Ijtihad sebagai Sumber Hukum Islam

IJTIHAD SEBAGAI SUMBER HUKUM ISLAM
15 November 2016
Ulil Af`idah
Syariat islam yang disampaikan dalam Al-Qur’an dan Hadis memerlukan penelaahan dan pengkajian ilmiah yang sungguh-sungguh serta berkesinambungan, karena penjelasan yang ada didalamnya bersifat komperhensif. Oleh karena itu diperlukan usaha penyelesaian secara sungguh-sungguh atas persoalan yang tidak ditunjukan secara tegas oleh isi tertentu didalamnya. (Mubarok: 2012, 95)
Sebagian besar ketentuan-ketentuan muamalat yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits bersifat umum. Sedangkan dalam pelaksanaanya di masyarakat selalu berkembang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Oleh karena, itu ayat dan hadits hukum yang menjadi objek ijtihad hanyalah kalimat yang menunjukan arti atau pengertian lebih dari satu, yang masih mungkin ditafsirkan dengan makna yang berbeda-beda pula. (wirdyaningsih: 2013, 45)
Ijtihad sendiri adalah suatu usaha atau ikhtiar yang sunguh-sungguh oleh para ahli hukum yang telah memenuhi syarat menjadi mujtahid untuk mencari hukum yang belum jelas dalam Al-Qur’an dan Hadist namun tetap berpedoman pada ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah S.A.W.
Ijtihad sangat penting dalam dinamika kehidupan ini, khususnya umat islam. Adapun fungsi ijtihad antara lain:
1. Ijtihad merupakan sumber hukum islam yang ketiga setelah Al-Qur’an dan hadis.
2. Ijtihad berfungsi sebagai wadah pemikiran kaum muslim dalam mencari jawaban dari masalah-masalah dalam bidang akidah dan muamalat, masalah mengenai program pembangunan negara dan bangsa, masalah tentang isu-isu yang berkembang dalam masyarakat, dan kejadian yang tidak ada pada zaman Rasulullah.
3. Ijtihad merupakan sarana untuk menyelesaikan persoalan baru yang muncul dengan tetap berpedoman pada Al-Qur’an dan Hadis.
4. Ijtihad berfungsi juga sebagai cara agar umat muslim dapat menyesuaikan adanya perubahan-perubahan dimasa modern ini dengan ajaran-ajaran islam.
Dalam ijtihad terdapat metode-metode untuk merumuskan undang-undang baru. Metode-metode yang digunakan untuk berijtihad antara lain sebagai berikut: (Maulana Muhammad: 2013, 103-105)
1. Qiyas
Qiyas memiliki makna mengukur, menimbang dengan membandingkan sesuatu. Para Fuqaha (ahli hukum) menerapkan Qiyas itu pada “proses deduksi (menarik kesimpulan), yang dengan ini teks undang-undang diterapkan pada suatu perkara, walaupun tak dijelaskan oleh bahasa undang-undangitu, tetapi dipengaruhi oleh kesimpulan teks itu”
2. Istihsan dan Istishlah
Istihsan ialah menganggap baik suatu barang atau menyukai barang itu. Menurut madzhab Hanafi, ika suatu hukum Qiyas tak dapat ditrima karena bertentangan dengan aturan keadilan yang lebih luas atau bukan demi kesejahteraan umum, dan orang yang yang dikeakan hukum Qiyas itu barangkali akan mengalami kesusahan yang tak semestinya, maka hakim diperbolehkan untuk menolak hukum Qiyas, dan sebagai gantinya, ia boleh mengambil aturan yang berguna bagi kesejahteraan umum, atau aturan aturan yang seirama dengan aturan keadilan yang lebih luas. Aturan semacam ini juga digunakan oleh madzhab maliki yang disebut Istishlah, yang artinya suatu hukum yang diambil dengan menarik kesimpulan atas dasar pertimbangan kesepakatan umum.
3. Istidal
Yaitu merumuskan suatu hukum dengan menarik kesimpulan suatu perkara dari Sesutu yang lain. Semisal: adat dan kebiasaan yang lazim di tanah Arab pada waktu datangnya islam yang tidak dihapus oleh islam mempunyai kekuatan hukum. Demikian pula adat dan kebiasaan yang lazim dimana-mana, jika itu tak bertentangan dengan jiwa ajaran Al-Qur’an, atau terang-terangan tak dilarang Al-Qur’an, ini juga diperbolehkan karena menurut para ahli, “diizinkan sesuatu (al-ibahatu) karena prinsip keasliannya”, oleh karena itu apa yang dinyatakan tidak haram itu diperbolehkan.
4. Ijma’
Ijma’ mempunyai dua makna yaitu menyusun dan mengatur suatu hal yang tak teratur, oleh sebab itu berarti pula sepakat atau bersatu dalam pendapat. Kemudian ijma’ berarti kesepakatan pendapat antara para mujtahid, atau persetujuan pendapat di antara para ulama fiqih dari abad tertentu mengenai masalah hukum.
ULIL AF`IDAh
1602100075
Mahasiswi semester 1 prodi S1 Perbankan Syariah Kelas B IAIN METRO
DAFTAR PUSTAKA
Hakim,Abd Atang, Jaih Mubarok. 2012. Metodologi Studi Islam. Bandung: Rosda
Ali, Maulana Muhammad. 2013. Islamologi (Dinul Islam). Jakarta Pusat: Darul Kutubil Islamiyah
Dewi,Gemala, Wirdyaningsih, yeni salma barlinti. 2013. Hukum Perikatan Islam di Indonesia: Kencana

 

Catatan dosen

  1. Tema sudah oke, isi juga sudah masuk.
  2. Plagiasi hanya 24%, ditoleransi. 
  3. Identitas buku ini apa? (Mubarok: 2012, 95) (wirdyaningsih: 2013, 45)
  4. Dua judul buku ini tidak dikutip kok muncul di daftar pustaka?

Hakim,Abd Atang, Jaih Mubarok. 2012. Metodologi Studi Islam. Bandung: Rosda
Dewi,Gemala, Wirdyaningsih, yeni salma barlinti. 2013. Hukum Perikatan Islam di Indonesia: Kencana

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

One thought on “Ijtihad sebagai Sumber Hukum Islam”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *