Merayakan 1 Sura atau 1 Muharram di Perempatan

Merayakan satu sura diperempatan

 

Penduduk disekitar daerah saya masih melakukan tradisi kenduri satu sura diperempatan atau yang sering disebut dengan sura’an atau dalam bahasa jawa disebut suroan yang bertujuan untuk merayakan tahun baru 1 muharram sebagai tahun baru jawa. Mereka berbondong-bondong membawa nasi yang dibungkus dengan daun pisang yang dibentuk mangkuk yang dikancing dengan lidi disetiap ujungnya yang disebut juga takir, yang biasanya diisi mie goreng, tumis tempe atau tahu, dan lauknya telur dadar atau rempeyek. Setiap kepala keluarga membawa satu baskom yang berisi 6-8 takir lalu dikumpulkan ditengah-tengah kerumunan orang yang duduk dan membentuk lingkaran melingkari baskom takir-takir tersebut .

Biasanya salah seorang warga yang rumahnya dekat dengan perempatan sebagai tuan rumah untuk memasak makanan tambahan seperti ingkung ayam dan nasi gurih atau nasi uduk yang dibagikan saat acara makan-makan bersama, namun sebelum makan-makan bersama mereka diberikan siraman rohani menggunakan bahasa jawa halus yang dilakukan oleh orang petua atau pemandu acara yang sudah berumur lalu memanjatkan doa-doa dan surat pendek. Setelah melakukan doa-doa mereka makan bersama dan biasanya anak kecil yang diberi atau dipersilahkan untuk mengambil terlebih dulu takir tersebut, setiap orang mengambil satu takir jika masih sisa bisa mengambil lebih. Lalu setiap orang diberi nasi gurih dan potongan ingkung yang dibagikan secara rata dan mereka makan bersama-sama.

Saya tidak mengetahui sejak kapan itu dimulai namun sejak saya masih kecil tradisi itu sudah ada, dalam ajaran islam sebenarnya itu tidak diajarkan namun karena sudah tradisi sejak dulu maka masyarakat tidak bisa meninggalkan kebiasaan itu dan tetap menjalankannya sebagai mana mestinya.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *