Fiqh Muamalah

A. Pengertian

1. Pengertian Fiqh
Kata fiqh (فقه) secara arti kata berarti: “paham yang mendalam”. Semua kata “fa qa ha” yang terdapat dalam Al-Qur’an mengandung arti ini. (Syarifuddin: 2003.4) Sesuai dengan arti fiqh dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
مَنْ يُرِدِاللهَ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ
Artinya:
“Barang siapa yang dikehendaki Allah menjadi orang yang baik di sisi-Nya, niscaya diberikan kepada-Nya pemahaman (yang mendalam) dalam pengetahuan agama.”(Syafei: 2001.13)
Secara ringkas dapat dikatakan bahwa fiqh itu adalah “dugaan kuat yang dicapai seseorang dalam usahanya menemukan hukum Allah. (Syarifuddin: 2003.4)

2. Pengertian Muamalah
Menurut etimologi, kata muamalah (اَلْمُعَا مَلَةُ) adalah bentuk masdar dari kata ‘amala (عَا مَلَ – يُعَا مِلُ – مُعَا َةً) wajarnya adalah ( مُفَاعَلَةٌ – يُفَاعِل -فَاعَلَ) yang artinya saling bertindak, saling berbuat, dan saling beramal. (Syafei: 2001.14) Lebih sederhanaya lagi berarti “hubungan antara orang dengan orang.” Bila kata ini dihubungkan kepada lafaz fiqh, mengandung arti aturan yang mengatur hubungan antara seseorang dengan orang lain dalam pergaulan hidup didunia. (Syarifuddin: 2003.175)
Khalid bin ‘Ali mendefinisikan muamalah secara bahasa:
جمع معاملة؛ وهى مآخوذة من العمل وهو لفظ عام فى كل فعل ىقصده المكلف
“Mu’amalat merupakan jama’ dari kata mu’amalah, yang terambil dari kata ‘al-‘amal’ yaitu kata umum yang mencakup setiap tindakan yang dilakukan oleh orang mukallaf.”(Mustofa: 2014.4)

3. Pengertian Fiqh Muamalah
Pengertian fiqh muamalah menurut terminologi dapat dibagi menjadi dua.
a. Pengertian Fiqh Muamalah dalam arti luas
Definisi yang dikemukakan oleh para ulama tentang definisi fiqih muamalah adalah:
1) Menurut Ad-Dimyati:
“Aktivitas untuk menghasilkan duniawi menyebabkan keberhasilan masalah ukhrawi.”
2) Menurut Muhammad Yusuf Musa:
“Peraturan-peraturan Allah yang diikuti dan ditaati dalam hidup bermasyarakat untuk menjaga kepentingan manusia.”
Dari dua pengertian di atas, dapat diketahui bahwa fiqih muamalah adalah aturan-aturan (hukum) Allah SWT. Yang ditujukan untuk mengatur kehidupan manusia dalam urusan keduniaan atau urusan yang berkaitan dengan urusan duniawi dan sosial kemasyarakatan.
b. Pengertian Fiqh Muamalah dalam arti sempit
1) Menurut Hudhari Beik:
“Muamalah adalah semua akad yang membolehkan manusia saling menukar manfaat.”
2) Menurut Idris Ahmad:
“Muamalah adalah aturan Allah yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dalam usahanya untuk mendapatkan alat-alat keperluan jasmaninya dengan cara yang paling baik.”
3) Menurut Rasyid Ridha:
“Muamalah adalah tukar-menukar barang atau sesuatu yang bermanfaat dengan cara-cara yang telah ditentukan.”

Kalau pengertian ketiga definisi ditelaah secara seksama fiqih muamalah dalam arti sempit menekankan keharusan untuk menaati aturan-aturan Allah yang telah ditetapkan untuk mengatur hubungan antara manusia dengan cara memperoleh, mengatur, mengelola dan mengembangkan mal (harta benda).(Rachmat Syafei: 2001.14)
Jadi fiqih muamalah berarti serangkaian aturan hukum Islam yang mengatur pola akad atau transaksi antar manusia yang berkaitan dengan harta.

 

B. Karakteristik Muamalah dalam Islam
Muamalah sangat menentukan keberlangsungan hidup manusia dan kehidupan masyarakat. Muamalah dalam Islam mempunyai beberapa karakteristik yaitu:
1. Fiqih Muamalah dalam Islam berlandaskan pada asas-asas dan kaidah umum.
2. Hukum dasar muamalah adalah halal.
3. Fiqih Muamalah dalam Islam bertujuan untuk menciptakan kemaslahatan.
4. Fiqih Muamalah dalam Islam mencakup hal-hal yang bersifat tetap (سَبَدْ) dan murunah atau menerima perubahan.

Adapula karakteristik muamalah dalam Islam yang biasa disebut dengan istilah Ekonomi Islam, yaitu :
a. Bersumber dari Allah.
b. Mempunyai tujuan yang bersifat ketuhanan.
c. Integrasi antara hal yang statis dan yang menerima perubahan.
d. Moderasi antara materi dan immateri.
e. Moderasi antara kemaslahatan individu dan kemaslahatan kolektif.
f. Kontekstual.
g. Alamiah.(Mustofa: 2014.6)
C. Pembagian Fiqih Muamalah
Penetapan pembagian fiqih muamalah yang dikemukakan para ulama fiqih sangat berkaitan dengan definisi fiqih muamalah yang mereka buat yaitu dalam arti luas atau dalam arti sempit. Ibn Abidin, salah seorang yang mendefinisikan fiqih muamalah dalam arti luas, membaginya menjadi lima bagian:
1. Muawadhah Maliyah (Hukum Kebendaan)
2. Munakahat (Hukum Perkawinan)
3. Muhasanat (Hukum Acara)
4. Amanat dan ‘Aryah (Pinjaman)
5. Tirkah (Harta Peninggalan)
Sedangkan Al-Fikri, dalam kitab Al-Muamalah Al-Madiyah, wa Al-Adabiyah, membagi fiqih muamalah menjadi dua bagian:
a. Al-muamalah al-madiyah adalah muamalah yang mengkaji segi objeknya, yaitu benda. Sebagian ulama berpendapat bahwa muamalah al-madiyah bersifat kebendaan, yakni benda yang halal, haram dan syubhat untuk dimiliki, diperjualbelikan atau diusahakan, benda yang menimbulkan kemadaratan dan mendatangkan kemaslahatan bagi manusia dan lain-lain.
Dengan kata lain, al-muamalah al-madiyah adalah aturan-aturan yang telah ditetapkan syara’ dari segi objek benda. Oleh karena itu, berbagai aktivitas muslim yang berkaitan dengan benda, seperti al-bai’ (jual-beli) tidak hanya ditujukan untuk memperoleh keuntungan semata, tetapi lebih jauh dari itu, yakni untuk memperoleh ridha Allah. Konsekuensinya, harus menuruti tata cara jual-beli yang telah ditetapkan syara’.
b. Al-Muamalah Al-Adabiyah
Al-muamalah Al-adabiyah maksudnya, muamalah ditinjau dari segi cara tukar-menukar benda, yang sumbernya dari panca indera manusia, sedangkan unsur-unsur penegaknya adalah hak dan kewajiban, seperti jujur, hasud, iri, dendam, dan lain-lain.
Dalam bahasa yang lebih sederhana, al-muamalah al-adabiyah adalah aturan-aturan Allah yang berkaitan dengan aktivitas manusia dalam hidup bermasyarakat yang ditinjau dari segi subjeknya, yaitu manusia sebagai pelakunya. Dengan demikian maksud adabiyah antara lain bekisar dalam keridaan dari kedua belah pihak yang melangsungkan akad, ijab kanul, dusta dan lain-lain.
Pada prakteknya al-muamalah al-madiyah dan al-adabiyah tidak dapat dipisahkan.(Rachmat Syafei: 2001.16)

 

D. Yang terkait dengan Mumalah
1. Sosial Ekonomi
a. Jual Beli (al-bai’ al-tijarah)
Artinya menjual atau menukar sesuatu dengan sesuatu yang lain. Kata al-bai’ dalam bahasa arab juga berarti beli.
Ulama Hanafiyah mendefinisikannya :
مُبَادَلَةٌ مَالٍ بِمَالٍ عَلَلى وَجْهٍ مَخْصُوْصٍ
“saling menukar harta dengan harta melalui cara tertentu.”(Nasrun Haroen: 2007.111)
Supaya jual beli berlangsung harus mengikuti rukun dan syarat yang telah ditentukan, rukun yang pokok dalam jual beli adalah ijab dan qabul. Ijab itu ungkapan membeli dari pembeli, qabul itu pernyataan menjual dari penjual. Jadi ijab qabul adalah ucapan penyerahan hak milik dari satu pihak dan ucapan penerimaan di pihak lain.
Syarat yang harus dipenuhi oleh penjual dan pembeli adalah ijab dan qabul dilakukan dengan sadar dan sengaja oleh orang yang berakal sehat.(Amir Syarifuddin: 2003.192)
Dasar jual-beli itu yaitu kejujuran yang tanpa diiringi kecurangan. Hukum dalam jual beli itu mubah (boleh) tetapi pada situasi tertentu akan menjadi hukum yang wajib.(Nasrun Haroen: 2007.113)
b. Gadai (rahn)
Ar-Rahn yang berarti jaminan, sebenarnya merupakan sarana tolong menolong bagi umat Islam, tanpa adanya imbalan jasa. Berdasarkan petunjuk Allah dalam Al-Qur’an dan dari penjelasan nabi hukumnya mubah.
Rukun dan sayaratnya yaitu shigat (lafal ijab dan qabul), orang yang berakad atau orang yang baligh dan berakal (al-murtahin), dan harta yang dijadikan agunan (al-marhun). (Nasrun Haroen: 2007.251)
c. Pemindahan Utang (al-hiwalah)
Al-Hiwalah berarti pengalihan dan pemindahan. Pemindahn utang (al-hiwalah) adalah pemindahan hak menuntut utang kepada pihak lain (ketiga) atas dasar persetujuan dari pihak yang memberi utang. (Nasrun Haroen: 2007.221)
d. Kerjasama Bagi Hasil (al-mudharabah)
Adalah kerjasama dua pihak yang satu menyerahkan uang kepada pihak lain untuk diperdagangkan, sedangkan keuntungannya dibagi dua sesuai kesepakatan. (Amir Syarifuddin: 2003.244)
e. Kerjasama dalam modal usaha (Syirkat ‘Inan)
Kerjasama antara beberapa orang pemilik modal dengan cara menyerahkan modal masing-masing dan dalam usaha bersama baik dalam perdagangan atau industri.
f. Perseorangan atau perkongsian (asy-syirkah)
Asy-syirkah berarti percampuran, definisinya adalah adanya kerjasama antara dua orang atau lebih dalam perdagangan. (Nasrun Haroen: 2007.165)
g. Sewa-menyewa (al-ijaroh)
Al-Ijaroh dalam bahasa arab yaitu upah, sewa atau imbalan. Definisinya adalah menyerahkan suatu wujud barang atau transaksi untuk memenuhi hidup manusia dan bermanfaat untuk manusia. (Nasrun Haroen: 2007.228)
h. Utang piutang (al-qardhu)
Al-qrdhu adalah utang piutang, definisinya adalah penyerahan harta berbentuk uang untuk dikembalikan pada waktunya dan dengan nilai yang sama.(Amir Syarifuddin: 2003.222)
i. waqaf (waqaf)
kata waqaf berarti menghentikan. Maka waqaf diartikan pengalihan hak atas suatu harta dan menggunakan hasilnya untuk kepentingan umum sebagai bentuk pendekatan dirinya kepada Allah. (Amir Syarifuddin: 2003.233)
j. Wasiat (wasiat)
Adalah penyerahan harta kepada pihak lain dan berlaku setelah mati pemiliknya. (Amir Syarifuddin: 2003.236)
k. Pemberian (al-hibbah)
Adalah penyerahan pemilikan sepenuhnya kepada pihak lain tanpa imbalan tertentu. Syaratnya adalah baligh dan berakal sehat. Sesuatu yang telah diberikan tidak boleh ditarik kembali.(Amir Syarifuddin: 2003.230)
l. Pengampunan (al-hajr), damai (ash-shulhu)
Secara etimologi al-hajr berarti larangan. Definisinya adalah larangan yang berkaitan dengan pribadi tertentu dalam tindakan hukum tertentu. (Nasrun Haroen: 2007.200)
m. Kerjasama dalam modal dan usaha (Syirkah Mufawadhah)
Adalah kerjasama yang disyaratkan pada modal dan sama dalam berusaha, dan keuntungan dibagi sesuai dengan kadar modal dan usaha yang disertakannya.(Amir Syarifuddin: 2003.249)
n. Kerjasama dalam usaha atau serikat usaha (Syirkah Abdan)
Adalah kesepakatan dua orang atau lebih menerima dan melaksanakan pekerjaan dan hasil pekerjaan itu di bagi dengan anggotanya. (Amir Syarifuddin: 2003.250)
o. Serikat Wibawa (Syirkah Wujuh)
Kata wujuh yang artinya wibawa atau kepercayaan, dua orang atau lebih dari orang-orang yang disegani oleh masyarakat dan mendapat kepercayaan dari pedagang, namun tidak memiliki modal usaha. Memperdagangkan barang dari pemilik dagangan untuk diperdagangkan.(Syarifuddin: 2003.251)

2. Sosial politik
a. Jinayah
Adalah ketentuan berdasarkan wahyu Allah dan mengatur kehidupan manusia dalam hubungannya dengan Allah dan sesama manusia.
Jinayah secara khusus mengatur tentang pencegahan tindak kejahatan yang dilakukan manusia dan sanksi dari kejahatan itu. Jinayah ini tentang bentuk-bentuk tindak kejahatan yang dilarang Allah dan akibatnya akan dirasakan adalah azab dari Allah di akhirat.
Sanksi atas kejahatan itu seperti: qisas (hukuman mati), rajam, jilid (hukum cambuk) dan penghilangan anggota tubuh. Adapun hukuman tambahannya adalah hilang hak kewarisan.
Jinayah dikelompokkan menjadi 3:
1) Qisas-diyat, yaitu tindak kejahatan dengan sanksi hukuman yang setimpal (qisas) dan denda darah (diyat). Yang termasuk dalam kelompok ini seperti: pembunuhan, penghilangan anggota tubuh.
2) Hudud, yaitu kejahatan yang hukumannya yang ditetapkan secara pasti oleh Allah. Yang termasuk kelompok ini adlah: pencurian, perzinaan, minum-minuman keras, dan murtad.
3) Ta’zir, yaitu kejahatan lain yang tidak ada hubungannya dengan qisas-diyat dan hudud. Hukumannya ditetapkan oleh imam atau penguasa. (Amir Syarifuddin: 2003.200)

3. Keluarga
a. Munakahat (perkawinan)
Dalam bahasa arab disebut dengan dua kata yaitu nikah dan zawaj yang artinya bergabung, akad.
Munakahat termasuk dalam lingkup muamalah yang artinya hubungan antar sesama manusia, karena mengatur hubungan suami dengan istri dan antara keduanya dengan anak-anak yang lahir.
Rukun dan syarat perkawinan
1) Akad nikah
Adalah perjanjian anatara dua belah pihak dalam bentuk ijab dan qabul. Ijab penyerahan dari pihak pertama atau wali perempuan, qabul penerimaan dari pihak kedua atau pihak suami.
2) Laki-laki dan perempuan yang nikah
Karena dalam Islam hanya mengakui perkawinan laki-laki dan perempuan.
3) Wali
Seseorang yang bertindak atas nama mempelai perempuan dalam suatu akad nikah.
4) Kerelaan perempuan untuk dinikahkan
wali mesti meminta kerelaan dari calon perempuan yang akan diikahkan.
5) Mahar
Pemberian khusus laki-laki kepada perempuan pada waktu akad nikah.

Hukum nikah itu adalah:
a) Jaiz (diperbolehkan)
b) Sunat, bagi orang yang akan memberi nafkah dan lain-lainnya.
c) Wajib, bagi orang yang akan menafkahi dan dia takut akan tergoda pada kejahatan (zina)
d) Makruh, bagi orang yang memberi nafkah
e) Haram, bagi orang yang berniat akan menyakiti perempuan yang dinikahinya.

b. Perceraian
Berarti berakhirnya hubungan suami istri. Dalam hal putusnya hubungan suami istri ada 4 kemungkinan :
1) Atas kehendak Allah, melalui matinya sala seorang suami istri.
2) Atas kehendak suami, karena alasan tertentu dan dengan ucapan tertentu yang disebut talak. Talak adalah lepas dari sebuah ikatan suami istri.
3) Atas kehendak hakim sebagai pihak ketiga, karena tidak dapat melanjutkan hubungan perkawinan.
c. Kewarisan
Warisan atau faraidh yang berarti membicarakan peralihan harta dari orang yang telah mati kepada orang yang masih hidup.
1) Hubungan kewarisan
a) Hubungan kekerabatan atau hubungan darah. Bersifat alamiah yang ditentukan oleh kelahiran, seseorang yang dilahirkan oleh seorang ibu dan dari hasil pernikahan ibunya dan ayahnya.
b) Hubungan perkawinan. Jika seorang laki-laki telah sah menikah dengan seorang perempuan maka diantara mereka terdapat hubungan kewarisan.
c) Hubungan pemerdekaan hamba. Hubungan dengan seorang hamba sahaya yang telah dimerdekakan.
d) Hubungan sesama Islam. Orang yang meninggal dan sama sekali tidak meninggalkan ahli waris, sehingga harta peninggalannya dimasukkan ke dalam baitul mal atau pembendaharaan umat Islam, yang digunakan untuk umat Islam.
2) Rukun dan syarat kewarisan
a) Orang yang telah mati dan meninggalkan harta, dan akan beralih kepada orang yang masih hidup yang disebut pewaris.
b) Harta yang beralih dari orang yang mati kepada yang masih hidup disebut harta warisan.
c) Orang yang berhak menerima harta yang ditinggalkan oleh orang yang sudah mati disebut ahli waris.( Amir Syarifuddin: 2003.147)

 

Rujukan
Syarifuddin,Amir.2003.Garis-Garis Besar Fiqh.Jakarta:Prenada Media.
Haroen,Nasrun.2007.Fiqh Muamalah.Jakarta:Gaya Media Pratama
Mustofa,Imam.2014.Fiqh Muamalah Kontemporer.Metro:STAIN Jurai Siwo Metro
Syafe’i,Rachmat.2001.Fiqih Muamalah.Bandung: CV. Pustaka Setia

Penulis : Lutfi Khoiriah
Semester 1 kelas B
Prodi Perbankan Syariah
IAIN Metro

 

Catatan dosen

  1. Tulisan sudah bagus,  tinggal pola perujukannya yang perlu perbaikan. Gunakan hanya nama terakhir penulis.
  2. Plagiasi hanya 22%,  ditoleransi.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *