Epistimologi Irfani dalam Islam

Kata Irfani berasal dari bahasa arab a’raf semakna dengan ma’rifat berarti pengetahuan. Tetapi ia berbeda dengan ilmu-ilmu Irfani atau makrifat berkaitan dengan pengetahuan yang di dapat secara langsung melalui pengalaman, sedang ilmu menunjuk pada pengetahuan yang diperoleh lewat rasionalitas atau transformasi. Kata Irfani atau ma’rifah juga dikenal dalam kalangan sufi muslim (al-mutasawwifah al-islamiyyin) untuk menunjukkan jenis pengetahuan yang paling luhur dan tinggi yang hadir melalui kasyf atau ilham. Epistemologi ‘Irfani adalah pengetahuan yang di dapat melalui olah ruhani dimana dengan kesucian hati, diharapkan Tuhan akan melimpahkan pengetahuan langsung kepadanya. Dari disitu kemudian dikonsepsikan atau masuk ke dalam pikiran sebelum dikemukakan kepada orang lain.

Sumber dalam Epistemologi Irfani
Irfani berasal dari sumber-sumber Yunani,
Irfani berasal dari sumber-sumber Kristen,
Irfani ditimba dari India,
Berasal dari sumber Persia dan Majusi,

Fase-fase yang yang pernah dialami oleh epistimologi irfani meliputi banyak fase yaitu fase tentang pertumbuhan epistimologi irfani, fase kemunduranya irfani, fase pembibitan irfani, fase kelahiran dan yang terakhir fase puncaknya epistimologi irfani yang dimana terjadi pada abad ke 5 hijriah periode ini mencapai periode yang sangat gemilang.
a. Fase pertumbuhan epistimologi irfani terjadi abad 3-4 hijrah. Sejak awal abad ke-3 H, para tokoh-tokoh sufisme mulai menaruh perhatian kepada hal yang berkaitan dengan tingkah laku manusia dan jiwa manusia. Sehingga sufisme menjadi ilmu keagamaan bermoral (akhlaq). Pembahasan masalah ini membahas soal pengetahuan intuitif berikut sarana dan metodenya, dari perbincangan-perbincangan seperti ini kemudian tumbuh pengetahuan irfani.

b. Fase kemunduran irfani

Terjadi sejak abad ke-8 H. Sejak abad itu, irfani tidak mengalami perkembangan berarti, bahkan justru mengalami kemunduran para tokohnya dan lebih menekankan bentuk ritus dan formalisme, dan lebih cenderung pada pemberian komentar atas karya-karya terdahulu.

c. Fase kelahiran epistimologi irfani

Terjadi pada abad kedua hijrah. Pada masa ini, beberapa tokoh sufisme mulai berbicara terbuka tentang irfani. Karya-karya tentang irfani diawali Ri`ayat Huquq Allah karya Hasan Basri (642-728 M) yang dianggap sebagai tulisan pertama tentang Irfani,

d. Fase puncak epistimologi ifani

Terjadi pada abad ke-5 H. Pada periode ini Irfani mencapai masa gemilang. Banyak pribadi besar yang lahir dan menulis tentang Irfani, antara lain, Said Abu Khair (w. 1048 M) yang menulis Ruba`iyat, Ibn Utsman al-Hujwiri (w. 1077 M) menulis Kasyf al-Mahjûb. Dari banyak nya penulis tersebut dari periode ini mencapai masa yang sangat gemilang dan fase puncaknya terjadi di periode ini.

Itulah fase-fase yang terjadi dalam sejarah perkembang epistimologi irfani dalam islam, yang meliputi fase pertumbuhan, kemunduran, kelahiran, dan fase puncak perkembangnya epistimologi irfani dalam islam.

Rujukan
Mehdi Hairi Yazdi. 2000.“Peta Epistemologi Islam menurut Muhammad ‘Abid al-Jabiri”, Bandung:Pustaka.
Abuddin,Nata. 2004.Metodologi Studi Islam.
Jakarta: Raja Grafindo Persada.

 

Nama Penulis : Galang Satrio Sampurno
Mahasiswa Semester 1 Kelas B
Prodi Perbankan Syariah IAIN Metro

 

Catatan dosen

  1. Tulisan sudah bagus. Hanya saja pengutipan masih belum ada.
  2. Plagiasi hanya 23%, ditoleransi.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *