Metik di Way Tenong sebagai Relasi Islam dan Tradisi Sunda

Jika kita mengkaji Al-Qur’an dan Hadist, maka kita akan memukan jawaban bahwa islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah saja, tetapi  hubungan manusia dengan manusia lainnya dan juga hubungan manusia dengan alam. (Gazalba:1983,47) Segala sesuatu yang mencakup hubungan manusia dengan Tuhan-Nya disebut agama, sedangkan hubungan antar manusia, manusia dengan alam disebut  kebudayaan atau tradisi. (Gazalba:1983,49) Islam adalah agama dari segi Dzat; cakupan islam sangatlah luas. Maksudnya islam tidak hanya membahas perihal keagamaan saja ,tetapi pembahasan islam juga meliputi kebudayaan dan tradisi. (Gazalba:1983,50) di dalam pola kehidupan muslim, di dalam tiap-tiap perkara, keadaan dan suasana, ia melakukan hubungan dengan Allah dalam bentuk shalat, puasa, zakat, haji, berdoa, zikir, dll. Setelah melakukan hubungan dengan Tuhan-Nya, muslim juga melakukan hubungan dengan makhluk-Nya baik sesama muslim maupun manusia dan alam. (Gazalba:1983,51)

Dari kedua hubungan tersebut, disini akan saya paparkan sebuah tradisi sunda yaitu tradisi Metik sebagai relasi Islam dan Tradisi Sunda. Kebudayaan sunda dengan ajaran agama Islam sulit dipisahkan. Karena, orang-orang Sunda dapat menerima dengan mudah ajaran-ajaran agama Islam. meskipun agama Islam berasal dari luar, tetapi karena unsur-unsurnya terdapat kesesuaian, maka Islam dapat diterima dengan tangan terbuka oleh orang-orang Sunda, sehingga terjadilah proses asimilasi dan akulturasi antara berbagai budaya yang membungkus Islam dengan nilai-nilai budaya lokal Sunda. masyarakat Sunda masih melaksanakan upacara-upacara adat seperti babarit, seren taun, dan metik (Syukur: 2011, 411)

Metik atau mayoran merupakan tradisi masyarakat sunda yang ada di desa Wangunreja kelurahan Pajar Bulan kecamatan Way Tenong, Lampung Barat. Tradisi ini sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil panen yang melimpah yang didapatkan di tahun sebelumnya. Tradisi ini sudah ada sejak dahulu dan dikembangkan secara turun temurun. hingga saat ini masih diyakini oleh masyarakat sunda di desa ini.

Metik dalam bahasa sunda berati memetik. Maksudnya memetik buah kopi yang akan dipanen. Tradisi metik atau mayoran ini dilakukan setahun sekali dan dalam pelaksanaannya tidak ada ketentuan hari dan tanggal namun biasanya dilakukan sebelum panen. dan tradisi ini pun berkaitan dengan agama. Itulah kenapa tradisi metik atau mayoran ini dilakukan dengan cara syukuran, memanjatkan doa-doa. Orang yang memimpin doa dalam tradisi ini biasanya adalah orang tertua dalam sebuah keluarga tersebut. Maksud doa-doa ini agar kelak hasil panen berikutnya dapat lebih baik dari tahun sebelumnya dan panen yang didapatkan melimpah dan jauh dari segala bahaya.

tradisi ini tidak hanya dilakukan dengan cara membaca doa-doa saja, tatapi biasanya acara ini ditutup dengan memakan nasi tumpeng bersama. Nasi tumpeng yang merupakan sumber kekayaan dari alam pertiwi tersebut dibawa kekebun oleh si pemilik kebun untuk dimakan bersama-sama dengan sanak keluarganya atau juga dibagikan ke tetangga- tetangga terdekat. Selain nasi tumpeng, biasanya juga ada beberapa makanan khas sunda lainnya yang dibawa oleh si pemilik kebun seperti surabi, leupeut (terbuat dari beras ketan dan dicampur dengan kelapa dan kacang tanah) dan ayam bakakak.

Tradisi metik ini hampir sama dengan tradisi pareresan yang ada di majalengka,hanya saja pareresan dilakukan setelah panen. dan dalam tradisi jawa juga ada tradisi metik tetapi yang membedakannya adalah dalam ritual metik  di tradisi jawa dilakukan ketika akan mengawali panen padi. (Sutiyono: 2013, 48)

Jadi, tradisi metik atau mayoran ini adalah tradisi yang bertujuan untuk meminta atau berdoa kepada Allah SWT dan bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Allah serta dapat juga mempererat hubungan antar anggota keluarga. Berdoa dan bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Allah termasuk dalam unsur agama. Unsur sunda dalam tradisi ini yang sangat terlihat adalah dari makanan khasnya yaitu surabi, leupeut  dan ayam bakakak.

 

Rujukan

Gazabla, Sidi. 1983. Islam dan Perubahan Sosial Budaya. Jakarta: Pustaka Al Husna.

Sutiyono. 2013. Poros Kebudayaan Jawa. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Syukur, Abdul. 2011. Islam, Etnisitas, dan Politik Identitas: Kasus Sunda. MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman, XXXV(2): 407-426.

 

NAMA            : CUCU PURNAMA SARI

NPM               : 1602100018

Mahasiswa Semester 1 Kelas B Prodi S1 Perbankan Syariah IAIN Metro

 

Catatan

Sudah bagus. Tinggal pengembangan riset.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *