Sesajen dan Islam Normatif dalam Epistomologi Irfani

NAMA : BAYU PRATAMA
NPM : 1602100217
KELAS : B
Secara harfiah, normatif adalah upaya memahami agama dengan menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empirik dari suatu keagamaan dianggap sebagai yang paling benar dibandingkan dengan yang lain.(nata,2004,hlm28)

Normatif juga dapat diartikan sebagai peraturan yang mengatur baik buruknya perbuatan berdasarkan norma yang berlalu. Adapun arti norma itu sendiri adalah suatu aturan yang berlaku dalam kehiduan bermasyarakat, yang bertujuan untuk mencapai kehidupan yang aman, tertib, dan sentosa.

Aspek norma tersebut terdapat pada ajaran slam yang terdapat dalam al-quran dan sunnah.
Pendekatan normatif diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu

1. Misionaris tradisional, yaitu pendekatan yang bertujuan mengubah masyarakat agar masuk dalam agama tertentu disertai keyakinan pentingnya perdapan misionaris. Misionaris itu sendiri yang artinya seorang pendakwa atau seorang penyebar agama baik agama islam itu sendiri maupun non islam.
2. Apologetik yaitu pendekatan untuk menguatkan keimanan seseorang yang mengarah ke modernan agar dia mengetahui dan percaya akan identitas keislamannya.
3. Irenik yaitu pendekatan yang menyatukan non islam yang berorientasi negatif tentang orang muslim dengan tujuan untuk mencapai perdamaian dan saling menghina.

Dalam pemahaman ini dapat dijadikan sebagai pendekatan yang digunakan dalam memahami agama. denangan demikian kita dapat melakukan melalui pendekatan tersebut sebagai kehadiran agama sebagai fungsional yang dapat di rasakan oleh penanutnya.(kodir,2014,hlm113)

Epistomologi irfani yang bersumber dari pengalaman langsung, epistomologi irfani dapat dipahami bahwa ilmu-ilmu yang didapatkan lebih banyak pada aspek tidak rasional. Irfani juga menjelaskan latar belakang seseorang atau komunitas tersebut yang lebih banyak bersinggungan dengan pendekatan sejarah. Irfani ingin masuk mencari struktur ilmu yang didapatkan dari seseorang melalui pengalaman hidup terutama didalam pandangan agama. Irfani adalah berusaha memahami apa yang dipahami mengenai moral dan masyarakat. (scholar.google.com,ahmad,hlm5)

Epistemologi normatif dan pemahaman irfani ini dapat dicontohkan seperti kebudayaan islam contohnya tradisi sesajenan sebelum memasuki puasa dan sesajenan sebelum memasuki lebaran. Secara normatif tradisi sesajenan ini dianggap sangatlah dibolehkan di lingkungan saya, karena sesajenan ini sebagai ritual penyembahan hal-hal ghaib, sesajenan ini juga untuk membersihkan diri sebelum memasuki puasa dan sebelum memasuki lebaran. Hal ini dipercaya sebagai dogmatif yang dianggap sebagai kebenaran yang bersifat mutlak.dalam hal ini dikaitkan pada Tradisi sesajen adalah suatu persembahan yang biasa dilakukan di lingkungan saya yanga mana dianggap sebagai pembersih hati.

Kebiasaan ini berasal dari leluhur yang diturunkan secara turun temurun. Tidak semua orang menerima secara dogmatif namun yang mempercayainya hanya orang-orang tertentu seperti orang-orang dahulu. Sistem kepercayaan ini mempengaruhi agama seperti hindu budha yang muncul di indonesia dari sini terbentuk dua sistem kepercayaan yakni animisme yang mempercayai bahwa benda-benda juga mempunyai roh bukan hanya manusia dan hewan saja yang mempunyai roh. Dinamisme yang mempercayai hewan dan benda itu mempunyai kekuatan ghoib. Dari sinilah terbetuknya pemahaman irfani yang mana irfani ini suatu keyakinan yang ada pada setiap orang.

Adapun caranya dalam ritual ini sebelum sesajen di letakkan di atas meja ada beberapa tahapan lain yakni orang yang meletakkan sesajen harus suci dan kemudian diadakan juga doa yang dipimpin orang yang tua, sebelum dimulainya doa adanya kegiatan membaca surat yasin bersama. Setelah melakukan yasinan dan doa bersama baru lah tradisi yasinan ini dimuli. Dalam tradisi ini anak kecil atau muda di larang untuk menyajikan makanan tersebut dikarenakan tradisi ini bertujuan untuk mensucikan diri kita sendiri. Setelah sesajenan itu sudah di sediakan dalam satu malam maka selanjutnya makanan itu di makan oleh orang-orang yang sudah tua. Dan bagi orang-orang muda di haramkan buat memakannya. Tradisi ini masih di lakukan di lingkungan saya walaupun banyak orang yang tau bahwa tradisi ini merupakan hal yang menyimpang dalam ajaran islam.

 

DAFTAR PUSTAKA
Abdul kodir,koko.2014.Metodelogi Studi Islam.Bandung:Pustaka Setia;
Nata,abudin.2004. Metodelogi Studi Islam.Jakarta:PT Raja Gravido Persada
www.scholar.google.com

 

Catatan

Cantumkan dengan jelas bagian google scholar.

Analisisnya kurang kuat. Tiga tema belum “ketemu”.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *