Tradisi Tahlilan di Desa 22 Hadimulyo Timur

Setiap masyarakat mempunyai sistem sosial dan sistem budayanya sendiri yang membedakan dengan masyarakat lainnya. Begitu juga dengan masyarakat Desa 22 hadimulyo Timur, Kabupaten Kota Metro yang berada di provinsi Lampung. Mereka memiliki sejumlah tradisi atau kebiasaan yang masih dilaksanakan dalam acara-acara tertentu atau keadaan tertentu dan juga diwariskan kepada generasi selanjutnya. Tradisi tersebut dipandang oleh masyarakat masih fungsional dan sebagai ritual agama yang bernilai ibadah bahkan sosial serta sesuai dengan tuntutan lingkungan tempat tinggal masyarakat.
Salah satu kearifan lokal atau tradisi yang masih dipertahankan dan tetap berlangsung sampai saat sekarang ini dalam masyarakat Desa 22 Hadimulyo Timur adalah “tradisi Tahlilan”. Tradisi tahlilan adalah upacara kenduri atau selamatan untuk berdoa kepada Allah dengan membaca surat Yasin dan beberapa surat dan ayat pilihan lainnya, diikuti kalimat-kalimat tahlil laailaaha illallah, tahmid alhamdulillah dan tasbih subhanallah. Acara tahlilan didesa 22 Hadimulyo Timur diselenggarakan sebagai ucapan syukur kepada Allah SWT (tasyakuran) dan mendoakan seseorang yang telah meninggal dunia pada hari ke 3, 7, 40, 100, 1.000 dan haul (tahunan). Tradisi ini juga biasanya dilaksanakan untuk menyertai kegiatan ziarah kubur, syukuran pernikahan, kelahiran, khitanan, pengajian, dan kegiatan lainnya. Pelaksanaan tradisi ini dipandang fungsional oleh masyarakat, sehingga setiap kali warga masyarakat melangsungkan suatu kegiatan, tahlilan ini tetap diadakan. Tradisi yang sudah diwariskan secara turun temurun ini tetap mampu bertahan, meskipun masyarakat sudah diterpa oleh berbagai kemajuan dan perkembangan zaman. Artinya, perubahan zaman dan era globalisasi tidak sampai merusak tradisi yang ada, meskipun terdapat berbagai perubahan.
Tradisi tahlilan merupakan salah satu tradisi zaman wali songo yang sampai sekarang masih diamalkan oleh sebagian besar masyarakat khusus di Desa 22 Hadimulyo Timur ini. Bahkan ada sebagian orang masih mempercayai bahwa tradisi semacam ini dapat membawa keberuntungan tersendiri bagi yang menyelenggarakanny yaitu bisa berupa ketenangan hati bagi yang berhajat, berlimpahnya rezeki serta menambah rasa solidaritas kebersamaan antar sesama dan bahkan mampu menambah dekat kepada Sang Pencipta selaku pemberi rezeki.
Setelah acara selesai, biasanya yang mempunyai hajat (dalam hal ini adalah tuan rumah atau ahli warisnya) menghidangkan makanan dan minuman kepada para undangan tahlil, sebelum pulang pun juga diberi berkat (makanan yang dibungkus untuk dibawa pulang) dengan maksud bersedekah. Suatu faedah acara tahlilan ini ialah kenyamanan dan akan memberikan suatu berkat atas Rahmat dan hidayah Allah swt yang dirasakan seseorang baik diperoleh dari amal salehnya selama hidup di dunia maupun atas pemberian hadiah dari orang lain melantunkan doa kepada orang yang dituju. Sehingga menghadiahkan pahala dimaksudkan untuk menjadikan ganjaran dari sebuah amal agar dapat dinikmati oleh orang lain yang dituju dan juga dapat dinikmati oleh orang yang membaca itu sendiri.
Acara Tahlilan dapat menggambarkan bagaimana penting dan hikmahnya tradisi tahlilan dalam mewujudkan solidaritas masyarakat. Ini juga menepis segolongan masyarakat Islam yang tak sependapat dengan tahlilan yang khas Indonesia , bahwa tahlilan hanya membuang-buang waktu, menghabiskan dana, dan merepotkan atau menambah beban pemilik hajat. Padahal secara normatif mengandung dasar hukumnya dan secara sosiologis akan meningkatkan solidaritas antar masyarakat, saling tolong-menolong dan memperkuat persatuan umat. Kalaupun ada keluarga yang kurang mampu, maka sanak keluarga lain membantu untuk memberi dana dan bersama-sama mengadakan acara tahlilan untuk kepentingan bersama. Sungguh ini memiliki nilai-nilai Islam yang terpancar penuh barokah di kehidupan masyarakat.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *