Tradisi Islam di Desa Sumbergede

NAMA : ANDESTA SUSANTI
NPM : 1602100005
PRODI : S1 PBS

Tradisi adalah kebiasaan yang telah dilakukan sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, baik dalam suatu negara, kebudayaan, waktu, atau agama. Hal yang paling mendasar dari tradisi adalah adanya informasi yang di teruskan dari generasi ke generasi, baik tertulis maupun lisan, karena tanpa adanya informasi tersebut, suatu tradisi dapat punah.
Contoh tradisi yang berhubungan dengan islami yang masih ada di sekitar rumahku adalah kenduri, selametan, kupatan, kembar mayang, tujuh bulanan (mitoni), tradisi turun tanah untuk bayi berumur tujuh bulan, marhabanan, dan suroan.

Yang pertama yaitu kenduri. Kenduri merupakan acara yang dilakukan sebuah keluarga yang akan memiliki hajat. Acara tersebut dilakukan dengan memberikan makanan yang telah di doakan bersama-sama untuk meminta keselamatan dan kelancaran atas hajatnya. Makanan kenduri didoakan bersama, kemudian dibagikan kepada para tetangga dan warga setempat. Kenduri yang sering ku jumpai di sekitar rumahku biasanya kenduri syukuran. Dengan tujuan mengucapkan syukur karena sebuah hal yang diinginkan tercapai. Misalnya syukuran karena sudah wisuda, atau biasanya syukuran karena di terima di sekolah yang diinginkan. Selain kenduri syukuran juga ada kenduri punggahan. Kenduri ini di tujukan sebagai doa untuk ahli kubur dari keluarga yang menggelar kenduri tersebut. Kenduri punggahan seperti kenduri ke-3 (kenduri telongdinanan), ke-7 (kenduri pitungdinanan), ke-40 (kenduri patangpuluhanI), ke-100 (kenduri nyatusan), ke-1000 (kenduri nyewu) hari wafatnya seseorang.

Kedua yaitu selametan. Selametan adalah sebuah tradisi yang di lakukan oleh masyarakat dengan tujuan untuk memperoleh keselamatan bagi orang yang bersangkutan. Acara selametan dimulai dengan doa bersama, duduk bersila dengan melingkari makanan. Tujuan selametan adalah bersyukur kepada Allah. Semoga dengan berkah-Nya, segala tugas akan dilaksanakan dengan selamat, baik, benar, dan membawa kesejahteraan dan kemajuan yang lebih baik. Di daerahku yang sering ku lihat selametan itu melakukan amalan-amalan seperti membaca ayat suci Al-qur’an dan juga tahlil. Dan selametan ini masih sering di lakukan.

Ketiga yaitu kupatan. Kupatan merupakan tradisi yang biasa dilakukan oleh masyarakat pada hari ke 8 setelah hari raya idul fitri, yakni membuat ketupat dan berdoa bersama di mushola atau di masjid. Setelah kita berpuasa selama 1 bulan dan 6 hari setelah lebaran, hal demikian bagaikan puasa satu tahun penuh. Ketupat berasal dari kata “ ja a nur “ yang berarti telah datang cahaya. Makna yang terkandung adalah bahwa umat muslim mengharapkan datangnya cahaya dari Allah SWT yang senantiasa membimbing mereka pada jalan kebenaran yang senantiasa diridhoi Allah. Di daerah rumahku sekarang sudah jarang orang melakukan tradisi ini, entah apa penyebabnya. Tetapi di daerah tempat nenek ku di Margamulya masih sering kutemui tradisi semacam ini.

Keempat yaitu kembar mayang. Kembar mayang ini sebagai elemen perlengkapan pengantin, di setiap bahan yang digunakan untuk membuat kembar mayang adalah simbol doa dan harapan keluarga terhadap jalannya sebuah prosesi perkawinan adat Jawa. Ada empat jenis janur yang terdapat dalam kembar mayang. Hal ini di maksudkan agar kedua mempelai berhati-hati dalam mengarungi kehidupan keluarga.janur yang di anyam seperti bentuk belalang memiliki makna agar tidak terjadi halangan dalam berkeluarga. Janur yang berbentuk payung bermakna pengayoman, dan janur yang berbentuk burung melambangkan kerukunan dan kesetiaan sebagaimana burung merpati. Di daerahku tradisi kembar mayang ini sudah jarang ku temui, namun di daerah Sumberagung di sekitar rumah saudaraku tradisi ini masih sering di lakukan. Biasanya tradisi kembar mayang ini di lakukan oleh orang yang adat Jawa yang masih kental dengan kepercayaan nya.

kelima yaitu tujuh bulanan (mitoni). Mitoni yaitu selamatan trhadap bayi yang masih berada dalam kandungan berumur tujuh bulan atau lebih. Dilaksanakan tidak boleh kurang dari tujuh bulan. Mitoni ini merupakan bentuk transformasi ajaran Islam melalui budaya dan tradisi yang berkembang dalam ajaran Hindu yang sudah terlebih dahulu dianut masyarakat Jawa.. Tujuan dari tradisi tujuh bulanan atau mitoni ini adalah agar supaya ibu hamil dijaga dalam kesejahteraan dan keselamatan. (wilujeng, santosa, jatmika, rahayu). Tradisi mitoni ini masih ada di sekitar rumahku, tapi sudah jarang.

Keenam yaitu tradisi turun tanah untuk bayi berumur tujuh bulan. Tradisi turun tanah ini yaitu bayi harus menginjak sejumlah kue ketan dan naik ke tangga. Setelah itu sang bayi dimasukkan kurungan ayam dari bambu yang berisi sejumlah mainan. Setelah memilih mainan, bayi di mandikan dengan air bunga, sesuai namanya saat itulah bayi dilambangkan untuk pertama kalinya menginjak tanah. Tujuan diadakannya tradisi turun tanah ini adalah agar anak tersebut setelah dewasa nanti menjadi kuat dan mampu berdiri sendiri dalam memikul tantangan dalam kehidupan yang akan dijalani dan tercapai cita-citanya. Di daerahku sudah jarang ku temui tradisi ini. Namun di daerah rumah nenekku di Marga mulya masih sering kutemui tradisi ini. Bahkan belum lama ini, ada keponakanku yang juga melakukan tradisi turun tanah ini saat berumur tujuh bulan.

Ketujuh yaitu tradisi marhabanan. Tradisi marhabanan ini dilakukan dengan mencukur rambut bayi yang berusia 40 hari. Dengan tujuan membersihkan atau menyucikan rambut bayi dari segala macam najis. Tradisi ini juga merupakan bentuk ungkapan syukuran atau terima kasih kepada Allah SWT yang telah mengkaruniakan seorang anak yang yang telah lahir dengan selamat. Marhabanan ini dilakukan dengan berdoa dan membaca al-berjanji atau disebut pujian, yaitu memuji sifat-sifat nabi Muhammad SAW. Budaya marhabanan ini masih ada dan sering ku temui di sekitar rumahku ini.

Kedelapan yaitu tradisi suroan. Tradisi suroan atau 1 Muharram ini merupakan tradisi tolak balak atau agar terhindar dari bencana, agar kehidupan mereka senantiasa aman, tentram, dan damai. Tradisi suroan ini ini dilakukan setiap malam 1 Muharram. Tradisi ini dilakukan di perempatan jalan. Setelah warga berkumpul, dilakukan tahlil dan doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh warga setempat. Makananannya setelah doa dibagikan kepada warga dan anak-anak yang ada disana, atau biasa dikenal dengan bancakan. Di daerahku sudah tidak ada lagi tradisi ini. Mungkin karena merejka sudah berfikir modern. Tetapi di daerah rumah nenekku di Margamulya, tradisi suroan ini masih dilakukan setiap tahunnya. Saya pun selalu ikut tradisi ini setiap malam 1 suro atau 1 Muharram di Margamulya.

Itulah contoh tradisi yang ada di daerah sekitar ku. Tradisi ini pada dasarnya adalah hasil karya, cipta, rasa, karsa manusia. Dan setiap tradisi memiliki mempunyai maksud tersendiri yang berisikan nilai-nilai. Nilai-nilai inilah yang mengambil peran penting dalam setiap langkah manusia dalam melakukan sesuatu. Namun nilai-nilai tersebut seharusnya jangan menyimpang dari ajaran Islam bahkan tidak diatur dalam Al-quran dan Al-hadist.

 

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *