Karakteristik Islam dalam Kultur Teks

Islam tidak dapat dilepaskan dari teks, peradaban Islam-Arab sebagai peradaban teks. Teks yang memiliki sentral penting bagi umat islam adalah Al-Qur’an dan Hadits. Dari kedua hal ini diyakini oleh umat islam sebagai sumber utama hukum islam yang merangkum semua persoalan baik persoalan ritual keagamaan maupun sosial kemasyarakatan, karena itulah kedua sumber ini menduduki posisi yang sangat penting dalam kajian hukum islam.

Al-quran pada zaman Rasulullah hanya berupa teks-teks yang ditulis pada pelepah kurma, batu, kulit-kulit, atau tulang belulang dan lalu pada masa khalifah Abu bakar Al-quran disatukan dalam satu Mushaf yang dilakukan oleh Zaid bin Sabit, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’ab dan Usman bin Affan.(Zuhairini,dkk, 2013:78).

Maka berkembanglah studi tentang Al-quran baik dari segi kandungan ajarannya yang menghasilkan kitab-kitab tafsir yang disusun dengan menggunakan berbagai pendekatan maupun dari segi metode dan coraknya yang bervariasi. Sehubungan dengan itu ulama juga mulai menggunakan metode analisi ayat per ayat dan menimbulkan ilmu asbab al-nuzul yang digunakan untuk mengetahui latar belakang dan sejarah diturunkannya Al-quran. Dalam hal ini juga para ulama mengkaji petunjuk cara membaca Al-quran yang selanjutnya menimbulkan ilmu qira’at termasuk ilmu tajwid. Semua itu dilakukan oleh para ulama dengan maksud agar umat islam dapat mengenal secara menyeluruh berbagai aspek yang berkenaan dengan Al-quran. Al-quran yang kita baca sekarang ini adalah otentik dan tidak berbeda sedikit pun dengan apa yang diterima dan dibaca oleh Rasulullah saw.,lima belas abad yang lalu. (Shihab, 1992:34).

Sedangkan hadits pada masa Rasulullah, hadits belum ditulis atau dibukukan dan hanya berupa hafalan. Sejak wafatnya nabi Muhammad pada tahun 11 H atau 632 M. Para sahabat dan umat islam mendorong para sahabat saling tukar hadits dan menggali dari sumbernya. Adapun bentuk hadits yaitu hadits berupa ucapan (hadits qawlf), hadits yang berupa perbuatan (hadits fi’il), hadits berupa pesetujuan (hadits taqriri), hadits berupa hal ihwal (hadits ahwali) dan hadits berupa cita-cita (hadits hammi). Adapun posisi hadits dengan Al-quran yaitu merupakan pedoman hidup dan sumber ajaran Islam antara keduanya tidak dapat dipisahkan. Al-quran sebagai sumber yang memuat ajaran-ajaran yang bersifat umum dan global yang perlu dijelaskan lebih lanjut dan terperinci. Dan disinilah hadits menempati posisi sebagai penjelas dari Al-Qur’an.(Idri, 2010:28)

Pada masa peradaban islam juga tidak terlepas dari perkembangan ilmu pengetahuan, filsafat, dan ilmu-ilmu lainnya. Pada awalnya, perkembangan ilmu masih belum jelas bagi kaum muslimin namun seiring perkembangan ilmu pengetahuan dalam dunia Islam maka perkembangan ilmu tersebut terbagi menjadi dua bidang ilmu yaitu ilmu-ilmu naqli dan ‘aqli. (Fadil, 2008:160)
Dalam bidang ilmu naqli, maka yang berkembang adalah Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, Ilmu Kalam, Ilmu Tasawuf, Ilmu Fiqh/Ilmu Ushul Fiqh dan lain-lain sebagainya. Sedangkan dalam bidang ilmu ‘aqli yaitu Filsafat, Al-Thib (Kedokteran), Farmasi dan kimia,Ilmu Hitung (Matematika), Ilmu Tarekh (Sejarah) dan Ilmu Jughrafia (Geografi).

Adapun kota-kota yang menjadi pusat kegiatan ilmu adalah Mekkah, Madinah, Kufah, Damaskus, Fusthath, Kairawan, Cordoba, Baghdad, Isfaham dan sebagainya

Rujukan
Shihab,Quraish.1992.Membumikan Al-quran. Bandung: PT Mizan Pustaka
Idri.2010.Studi Hadits. Jakarta: Kencana
Zuhairini,dkk.2013.Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: PT Bumi Aksara
Fadil.2008.Pasang Surut Peradaban Islam dalam Lintasan Sejarah.Malang: UIN-Malang Press (Anggota IKAPI)

NAMA PENULIS : DONI REINALDO
NPM : 1602100110
PRODI : S1 Perbankan Syariah Semester 1 Kelas A

 

Catatan dosen

  1. Tulisan sudah bagus. Pola pengutipan hanya cantumkan nama terakhir.
  2. Plagiasi hanya 12%, ditoleransi.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *