu disalurkan kembali ke masyarakat magelangan yang kurang mampu melalui pihak dari masjid.

4.Kegiatan kesadaran partisipasi masyarakat yaitu wakaf

Wakaf ini bisa berupa barang atau uang , yang pernah terjadi di magelangan adanya anggota masyarakat magelangan yang mewakafkan tanahnya untuk pembangunan atau peluasan masjid, sedangkan anggota masyarakat yang mewakafkan uang , lalu uang itu di masukkan kedalam kas masjid.

 

 

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *