Berkat Tujuh Bulanan dalam Perspektif Sosiologis dan Filosofis

Nama : TETANIA SAPUTRI

NMP :1602100072

Kelas : B

Prodi : S1 PBS

 

 

Tradisi Mitoni dilakukan pada saat kehamilan berusia tujuh bulan atau lebuh. Di kampung saya acara tujuh bulanan atau mitoni sudah menjadi kebiasaan atau rutinitas, dan menjelma menjadi sebuah budaya yang kini terus dijalankan oleh setiap orang yang hamil tujuh bulan. Sebenarnya tidak hanya perayaan tujuh bulanan saja, hanya saja yang menurut saya lebih unik, yakni pada acara mitoninya atau tujuh bulanannya. Acara ini memiliki banyak makna.

Mitoni artinya selametan atau mohon keselamatan dan pertolongan kepada Yang Maha Esa agar semuanya dapat berjalan dengan lancar, dan agar si jabang bayi serta ibunya diberi kesehatan dan diberi keselamatan. Mitoni berasal dari kata pitu yaitu angka tujuh, pitu bermakna pitulungan yang artinya memohon pertolongan kepada Allah SWT pada saat proses kelahiran nanti. Kemudian orang yang datang pada acara mitoni itu kemudian pulang membawa berkat.

Menurut Abiddin (2012: 38), “Sosiologi mencoba mengartikan sifat dan maksud hidup bersama, cara terbentuk dari kayakinan yang memberi sifat tersendiri kepada cara hidup bersama dalam persekutuan hidup manusia. Dalam proses kehidupan bersama, masyarakat memberi petunjuk-petunjuk akan makna dan arti dari sebuah kebudayaan”. Beliau (Natta, 2012: 39) juga mengatakan bahwa sosiologi juga dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami agama. Dengan demikian, dapat dimengerti banyak bidang kajian agama yang dapat dipahami secara proporsional dan tepat apabila menggunakan jasa bantuan dari ilmu sosiologi.

Sebenarnya pada jaman Rasul SAW ritual piton-piton atau tujuh bulanan tidak ada, hanya saja masyarakat melihat dari sudut pandang yang formal (yang terlihat) bukan dari sudut ajaran Rasul SAW. Menurut Mbah Wagimen (Wagimen, sesepuh kampung: 20 Desember 2016) bahwa acara piton-piton atau tujuh bulanan ini ada pada jaman Wali Songo, kemudian berkembang hingga saat ini.

Dalam buku Metodologi Studi Islam, Islam terdapat ajaran bahwa amal baik dalam bidang kemasyarakaran mendapat ganjaran lebih besar daripada ibadah sunnah. (Hakim dan jaih Mubarok, 2000:129). Artinya dalam acara tujuh bulanan ini ajaran baik, seperti silaturahmi antar masyarakat dan bersodaqoh  membagikan makanan seperti berkat dan jajanan lainnya.

(Wagimen, sesepuh kampung: 20 Desember 2016) Mengatakan membagikan berkat pada saat piton-piton atau tujuh bulanan   di kampung kami wajib, karena untuk menghargai dan menghormati jasa para leluhur. Yaitu untuk menghormati Kanjeng Nabi dan para Wali Songo. Tentu saja wali Songo mempunyai makna dan alasan tersendiri dari setiap apa yang telah diciptakannya. Salah satunya dalam acara piton-piton ini yang lebih spesifiknya dalam berkat atau beseknya. Banyak makna yang terkandung dalam satu buah beseknya. Dalam satu berkat terdapat tujuh macam jenis, dan itu wajib. Pitu artinya pitulungan atau memohon pertolongan agar dan diberi kesehatan pada sang calon bayi dan ibunya pada saat melahirkan.

Prof. Abiddin Natta (Natta, 2012: 42). Dalam pendekatan filosofis, kata filsafat berasal dari kata philo yang berati cinta kepada kebanaran, ilmu dan hikmah. Selain itu, filsafat dapat berati mencari hakikat sesuatu, dan usaha menggabungkan sebab dan akibat serta berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia. Pada intinya berupaya menjelaskan inti, hakikat, atau hikmah mengenai sesuatu yang berada dibalik obyek formalnya. Filsafat mencari sesuatu yang mendasar, asas, dan inti yang terdapat dibalik yang bersifat lahiriah. Fomal dan mendalam artinya dilakukan sedemikian rupa hingga dicari sampai kebatas dimana akal tidak sanggup lagi.

Radikalnya artinya sampai ke akar-akarnya hingga tidak ada yang tersisa. Dilakukan secara teratur dengan menggunakan metode berfikir tertentu dan universal maksudnya tidak dibatasi hanya pada suatu kepentingan kelompok tertentu, tetapi untuk seluruhnya itu maksudnya sistematik. Secara filosofis tersebut selanjutnya dapat digunakan dalam memahami ajaran agama, dengan maksud agar hikmah, hakikat atau inti dari ajaran agama dapat dimengerti dan dipahami secara seksama. (Natta, 2012: 44)

Menurut Mbah Wagimen, ajaran agama misalnya Wali Songo mengajarkan agar melaksanakan piton-piton dan membagikan berkat, tujuannya antara lain agar seseorang merasakan hikmahnya kebersamaan hidup secara berdampingan dengan orang lain. Beliau juga memberikan penjelasan tentang isi dari berkat tujuh bulanain itu beserta maknanya.

Yang pertama nasi bahasa jawanya  segogolong, yang maknanya memenyatukan roh jasad, raga dan jiwa. Kedua, lauk pauk atau ayamnya, yang artinya diketahui adanya Nabi beserta para sahabatnya dan juga para Wali Songo. Yang ketiga, kulupan daun yang direbus dengan diberi bumbu serundeng, yang maknanya agar bisa mengarungi perjalan hidup. Yang keempat buah krowot atau ubi-ubian, artinya agar selalu sabar dan menerima segala keadaan. Yang kelima rujak yang artinya mempunyai perasaan positif. Yang keenam, jenang procot artinya empat saudara yaitu kakang, kawah, adi, ari-ari, agar senantiasa beriman, selalu dijaga keselamatannya, dan agar menjadi anak yang soleh-solehah. Dan yang terakhir,jajanan pasar, maknanya agar kehidupanya selalu cerah.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Hakim, Abd. Hakim, dan jaih mubarok. 2011. Metodologi Studi Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset

Natta, Abiddin. 2012. Metodologi Studi Islam. Jakarta: Rajawali Pers

Wagimen. Sesepuh Kampung. 20 Desember 2016. Metro

 

Catatan

Untuk tahap awal, ini sudah bagus.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *