Macam-Macam Wahyu dalam Islam

Tugas ini Disusun Guna Memenuhi Tugas Ujian Tengah Semester
Mata Kuliah Metodologi Studi Islam
Dosen Pengampu : M. Nasrudin, S.HI.M.H

Disusun Oleh :

Heni Sastika Astari 1602100130

Program Studi : S1 Perbankan Syari’ah

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) JURAI SIWO METRO
T.A 2016/2017

“MACAM-MACAM WAHYU DALAM ISLAM”
Diterimanya wahyu oleh Nabi Muhammad SAW merupakan peristiwa yang sangat besar. Turunnya merupakan peristiwa yang tidak bisa disangka-sangka. Menurut beberapa riwayat wahyu Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW adalah bermacam-macam:
A. Mimpi yang benar, dengan ini wahyu yang pertama kali diterima Rasulullah SAW. Sebelum beliau menerima wahyu Al-Qur’an seperti diterangkan dalam riwayat sebagai berikut.
Artinya : “Dari ‘Aisyah r.a., Ia berkata: “Awal wahyu yang dimulai dengannya Rasulullah SAW. Ialah mimpi yang benar di waktu tidur, lalu beliau tidak melihat dalam mimpinya itu, kecuali seperti (terangnya) cuaca di waktu pagi” (Muttafaq’alaih).
Wahyu dalam bentuk mimpi ini yang benar ternyata tidak hanya terjadi pada masa-masa awal Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi juga setelah beliau lama menjadi Nabi. Kebenaran ini dapat dipahami dari kalam Allah: (Suma: 2013, hal.85)
Artinya: “Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa Sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil haram, insya Allah dalam Keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.” (QS. Al-Fath [48] : 27).

B. Jibril menghembuskan (menghunjamkan) wahyu ke dalam jiwa Nabi Muhammad SAW, sedangkan Nabi sendiri tidak melihat Jibril. Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya Jibril telah mencampakkan kedalam jiwaku bahwasannya nafsu itu tidak akan putus sampai terpenuhi rezeki yang dikehendakinya. Maka bertaqwalah kamu kepada Allah SWT dan berlaku baiklah kamu dalam menuntut rezeki itu, dan janganlah kamu jadikan beban untuk menuntutnya dengan cara maksiat kepada Allah, karena sesungguhnya apa yang ada disisi Allah itu tidak dapat dituntut kecuali dengan taat kepada-Nya.” (Riwayat Ibnu Majah)

C. Wahyu itu datang kepada Nabi Muhammad bagaikan gemerincingnya suara lonceng atau suara lebah yang sangat keras. Wahyu dalam martabat inilah yang paling sedikit jumlahnya tetapi paling berat dirasakan oleh Nabi Muhammad SAW dalam menerimanya. (Suma: 2013, hal.86)

D. Jibril menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW, dengan menjelma sebagai seorang manusia. Diriwayatkan bahwa Jibril pernah datang kepada Nabi dalam rupa Dlihyah Ibn Khalifah (seorang lelaki yang sangat tampan rupanya). Kasus penjelmaan malaikat dalam bentuk manusia antara lain juga di alami oleh Nabi Luth a.s. sebagaimana dikisahkan dalam ayat ini:
Artinya: “Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, Dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan Dia berkata: “Ini adalah hari yang Amat sulit.” (QS. Hud [11]:77).
Artinya: “Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, Dia merasa susah karena (kedatangan) mereka, dan (merasa) tidak punya kekuatan untuk melindungi mereka dan mereka berkata: “Janganlah kamu takut dan jangan (pula) susah. Sesungguhnya Kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikutmu, kecuali isterimu, Dia adalah Termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan)” (QS. Al-Ankabut [29]:33).

E. Jibril datang kepada Nabi dalam bentuknya yang asli, kemudian Jibril menyampaikan wahyu Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Firman Allah SWT dalam QS. Al-Najm [53] : 1-14). (Mansyur: 2002, hal.56)

F. Allah SWT berbicara kepada Nabi Muhammad, secara langsung tanpa melalui Jibril sebagaimana Allah berbicara langsung kepada Nabi Musa a.s. Nabi Muhammad SAW. Pada malam hari diwaktu beliau Mi’raj seperti dalam riwayat peistiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW (QS. Al-Fathir [35]:1).
Artinya: “Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan Malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

G. Allah mencampakkan wahyu ke dalam jiwa Nabi Muhammad SAW. Secara langsung tanpa melalui malaikat Jibril, hal ini dapat dipahami dari surat Al-Syura’ ayat 51 yang mana telah diterangkan ketika membahas cara-cara wahyu Allah diturunkan kepada Nabi-nabi yang lain pada umumnya. (Hermawan: 2011, hal.17)
Artinya: “Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan Dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Syura’ [42]:51).

DAFTAR PUSTAKA
Muhammad Amin Suma. 2013. ‘Ulumul Qur’an. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Acep Hermawan. 2011. ‘Ulumul Qur’an. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Kahar Mansyur. 2002. Pokok-Pokok ‘Ulumul Qur’an. Jakarta: PT Rineka Cipta.

 

Catatan dosen

  1. Tema dan isi sudah masuk.
  2. Plagiasi sampai 53%

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *