Pergeseran Tradisi Lebaran Ketupat di Desa Rigis Jaya Lampung Barat Perspektif Sosiologis

Tidak hanya kebudayaan yang beragam di Indonesia namun, keragaman tradisi dalam lingkup keagamaan atau religi juga sudah berakar di masyarakat. Seperti agama islam misalnya, setiap daerah bisa memiliki cara yang berbeda dalam melakukan ritual keagamaan tersebut, meskipun sama-sama agama islam, perubahan atau transformasi sudah banyak terjadi dikarenakan hal-hal tertentu. Dalam hal ini saya akan meneliti pergeseran tradisi, saya mengangkat kasus “Tradisi lebaran Ketupat di Desa Rigis Jaya” dalam perspektif sosiologis antropologis. Dalam tinjauan sosiologi masyarakat dilihat dari suatu hubungan yang didasarkan pada ikatan-ikatan tertentu dan sudah menjadi rutinitas yang dapat dikatakan stabil. Dengan ini secara tidak langsung masyarakat merupakan kesatuan yang dalam bingkai strukturnya (proses sosial). (Jauhari:2012,108).

Karena warga kami mayoritas orang islam, kegiatan keagaman disana sangat aktif. kemudian di desa kami ini warganya pendatang dari jawa tengah khususnya kota semarang, jadi walaupun secara geografis kami tinggal di Lampung, namun tradisi yang dipakai ialah tradisi dari pulau jawa. Budaya jawa (kejawen) diantaranya Saparan, Suroan, Apitan , upacara pernikahan seperti sasrahan, widadaren, dan ngunduh mantu, slametan, kapatan, nyepasari dan masih banyak yang lainnya. (Khalil:2008,129) yang beberapa diantaranya masih lestari di diesa Rigis Jaya.

Seperti masyarakat lainnya pada saat lebaran ke 7 (H+7 setelah tanggal 1 Muharram), kami warga desa Rigis Jaya, Kec. Air Hitam, Kabupaten Lampung Barat juga melakukan tradisi lebaran ketupat yang biasa kami sebut “KUPATAN”. kupatan ialah tradisi membuat ketupat dari daun kelapa yang masih muda. Biasanya selain membuat ketupat kami juga membuat “Lepet”. lepet adalah makanan yang terbuat dari beras ketan yang dibungkus menggunakan janur juga.

Tradisi kupatan ditempat kami sedikit berbeda dengan warga lainnya, yang membedakan adalah jika di daerah lain, biasanya mereka membuat ketupat untuk dikonsumsi sendiri dan dibagi-bagikan kepada tetangga atau sekedar menggantungkannya di pintu rumah. Namun, di daerah kami membuat ketupat dan juga lepet selain untuk dikonsumsi sendiri dan juga keluarga atau untuk siapapun yang silaturrahmi ke rumah juga pada pagi hari lebaran ke 7 tersebut.

Sekitar kurang lebih pukul 06.30 waktu sekitar, semua warga di desa Rigis Jaya berbondong-bondong datang ke Masjid dengan membawa baskom yang didalamnya terdapat ketupat, lepet dan juga sayur lodeh (sayur lodeh yang biasanya dimakan bersama ketupat). Sebelum berangkat ke masjid kami tidak boleh terlebih dulu sarapan dirumah, tujuannya yaitu agar kami makan bersama dimasjid supaya lebih kenal & akrab dengan tetangga sekitar, kemudian sesampai di masjid, warga melakukan tradisi Tahlilan dengan mengirim do’a kepada Allah SWT untuk arwah yang telah meninggal mendahului kita, dan setelah itu makan bersama.

Sebenarnya tradisi ini peralihan dari tradisi zaman dahulu yang setiap lebaran ketupat biasanya warga menaruhkan ketupat tersebut di atas pintu rumah untuk disajikan kepada arwah yang telah meninggal mrndahului kita, kami percaya bahwa setiap lebaran ketujuh tersebut sanak saudara yang sudah meninggal akan mengunjungi rumah kita, dimana tradisi ini sudah melekat di masyarakat sejak sudah sangat lama.

Nah, di desa kami ini setiap satu pekan sekali mengadakan giliran yasinan rutin pada malam jum’at, di ajang perkumpulan ini biasanya setelah usai yasinan bapak-bapak tidak langsung pulang kerumah melainkan merundingkan hal-hal yang dianggap penting di desa kami. Dan pada saat itu mereka melakukan evaluasi atau musyawarah tentang tradisi-tradisi keagamaan di desa kami yang sudah berjalan. Kupatan ialah salah satu dari apa yang dimusyawarahkan dalam forum tersebut. Dan akhirnya budaya tersebut diubah sehingga menjadi tradisi yang sekarang berjalan.

Karena menurut kami itu kurang bermanfaat, maka diganti dengan membawa ketupat tersebut ke masjid untuk dimakan bersama disertai dengan mengirim do’a untuk sanak saudara kita yang sudah meninggal melalui Tahlilan. Perlu diketahui bahwa tidak hanya tradisi Kupatan saja yang berubah, tradisi seperti Assuro, Apitan, Tolak balak, Ngruwat, Jampe-jampe dll (Suyono:2012,131-172). Diubah yang tadinya do’a atas para leluhur menjadi do’a atas nama Allah SWT. Yang tadinya membuat sesajen untuk para moyang berubah menjadi dimakan bersama-sama di masjid atau untuk dibagikan kepada tetangga, kerabat, ataupun kaum duafa, tentunya perubahan-perubahan tersebut melalui banyak proses baik dari pemikiran SDM yang semakin berkembang atau yang lainnya.

Pergeseran tradisi Kupatan diatas yang telah saya uraikan adalah menggunakan pendekatan Antropologi yang mana saya melihat hubungan antar agama dan hal lainnya, dalam hal ini dapat ditemukan adanya hubungan yang positif antara kepercayaan agama dengan beberapa aspek. (Nata:2011,391)

 

DAFTAR PUSTAKA
Jauhari,B. Imam. 2012, Teori Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Khalil,Ahmad. 2008, Islm Jawa, Sufisme dalam Etika dan Tradisi Jawa. Malang: UIN-Malang Press.
Nata,Abuddin. 2011, Metodologi Studi Islam. Jakarta: Rajawali Pers.
Suyono, R.P.Capt. 2007, Dunia Mistik Orang Jawa, Roh, Ritual, Benda Magis. Yogyakarta: LKiS

 

Catatan

Sudah cukup bagus menggambarkan.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *